Vivere Viruscoloso

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Sebenarnya ciptaan siapa Virus Corona itu? Begitu hebohnya. Dan dampak paling nyata, fenomena globalnya, terutama pertumbuhan ekonomi melambat di semua negara, di semua sektor. Dalam situasi seperti itu, siapa paling merugi, siapa paling teruntungkan?

Yang paling merugi tentu yang sama sekali tak punya back-up ekonomi. Yang paling untung, setidaknya tak rugi, mereka yang punya cadangan ekonomi. Sama halnya kita. Dalam situasi kek gini, yang punya simpenan uang tentu bisa senyam-senyum. Jika pun melakukan panic-buying, bukan karena panicnya yang menyebabkan buying, tapi karena money. Nggak punya money, poyang-paying meneketehe. Masyarakat yang nggak gableg duit, kaum proletar, bisa belanja besar-besaran menguras isi toko atau super-market, nunggu peristiwa chaos kayak Kerusuhan Mei di Jakarta dulu, menjelang longsornya Soeharto.

 

Indonesia yang semula optimistis menghadapi perubahan global dan kompetisi ekonomi, kini jadi nelangsa. Hingga Jokowi mau bagi-bagi duit pada influencer, bagaimana agar akibat virus Corona tidak ngawut-awut anggaran negara. Tapi karena batal terima duit, apakah para influencer ogah-ogahan menginfluens orang? Jika iya, mereka tak patut disebut influencer. Berbuat baik untuk modus, itu mental pengecer, pencari receh biasa. Kalau Jokowi mau ngasih duit ke influencer, dia mengkhianati janji untuk membangun SDM! 

Wong meski dihantam badai Corona, melihat berbagai postingan di fesbuk, juga platform lainnya, susah membuat rakyat Indonesia mengalami total krisis. Dilanda virus yang lebih ganas, massif, sistemik dan terstruktur macam DBD pun, dengan korban ratusan hingga ribuan, toh tetap tak membuat panik masyarakat kita. Apalagi ‘cuma’ Corona, yang belum jelas sejarahnya, demikian pun soal jumlah korban. Dalam skala negara berpenduduk 267 juta, angkanya belum memenuhi syarat Darurat Nasional sebagaimana kriteria WHO. Anehnya, WHO sebagai ormas international, mau nekan negara kita. Wonten menapa?

Dalam menyikapi Corona, ada 3 karakter menonjol para aktivis atau penggiat serta pejuang medsos: (1) Saling mengingatkan dan berbagi informasi mengenai cara menangkal Corona. Sampai ngutip dan ngopas apa saja, yang kadang infonya bisa bertolak belakang, malah bikin bingung. Yang kayak gitu, ditambah karakter ke (2): Lebih santuy, lebih kritis, kadang melakukan olok-olok. Keduanya masih nyambung. Tapi ada karakter lain, yang ke (3), seperti biasa: Memanfaatkan situasi. Termasuk jualan isu, hoax, fitnah. Seperti yang dilakukan Fahira Idris, Musni Umar, dan sebangsatnya. Jika pun akhirnya minta maaf, itu bukan agar tak terjerat UU-ITE, melainkan menunjukkan kegoblogannya. Siapapun dan apapun mereka. 

Di inbox atau messenger fb saya, juga WA, acap dapat kiriman mengenai metoda, cara, atau apa saja obat, serta anjuran, agar tak terjangkit Corona. Bahkan ada yang ngutip tulisan dokter. Sangking banyaknya info, saya jadi tahu, antara dokter satu dan lainnya, beda advis. Ada dokter nulis bahwa asap tembakau bisa untuk terapi, manjur membunuh virus Corona. Tapi dokter lainnya mengatakan perokok berat mudah mati jika terkena virus Corona. Mana yang bener? Tanyakan pada yang sudah membuktikan mati. Bersebab apa kok teganya, teganya, teganya, mati tanpa penjelasan si pelaku mati setelah kematiannya?

Jangankan dokter, negara pun bingung menghadapi soal rokok. Rokok illegal, tanpa cukai, diancam hukuman pidana dan penjara minimal 5 tahun. Tapi, saya yang merokok dengan rokok bercukai, legal, mendapatkan perlakukan diskriminatif. Padal, perokok pasif jauh lebih berbahaya daripada perokok aktif. Lha, ngapain tidak ngerokok aktif saja? Logika compang-camping kek gitu, gimana bisa dihargai? Apalagi LSM yang ngaku melakukan pendampingan petani dan tanaman lokal, nerima duit dari Bloomberg untuk membunuh petani tembakau. Di mana nganunya? Ups!

Balik ke topik golongan ketiga. Para penumpang gelap apapun ini, lebih menjengkelkan. Pokokmen macam Anies Baswedan, yang atas wabah corona bisa untung besar dari jualan masker. Namun di sisi lain, dia bisa bilang pasien Corona yang tak tercover BPJS akan dibiayai Pemda DKI. Duh, mau tercover BPJS atau kagak, Pemerintah Pusat akan menanggung biaya penderita Corona. Gubernur satu ini memang mirip Fahira dan Musni. Tapi para kadrun pasti hepi, nggak peduli ngibul atau tidak. Karena Ngibul anak sekolahan, tokoh idola mereka. Lha wong professor dan rektor universitas dengan nama intelektual muslim Ibnu Chaldun pun, kualitas literasinya sangat amat minus banget sekali. 

Jikalau China di hari ke-100 bisa mengatasi wabah Corona dengan gemilang, sampai menolong negara Itali, karena mereka bukan Indonesia. Kalau Indonesia (adalah) China? Pasti kaum kadrun ngamuk-amuk. Wong ada wabah atau tidak, yang penting ribut mulu. Nggak ikut pemilu, tapi setelah Pilpres selesai, masih saja jualan klembak-menyan ke berbagai media dan forum diskusi. Apalagi ternyata ada kelompok yang memang hanya selalu jadi penumpang gelap. Cirinya, mendukung oposan atau yang kemungkinan kalah. Kelompok ini duitnya lebih gampang. Maka dalam proxy war, banyak yang kita kenal sebagai SJW, pejuang hukum dan HAM, diam-diam adalah juga binaan elite politik tertentu. Coba para senior terus-terang, siapa Bambang Widjojanto, Munir almarhum, juga Munarman? Fadli Zon mungkin bisa cerita soal itu. Jangan hanya salawi mulu.

Dari sisi moralitas, dan mentalitas, bangsa Indonesia belum mencapai kemerdekaan yang hakiki. Apalagi negara demokrasi. Karena demokrasi juga menuntut; Penalaran yang adil. Disiplin pada kesepakatan. Penegakan hukum. Ketiganya sama sekali belum terpenuhi. Elitenya sendiri tak bisa memberi teladan, baik politikus awam, akademik, maupun akaklenik. Bahkan virus penyakit pun, bisa digoreng menjadi vivere viruscoloso.

Padal, konon manusia diciptakan lebih unggul dari makhluk lainnya. Bisa mengembangkan komunikasi menjadi explorasi dan kapitalisasi. Juga daya imaginasi dan daya cipta. Meskipun manusia sebenarnya tak ngerti sepenuhnya, emangnya binatang tak punya imaginasi? Tak bisa komunikasi? Di dunia ini, konon hanya Nabi Suleman yang bisa berkomunikasi dengan hewan. Sayang beliau nggak ninggalin buku. Sementara di Jawa Timur, Prabu Anglingdharma pun bisa dialog dengan binatang. Nggak nulis buku juga. Ilmu kok dibawa ndiri ampek mati gitu lho! Mbok ya, saring and sharing!

Malah yang kita dapati, konon Nabi Suleman yang membangun Candi Borobudur. Saya tidak tahu, Nabi Suleman ini apa agamanya? Islamkah? Mungkin karena tak dirawatnya, Candi Borobudur jadi mandala umat Buddha. Yang pasti, tapi mungkin (piye toh, pasti kok mungkin) salah satu peninggalam Nabi Suleman kini dijadikan nama kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Slogannya: Suleman Sembada!

Dah, gitu aja. Lantas, apa moral tulisan ini? Sebetulnya nggak ada. Cuma agar kelihatan bermoral, ini closing statemennya: Tingkatkan daya imunitas tubuh. Hidup sehat. Merawat kebersihan lingkungan. Jangan lupa bahagia. Bagi yang jomblo, jangan lupa jatuh cinta. Dan paling penting, jangan mudah diprovokasi kaum kadrun. Virusnya lebih berbahaya. 

 

(Sumber: Facebook sunardianwirodono)

 

 

Monday, March 16, 2020 - 23:00
Kategori Rubrik: