Visi Indonesia

Oleh: Sunardian Wirodono

 

“Imagination! Imagination! Imagination!” teriak Bung Karno dalam salah satu pidatonya yang keren di Semarang, 29 Juli 1956. “Yang tidak mempunyai imagination, tidak mempunyai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunyai keberanian!”

Jokowi seorang pemberani. Presiden dengan type kepemimpinan androginis dan imajinatif. Bukan type macho dan militeristik. Ini sebuah berkah, ketika negeri ini mengalami stagnasi berdasar konsep salah arah dan koruptif selama 32 tahun Orde Baru Soeharto.

 

Jokowi berbeda dengan para pemimpin sebelumnya. Bukan soal baik dan buruk, melainkan segala sesuatunya sangat situasional. Jokowi berada dalam situasi transisional, dan menjalankan perannya dengan baik. Seorang pemimpin yang mendengar dan mencatat, dan mengeksekusi kehendak perubahan jamannya. 

Dalam ‘Visi Indonesia’ kemarin, semakin jelas makna kehadiran Jokowi. Sebagaimana Presiden Sukarno, ketika menyemangati bangsanya yang terpuruk. Dari yang pernah melakukan capaian-capaian seperti Candi Borobudur, hingga menjadi bangsa semeter kurang sedepa, bangsa kerdil. Persis hari-hari ini ketika kita diguyah sekelompok masyarakat yang hendak mendirikan negara kilafah.

Mereka yang masih under-estimate atas Jokowi, bukan hanya tak mau mengenal Jokowi. Melainkan memang pada awalnya sudah menggenggam penolakan, dengan alasan apapun. Entah alirah keagamaan (meski sama-sama Islam), atau pun bagian dari yang tersingkir dengan model kepemimpinan Jokowi, yang tak mau berkompromi dengan ‘pola-pola lama’.

Jokowi, memang anak pinggir kali. Tapi ketika anak-anak sebayanya main layang-layang, dia lebih banyak duduk di pinggir bendungan dengan buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat’ yang ditulis Cindy Adams. Ketika anak-anak sebayanya berkejaran di galengan sawah, ia membawa besek ‘kali-kali menemukan telor bebek yang bercecer di sawah.

Jangan lupakan pula, Jokowi bukan hanya menyukai musik trash-metal, yang Kaesang pun tak betah menemani semobil perjalanan dengan Jokowi. Dari Istana Bogor ke Istana Kepresidenan Jakarta, mobil presiden dengan audio-system yang prima itu, menggelegarkan lagu-lagu rock. Sementara Kaesang penggemar K-Pop!

Oleh teman-teman sesama pendaki gunung, sewaktu mahasiswa, Jokowi seorang pencari jalan alternative. Ia selalu menemukan jalan yang bukan mainstream, yang sudah dilalui pendaki sebelumnya. Dan, harap dicatat, Jokowi juga seorang pembaca novel Pramoedya Ananta Toer, utamanya kwarternarius Bumi Manusia. Sebuah novel yang membuat Bonar Tigor Naispospos, Bambang Subono, dan Isti Nugroho dulu masuk penjara di jaman Orde Baru, karena mengedarkan novel Pram yang masih dalam bentuk stensilan dan fotokopian.

Di akun facebooknya, Jokowi pernah menyitir Bumi Manusia, “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini.”

Maka, beranilah kita mengingatkan, sekiranya Jokowi takut. Karena kita bangga padanya, keep rock 'n roll, Mr. President!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tuesday, July 16, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: