Virus

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

ADA yang pernah nonton film pendek (lupa judulnya) tentang seorang anak yang ketika melarang preman jalanan mencorat coret tembok di lingkungan rumah mereka, malah dapat perlakuan kasar?

Anak itu pulang, lalu mengambil kuas dan sekaleng cat tembok yang ada di rumahnya. Dan dia pun nekad berinisiatif seorang diri gak perlu bantuan mencat tembok yang kotor tersebut.

Melihat ada anak kecil berbuat kebaikan sendirian, mereka yang selama ini juga gak suka melihat preman pembuat kotor lingkungan mereka, satu persatu tertular kebaikan untuk ikut membantu.

Majalah National Geographic pernah melakukan penelitian tentang kebaikan. Sejumlah anak diajak menonton pertunjungkan kisah dua ekor anjing di sebuah panggung boneka. Dalam lakon tersebut ada boneka yang berperan sebagai anjing jahat dan anjing baik.

Anak2 itu tampak tertawa senang ketika melihat adegan anjing yang baik diganggu oleh anjing yang jahat. Seperti kejadian seorang murid di depan teman2 sekelasnya menantang gurunya berkelahi.

Di akhir pertujunkan, anak2 lalu diminta untuk memilih. Mana boneka yang mereka sukai, boneka anjing jahat atau boneka anjing baik? Ternyata mereka memilih boneka anjing yang baik.

Penelitian tersebut agaknya ingin memperkuat pendapat bahwa setiap manusia pada dasarnya lebih menginginkan kebaikan daripada kejahatan. Meski ada siswa yang kelihatan hebat di mata teman2nya karena berani melawan gurunya, ternyata kalau disuruh memilih gak ada seorang teman pun yang suka padanya.

Menurut penelitian, ketika manusia melakukan kebaikan, otak akan mengeluarkan hormon oksitosin dalam jumlah yang banyak. Hormon oksitosin ini diasosiasikan dengan kebaikan, cinta kasih, dan kemurahan hati.

Ada yang masih ingat momen tahun 2012, ketika pembukaan Trade Expo Indonesia ke-27, Gubernur DKI, Jokowi, tiba2 secara spontan mengangkat dan menggeser gong yang akan dipukul SBY.

Saat itu, SBY mendapati gong yang ingin dipukulnya miring, tidak menghadap podium. Melihat hal itu, Jokowi yang berada di panggung langsung dengan sigap menggeser dan mengangkat gong agar mengarah ke podium. Bahkan, ajudan SBY terlihat kalah sigap.

Dan kejadian yang kelihatan tampak remeh temeh seperti itu bukan yang pertama dan terakhir. Berkali2 meski terus jadi bahan caci maki. Bahkan saat sudah jadi presiden pun Jokowi gak jaim menuangkan minuman untuk Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, misalnya. Padahal saat pilpres Jokowi kalah telak di Jawa Barat akibat fitnah jahat yang termakan masyarakat sana. Tapi Jokowi gak mau ambil pusing. Gak ada benci dan dendam.

Banyak orang lupa bahwa kebaikan, walaupun sederhana dan kecil, memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatannya bukan cuma menyentuh hati nurani orang yang menerima kebaikan, tapi juga orang yang kebetulan menyaksikan. Bahkan seorang berkebutuhan khusus seperti Rafi Ahmad, bisa merasakannya.

Selama hampir lima tahun menjabat, itulah yang dilakukan Jokowi. Iklas menebarkan kebaikan. Menebarkan cinta. Orang lain silakan benci kepadanya, tapi dia gak akan pernah balik benci pada mereka.

Jadi ketika satu persatu mereka yang semula benci berbalik berbondong2 mendukungnya, gak ada yang perlu dipersoalkan. Yang berbalik mendukung gak harus malu, yang didukung juga gak jadi belagu. Semua diterimanya dengan lapang dada. Termasuk ustad yang sekarang bergelar Syaikh, Abdul Somad, yang sebelumnya mungkin dianggap menyebalkan dan cenderung intoleran.

Pokoknya jangan pernah remehkan kebaikan. Semakin ikhlas kita melakukan kebaikan, semakin besar energi yang terpancar, dan semakin kuat dampaknya bagi semesta Indonesia. Mestakung, semesta mendukung, kata Prof Yohanes Surya.

Seperti halnya virus, kebaikan ternyata juga bisa menular. Lihatlah waktu alumni UI bangkit mendeklarasikan diri mendukung orang baik untuk Indonesia yang lebih baik. Deklarasi itu tahu2 menular ke mana2, ke alumni2 kampus lain, alumni berbagai SMA, sampai deklarasi 1000 mantan jenderal yang beramai2 ikut mendukung dan gak rela membiarkan orang baik itu berjuang sendirian.

Gejala ini persis seperti film pendek yang tetep gue lupa judulnya dan eksperimen panggung boneka kisah anjing baik dan anjing jahat yang dilakukan oleh National Geographic.

Pada dasarnya, alam bawah sadar setiap manusia lebih menginginkan kebaikan. Jika ada virus yang boleh kita perkenankan masuk ke tubuh kita, maka biarlah yang masuk itu virus cinta. Bukan virus kebencian.

#AkuAdalahCinta17049TDH 
www.semesta-indonesia.com

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Wednesday, February 13, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: