Virus Covid Biasa Saja, Kenapa Ada yang Parah dan Mati?

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

Indonesia sudah mengirimkan 9 data whole genome SARSCOV2 ke GISAID, 7 dari Jakarta (Eijkmen) dan 2 dari UNAIR Surabaya (bukan 3). Menurut Moh Indro Cahyono, data yang dari Jakarta ada sedikit perubahan pada protein S dan ORF. Sedang yang data dari UNAIR ada juga yang mengalami perubahan di protein N. Namun pada dasarnya, virusnya masih sama yaitu Covid 19. Artinya, perubahan itu tidak signifikan.

Kalau tidak ada perubahan signifikan, lalu kenapa bisa ada yang berakibat fatal?

Sekali lagi, jangan pernah lupa dengan angka 60 persen OTG dari jumlah positive di Indonesia, dan perkiraan 80 persen asimptomatik dari WHO. Mengapa catatan ini penting? Karena catatan ini seharusnya dijadikan pegangan bahwa mayoritas positive itu tidak merasakan gejala atau hanya gejala ringan.

Mengapa gejalanya bisa beda-beda? Bisa jadi factor imun, ko morbid, dan infeksi kedua. Kalau dugaannya factor imun, bukannya Covid 19 adalah virus baru, sehingga seharusnya semua orang di dunia belum terbentuk IgMnya. Jadi, factor imun seharusnya tidak terlalu pengaruh signifikan dalam mempengaruhi tingkat gejala.

Bagaimana dengan ko morbid? Ada beberapa kejadian di mana pasien masih muda dan tidak memiliki riwayat penyakit yang buruk. Kalau riwayat penyakit ini ditentukan dari pengakuan pasien atau keluarga pasien, sebetulnya tidak valid karena tidak semua orang melakukan check up kesehatan secara rutin. Bukan hal aneh ketika anak muda tahu-tahu meninggal karena jantung, tahu-tahu menderita kanker stadium 3.

Tapi, dari kedua factor itu sebenarnya ada hal yang lebih menarik. Belakangan ini beredar beberapa tulisan yang menduga adanya kaitan vaksin BCG dengan tingkat gejala Covid 19 pada pasien. Orang positive Covid 19 yang pernah mendapat vaksin BCG, gejalanya lebih ringan.

Apakah artinya vaksin BCG bisa digunakan buat mencegah tertular Covid 19? Bukan ke situ arahnya.

Tapi, pernahkah terpikir tentang bahaya infeksi bakteri bersama infeksi virus? Sekalipun itu virus common cold, jika disertai infeksi virus maupun bakteri lain maka gejalanya jadi lebih parah.

Jangan lupa, NL63 sering kali menginfeksi bersama dengan virus pernafasan lain. Demikian halnya pada pandemic 2009, 50% pasien H1N1 pada tahun 2009 diperparah dengan infeksi bakteri kedua, yangmengakibatkan banyak pasien usia muda dirawat di rumah sakit. Sebanyak 60 persen anak-anak yang meninggal juga karena adanya infeksi sekunder.

Untuk diketahui, Indonesia menjadi negara endemic TBC dan menjadi negara ketiga kasus penderita TB tertinggi setelah India dan China. Angka kematian dari TBC di Indonesia terjadi sekitar 67.000 kasus per tahun.

Pada tahun 2018, diperkirakan 845.000 penduduk Indonesia jatuh sakit karena TBC. Tingkat kematian pasien meninggal dunia karena TBC mencapai lebih dari 60 persen.

Bahkan, TBC merupakan penyakit global yang sedang menjadi salah satu fokus eliminasi pandeminya dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dunia.

Mungkin, penting untuk dilakukan uji infeksi virus dan bakteri lain pada pasien positive covid 19 dengan gejala berat, khususnya untuk mengetahui adanya infeksi TBC.

Referensi :

https://www.healio.com/…/secondary-bacterial-infections-com…

https://www.kompas.com/…/indonesia-disebut-endemis-tbc-juml…

https://sains.kompas.com/…/orang-indonesia-harusnya-takut-t…

https://www.youtube.com/watch?v=1mDHFyzKpA4

https://www.youtube.com/watch?v=hSa_0p4kABw

https://www.google.com/…/benarkah-angka-positif-corona-di-i…

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Monday, May 18, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: