Virus Budaya

ilustrasi

Oleh : Sudarko

Punahnya indonesia dimulai dari hal-hal kecil seperti ini.. Budaya luar dimasukkan dengan dalih ini perintah agama.. Kalau sudah bawa-bawa agama kita ini seperti kerbau dicocok hidungnya..Akal jadi tidak bekerja, digantikan keimanan yg membabi buta..Padahal iman tanpa akal itu ya bagaikan kerbau yg dicocok hidungnya tadi.

Kita dilemahkan, dibuat minder dibuat tidak bangga dengan budaya sendiri supaya hilang kecintaan terhadap tanah airnya. Lagi-lagi dengan dalih ini perintah agama..

"Kamu ini kafir, sudah berani menentang perintah Allah" stempelnya dikeluarkan buat nyetempelin orang-orang yg tidak sepaham dengannya.. Yg menolak cara-caranya.. Padahal agamanya sama.

Mungkin karena mereka sibuk beragama dipermukaannya saja sedangkan saya sibuk beragama dikedalamannya.. Ini yg membuat jadi tidak sepaham.

Di permukaan mereka tampil dengan cadar, dengan jubah ke arab araban, atau dengan jenggot 3 lembar celana cingkrang, jidat dibuat gosong kek habis di getok magic..
Di permukaannya mereka syar'i sekali..Dengan begitu sudah merasa paling islam sehingga mudah mengkafir-kafirkan, membidah bidahkan saudaranya yg tidak mau mengikuti busana syar'i nya.. Berkebaya, berkonde itu haram tidak ada dalam tuntunan..Lelaki yg menutupi mata kakinya neraka tempatnya.. Kalau mau di surga ikutin saya seperti ini.. cingkrangkan celanamu, ayo sekarang potong celanamu jangan menutupi mata kaki.

Tidak hanya dari busana.. Panggilan2 seperti Akhwat, ikhwan, akhi, ukhti, abi, umi juga sesak mengganggu telinga kita yg sudah terbiasa dengan panggilan mbakyu, diajeng, akang,mas, bopo, romo, biyung, emak,simbok..

Mereka sibuk beragama dipermukaannya saja tanpa mau masuk di kedalamannya. Budaya kita diacak-acak..Kita dibuat minder tidak percaya diri tidak bangga dengan budayanya sendiri.. Lama-lama kita jadi lebih gandrung dengan budaya dari luar sana..Kita jadi tidak cinta bangsa dan negara ini, kehilangan jati diri..yg lebih tragis kita jadi tidak mencintai presidennya sendiri.. Lebih cinta erdogan daripada cinta Jokowi.

Sedangkan saya mencoba belajar beragama di kedalamannya.. Tanpa harus mengganti budaya asli Nusantara.. Karena bagi saya yg penting itu isinya bukan bungkusnya..Mau sebagus apapun bungkusnya kalau isinya busuk, pasti tidak bermanfaat.

Ini tambahannya setelah saya lihat banyak yg menyalah artikan, atau belum paham maksud dan tujuan dari pendapat saya diatas tentang keprihatinan saya melihat Islam yg saat ini malah terlihat mundur.. Budaya kita terlihat luntur..

Poinnya ada di bawah ini:

Yang langsung ngegas berarti belum sepenuhnya mengerti maksud tulisan saya.. Dalam tulisan saya sudah jelas tidak ada perkataan melecehkan cadar.. Kalian hanya fokus pada masalah cadarnya (bungkusnya).. Padahal yg saya sorotin itu bukan di cadarnya.. Tapi mengenai jati diri bangsa..

Jangan sampai kita lemah kehilangan jati diri sebagai orang indonesia akibat gempuran budaya2 dari luar.. Apalagi budaya yg dibungkus agama.. Kita seharusnya lebih fokus menimba pada ilmu islamnya (isinya) bukan malah budaya arabnya (bungkusnya)..

Lalu ada yg menanyakan yg berbikini kenapa di diemin.. mereka yg berbikini tidak pernah mengusik orang lain.. Sedangkan yg bercadar, bercelana cingkrang inilah yg rata2 suka mengusik orang lain.. Bahkan durhaka mengatakan indonesia dan pancasila itu toghut.. Disinilah sebenarnya pointnya kenapa kami anak2 garuda harus menghentikan pergerakan kelompok seperti itu.. Pertama kita dijejali busana dan simbol2nya.. Setelah itu dimasukkanlah paham2 sontoloyonya.. Paham intoleran yg mudah mengkafir kafirkan orang, mem bidah bidahkan yg tidak sepaham.

Kalian di indonesia bebas mau cingkrang, mau bercadar, bahkan mau telanjang.. Silahkan.. Tapi jangan sekali kali coba menghancurkan negeri ini dengan paham2 sontoloyo kalian..

Sumber : Status Facebook Sudarko

Sunday, June 23, 2019 - 18:45
Kategori Rubrik: