Verbal Jokowi

ilustrasi

Oleh : Harry Xiao

Berbicara dan berkomunikasi itu berbeda. Akhir-akhir ini banyak orang berbicara, tetapi sedikit orang berkomunikasi.

Berbicara dan berkomunikasi adalah bahasa verbal. Bahasa yang terucap melalui mulut. Dan semua yang keluar melalui mulut berasal dari kepala. Karena ucapan adalah buah dari pikiran.

Tentu menarik untuk menyimak buah pikiran seorang Jokowi dan lawan tandingnya, Prabowo, yang di tanggal 17 April nanti akan melakukan rematch.

Guru saya mengajarkan, bahwa apapun yang ada dalam pikiran, akan keluar melalui mulut, menjadi ucapan. Dari ucapan akan muncul tindakan. Tindakan yang berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan akan membentuk karakter. Dan karakter akan menentukan nasib.

Saat ini saya sedang membicarakan buah pikiran seorang calon presiden yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Dari pikiran seorang capres akan muncul ucapan. Ucapan seorang capres akan diwujudkan dalam tindakan. Tindakan capres adalah kebiasaan-kebiasaan capres. Kebiasaan capres akan menunjukkan karakter capres. Dan karakter capres (yang nantinya terpilih) akan menentukan nasib bangsa ini.

Mudah-mudahan Anda mulai mengerti apa yang sedang saya tulis.

Sekarang kita membicarakan ucapan seorang calon presiden. Bapak Joko Widodo dan Bapak Prabowo Subianto.

Jika kita menyimak ucapan-ucapan Pak Jokowi, selalu sarat dengan sikap positif, optimisme, data dan fakta, serta mendorong kemajuan bagi setiap insan Indonesia. Di setiap kunjungan blusukan, beliau selalu menemukan banyak kebaikan, menyuarakan perbaikan, dan yang lebih penting, beliau juga menyimak.

Menyimak adalah unsur penting dalam komunikasi. Itulah yang membedakan antara berkomunikasi dari sekedar berbicara. Pak Jokowi berkomunikasi dengan rakyatnya, dengan kita semua.

Nah, bagaimana dengan lawan tandingnya ? Baik capres maupun cawapres dari kubu sebelah ?

Jujur saja, saya hampir selalu menemukan sikap negatif, pesimisme, kesalahan data, serta janji-janji manis yang saling bertolak belakang. Di setiap kunjungan paslon 02, hampir selalu menemukan keburukan, kesalahan, dan menyulut kebencian. Mulai dari tempe setipis kartu atm, hingga tangis bombai seorang petani bawang. Dan seringkali saya melihat mereka berdua hanya berbicara, tidak berkomunikasi. Karena mereka tidak menyimak.

Pikiran menarik semesta.

Pikiran positif menarik kejadian positif. Pikiran negatif menarik kejadian negatif. Dan hampir semua Guru saya selalu mengatakan... apapun yang kamu alami, akan selalu menjadi lebih baik jika kamu berpikir positif dan mengambil sikap positif.

Nah, sekarang jelas. Nasib sebuah bangsa dimulai dari cara berpikir pemimpinnya. Saya tidak ingin bangsa ini berada di tangan seorang pemimpin yang berucap tentang negara bubar atau menyetujui korupsi yang tidak seberapa.

Dari apa yang saya amati selama ini, maka pada tanggal 17 April nanti saya akan memilih calon presiden yang berkomunikasi. Bukan hanya yang sekedar berbicara.

Saya akan memilih presiden yang kata-katanya positif, berdasar data dan fakta, penuh dengan kebaikan dan optimisme untuk membangun Indonesia. Dan presiden itu adalah Pak Jokowi.

Semoga Anda menyimak...

#harryxiao #jokowiduaperiode #2019tetapjokowi

Sumber : Status Facebook Harry Xiao

Friday, March 1, 2019 - 08:45
Kategori Rubrik: