Valentine yang Terlarang

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Kepala Dinas Pendidikan salah satu Propinsi di Indonesia, rilis surat edaran. Bunyinya kira2, anak SD dan SMP 'dihimbau' agar tak rayakan hari 'Valentine'. Karena tidak sesuai dengan budaya dan nilai2 agama, dalam kurung 'islam'. Para guru pun diminta untuk memantau . . .

Coba para 'sampeyan' sempat ketemu Anak Lanang dan Anak Wedok saya agak lama. Bisa melihat sikap mereka pada hal2 yang 'begitu-an', termasuk Valentine Day, mungkin juga Tahun Baru.

Tanggal2 itu mereka anggap sama seperti hari2 lainnya. Biasa saja, ndak perlu heboh. Kalau pas hari Jum'at ya pergi Jum'atan. Jika jatuhnya hari Minggu, ya persiapan jalan2 . . .

Tapi bukan berarti kalau ada yang kirimi mereka bunga, lalu ditolak. Mesti diterima. Apalagi kalau disertai coklat. Dan mesti juga ndak akan mau 'bengak-bengok' kasih tahu teman. Itu ndak sesuai budaya bangsa dan agama . . .

Tahun Baru juga begitu, lebih baik tidur di rumah. Ndak juga ikut2 joget2 di Bundaran Hotel Indonesia.

Namun jika ndak males, ada yang ajak keluar, ya mau2 juga. Bagi kami sekeluarga, 'kelas'nya sama kayak waktu Anak Lanang SMA, minta ijin keluar malam untuk SOTR, Sahur On The Road.

Kadang kami pesan supaya hindari 'rame2'. Terkadang SOTR jadi ajang 'tawuran'. Ati2 dan 'bismillah'. Itu saja. Itu pun kalau kami ingat . . .

Mereka tahu sendiri 'ukuran' sesuatu. Di rumah kami 'nyaris' tak terdengar kata 'Jangan !' Apalagi pakai tanda 'pentung', tanda seru. Kosa kata itu, 'jangan', keluar justru kalau saya lagi 'rebutan' wedang kopi atau buah nangka dan durèn, dengan Ibu mereka.

Kami juga 'jarang' utarakan petitah-petitih, kata2 bijak, ayat atau dalil, untuk 'larang' dan 'perintah'kan sesuatu.

Mereka cuma melihat tingkah polah kami berdua, saya dan Nyonya. Kami pun percaya, ndak usah diajari dan dituntun, jika kami lewat 'jalan' A, anak2 kami pun mesti lewat jalan itu. Kalau kami masuk 'kampung' B, mereka pun ikut blusukan kesitu.

Kalau nampak jadi ber'nuansa' budaya dan agama, itu pun karena kami berdua memang orang Indonesia, yang dominan Jawa, dan 'kebetulan' juga beragama Islam . . .

Kalaupun perlu 'dalil'nya, mereka akan baca sendiri dari stok buku dan kitab, pustaka koleksi kami. Itu juga 'hasil' meniru kami yang suka baca2. Kalau masih kurang jelas, baru tanya lagi pada yang ber-'hak' . . .

Kami percaya, anak bukan hanya hasil dari proses 'ngangkang', 'tengkurêb', lalu 'hubungan badan'. Mereka itu secara fisik dan jiwa tumbuh dari 'saripati' kami berdua. Rangkaian DNA kami, bahkan golongan darah pun mereka copy. Setelah lahir keluar, dibentuk dan dipoles lagi supaya lebih berkilat dengan dan oleh 'contoh keseharian' kami.

Bukan proses instan, tapi bertahun. Dari saat mereka ada dalam buaian sampai kami mati dikuburkan . . .

Sisanya, baru dibungkus dan pengaruh 'induksi' dari luar. Seberapa besar pengaruhnya, juga tergantung dengan 'apa' yang mereka 'dapat' dari dalam rumah.

Yang dari luar itu, termasuk teman dan guru. Teman main dan teman sekolah. Guru sekolah dan guru ngaji. Namun tak jarang malah jadi sumber masalah baru . . .

Terkait dengan imbauan larangan ber-valentin-an, cukup mengherankan saya. Kok sampai jadi urusan 'pejabat' ya ? Sebegitu 'urgent' dan 'krusial' kah ?

Harusnya yang lebih perlu diingat, mereka, murid SD dapat dana BOS sebesar 900 ribu rupiah, siswa SMP dapat 1 juta 100 ribu rupiah, dari pemerintah. Itu amanah. Itu hak mereka.

Lebih baik bikin imbauan bagi para Guru dan Kepala Sekolah, agar jangan 'nyunat' apalagi 'nilep' hak anak2 itu.

Jika para Guru baik, bisa di'gugu' dan di'tiru', murid tinggal ikuti. Bukankah kalau guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari ?

Tengok dan teliti saja perilaku para guru, yang mesti ada yang sudah jadi orang tua, itu salah satu 'sumber' dari segala tingkah laku para murid. Barangkali ada yang perlu diperbaiki dan dibenahi.

Mobil mogok memang perlu dibawa ke bengkel. Jika rusak lagi, mogok lagi, dan mogok lagi, yang salah mungkin bukan mobil-nya. Siapa tahu salah pilih bengkel dan atau montirnya . . .

Jadi bikin dan terbitkan saja imbauan buat para 'guru'. Apa saja isinya. Dan sebar, teriak pakai TOA. Biar para murid pun tahu. Para guru dan orang tua mereka adalah orang baik2, setidaknya niat menjadi orang baik2 . . .

Mereka, anak2 kita, mahluk yang super cerdas sekaligus 'peniru' yang canggih . . .

Kita memang sering terjebak dengan kulit, apalagi jika berkait dengan agama. Berebut tampil 'sarngi' tinggalkan isi. Dipoles sana-sini.

Kayak pemain sinetron di televisi, shooting terbaring sakit di ranjang pun, nampak ayu pakai bedak tebal, beralis dan eye-shadow, bahkan pakai bulu mata pasangan . . .

Dalamnya 'bêngèk' dan 'rongsokan', tapi rajin tampil 'mlipis', berdandan . . .

Salam juga buat BEM sebuah sekolah 'calon Guru', yang foto 'anggota kabinet' perempuan-nya di'blur'. Suka rela ataupun terpaksa.

Terimakasih atas perlindungannya buat kami para lelaki. Supaya ndak timbul nafsu hewani . . .

Wwkwk wk wk . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, February 15, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: