Vaksinasi untuk Politisi

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Penyakit 5 tahunan pas musim pilkada dan pilpres di Indonesia makin terasa beraroma sara. Suara murahan para pembacot yg menentang kebenaran dan membelokkan kebaikan ke jalan kesesatan makin menjijikkan.

Peran medsos dan media picisan tdk bisa diabaikan bila kita mengatakan bhw mereka juga termasuk pemalak kebenaran utk dialihkan hanya demi kepentingan. Editan demi editan, bahkan setan dijadikan teman utk membantu agar mereka bisa laku jualan janji palsu.

 

 
Lihat Jkt skrg tikusnya gemuk2 karena sampah menumpuk, banyak makanan sbg santapan. Gitu kok Anies mau di dapuk jd capres. Bodoh ya cukup sekali, kalau diulang jadi bodoh dan gila namanya. Biarlah JK dan PS yg punya selera rendah melihat Anies bak anak emas. Jangan kita ikut rabun mengikuti mata tua yg " belek " nya mengaburkan segalanya. Presiden itu utk ngurus Indonesia bukan mandiin kuda dan menata kata2 saja.
 
Sekarang ini ibarat penyakit menular semua bicara presiden seperti menyiapkan sayur lodeh, bumbunya cuma dikira2, cicip sana sini, nanti kalau kurang tambah lagi. Mereka lupa menyiapkan pemimpin harus ada persiapan dan pengamatan. Dari mulai ilmu, akhlak dan moral serta militansinya terhadap negara. Jangan mentang2 bekas tentara terus bisa menguasai darat, laut dan udara. Wong sapta marga saja dia lupa, sumpah prajurit diletakkan disudut sempit. Mereka cuma komat kamit, kita yg amit2.
 
Wabah murah yg dijual rendah bakal merusak marwah, bangsa ini dibangun dgn darah bukan dgn hadiah. Pemimipinnyapun hrs yg amanah, kalau cuma pemimpin gagah, sapi dipakein kaca mata juga gagah. Kalau cuma berilmu, setan gudangnya ilmu, tapi kalau akhlak dan moral tdk bs dipungut di pinggir jalan atau dibeli krn tdk ada yg menjual. Akhlak dan moral tumbuh dari pendidikan, ketauladanan, merasakan, dari sanalah tumbuh ketokohan dalam sosok yg benar2 berpemahaman ttg kebenaran dan kebaikan.
 
Sosok berilmu yg meniru setan banyak dan mewabah. Lihat di Senayan, perhatikan prilaku kepala daerah, simak kelakuan politisi. Mana yg bisa dijadikan pegangan, nyaris seperti mencari jarum ditumpukan jerami.
 
Vaksin adalah benda yg disuntikkan kedalam tubuh agar membantu menolak serangan virus yg mematikan atau minimal melemahkan. Revolusi mental yg dicanangkan Jokowi adalah ibarat vaksin awal agar rencana penguatan SDM dalam 5 tahun kedepan menguatkan Indonesia menghadapi kemajuan dunia yg tdk bs dihadapi hanya dgn retorika saja, tdk bisa dihadapi hanya dgn orientasi duniawi atau orientasi spiritual saja. Makanya, harus disuntikkan kedua2nya. Maju bersama peradaban dunia, dan kuat secara spiritual demi menolak kebathilan.
 
Sistim kepartaian di Indonesia hrs diakui turut membuat carut marut kondisi sosial dan mental bangsa yg cenderung koruptif dan bermental curang, malas dan culas. Generasi milenia hrs berubah secara pasti tdk lagi diembel2i pemain2 tua yg banyak bicara kerjanya cuma cerita masa jayanya, nmn celaka dihari tuanya krn pikirannya cuma mau tetap berkuasa dan kaya raya.
 
Vaksinisasi buat politisi hrs segera di eksekusi. Partai2 harus memulai. PSI dan NASDEM bisa dijadikan contoh awal agar anggotanya tidak jadi begal. Walau msh perlu review dan pembuktin apakah mereka tahan godaan. Indonesia butuh ketahanan mental spiritual yg seimbang dgn keduniawian agar tidak menjual sorban demi jabatan, dan membangun perkoncoan yg memalak kebenaran dan kebaikan.
 
 
 
(Sumber: Facebook)
Wednesday, July 11, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: