Vaksin yang Tak Perlu Diwajibkan

ilustrasi
Oleh : Meilani Buitenzorgy
Berhubung di Indonesia ini ada kaum yang bawaannya menentang apa pun kebijakan pemerintah khan ya. Diprovokasi pula oleh dokter bakulan MLM yang gak punya izin praktek dan gak punya kerjaan tetap. Maka sebaiknya, vaksin tidak usah diwajibkan.
Kalau vaksin gak wajib, lihat aja nih, para kobokan pecel lele bakal pada cepet-cepet daftar minta divaksin. Terus mereka demo berjilid-jilid menuntut supaya vaksin diwajibkan untuk seluruh rakyat, supaya cepat terbentuk herd immunity.
Untuk jenis vaksin yang akan diberikan gratis, baiknya juga pura-pura diumumkan di depan, Pemerintah pilih Pfizer dan AstraZeneca. Ntar juga ni kaum kobokan pecel lele mendadak pinter:
"Hellaw Rezim yang zalim, mo jadikan kita kelinci percobaan ya, ngasih vaksin berbasis RNA? Biar ditodong pistol kami ogah disuntik vaksin Pfizer! Kenapa gak pake Sinovac yang berbasis virus inaktif, teknologi vaksin yang sejak jaman nenek gw ngecengin James Dean sudah terbukti minim efek jangka panjang? Contoh tuh Erdogan yang pintar pilih Sinovac!"
Intinya Pak Presiden, kalau Pemerintah pinginnya A, umumin aja B. Ntar para kobokan pecel lele bakal nuntut A. Gitu.
PS:
Vaksin pertama berbasis virus inaktif ditemukan Edward Jenner tahun 1796. Tahun 1930-50an, persis masa James Dean hidup, dikembangkanlah vaksin untuk diphtheria, tetanus, anthrax, cholera, plague, typhoid, tuberculosis, polio dll. Dengan teknologi virus inaktif, teknologi jadul yang sama yang digunakan untuk membuat vaksin Sinovac. Teknologi yang telah terbukti berabad-abad minim efek jangka panjang.
Sampai saat ini baru farmasi China yang berhasil membuat vaksin Covid-19 berbasis virus inaktif. Farmasi Barat membuat vaksin Covid-19 berbasis mRNA atau adenovirus. Sebelum Covid, belum pernah ada vaksin berbasis mRNA dan adenovirus yang lolos untuk diproduksi massal. Efek jangka panjangnya belum bisa diobservasi.
Sumber : Status Facebook Meilani Buitenzorgy
Wednesday, January 20, 2021 - 09:00
Kategori Rubrik: