Vaksin Sinovac China, Kita Jadi Kelinci Percobaan?

ilustrasi
Oleh : Mila Anasanti
Ada 2 point yang dikritisi dari vaksin Sinovac China, yaitu aspek keamanan dan efikasinya:
1. Vaksin Sinovac, amankah?
Percobaan fase 1 dan 2 sudah diterbitkan di jurnal ilmiah kredibel yang membuktikan keamanannya pada manusia:
Sejauh ini tidak ada laporan efek samping berarti dari puluhan ribu yang diujikan di China, Indonesia, Brazil dan Turki dalam uji fase 1,2,3. Bahkan ketika disuntikkan darurat di China ke orang tua > 60th dan yang punya komorbid yang imunitasnya jauh lebih jelek dari yang muda dan sehat, tidak ada efek samping berarti yang dilaporkan.
Takut divaksin? Masak anda yang muda kalah nyali sama orang jompo dan yang punya sakit berat atau komorbid?
Turki sendiri sudah mengeluarkan hasil uji fase 3 vaksin Sinovac yang membuktikan efikasi vaksin ini 91.25%.
Publikasi ilmiah di jurnal Indonesia:
Efektif di orang Turky kemungkinan efektif untuk orang Indonesia juga, namun BPOM tetap memilih jalur aman dengan menunggu hasil uji fase 3 dari negara sendiri (Bandung).
 
2. Apakah saya mau divaksin?
Saya siap divaksin, sekalipun vaksin Sinovac. Bahkan beberapa kali meminta vaksin di Inggris sini, sayangnya vaksin Pfizer baru diberikan untuk nakes dan orang tua > 60 tahun karena jumlah vaksin yang tersedia belum mencukupi untuk suntik masal. Bahkan setelah nakes dan orang renta, kelompok komorbid diproritaskan gelombang berikutnya lebih dulu. Orang sehat tanpa komorbid dan masih muda harus ngantri kemungkinan baru pertengahan tahun (prioritas terakhir setelah kelompok komorbid).
Artinya negara semaju Inggris paham kapan harus memprioritaskan kelompok yang paling berisiko tinggi. Mereka yang tidak divaksin diprioritaskan belakangan, dianggap sudah 'cukup' dewasa untuk menghindari bahaya pandemi lewat jaga jarak, masker, dan cuci tangan. Itupun dengan catatan, mereka tetap dilindungi dengan kebijakan Inggris tidak takut menghadapi resesi ekonomi dengan menerapkan lockdown berkali-kali demi melindungi keselamatan rakyatnya.
Artinya kalau anda divaksin duluan di masa pandemi kini, berarti keselamatan anda LEBIH DIPRIORITASKAN. Anda dijaga betul oleh negara agar tidak tertular covid.
Negara kita ini justru tidak terlampau peduli dengan nakes dan kelompok rentan sebagaimana negara maju. Di Indonesia sebaliknya, kelompok yang diprioritaskan untuk divaksin adalah kelompok usia produktif (18 - 59th) karena mereka ini yang peluangnya lebih tinggi tertular karena negara tidak terlalu ketat memberlakukan PSBB atau lockdown sebagaimana negara lain, sehingga mereka masih aktif bekerja di masa pandemi. Uji fase 3 juga diberikan di rentang fase ini, sehingga tidak ada data keamanan dan efikasi dari Indonesia bagi kelompok di luar rentang ini.
Anak-anak dan orang tua, sekaligus yang punya komorbid tidak divaksin karena diharapkan mendapat perlindungan dari herd immunity yang terbentuk dari kelompok produktif yang divaksin. Sebuah langkah yang berkebalikan dengan negara-negara maju, yang memprioritaskan memvaksin kelompok rentan duluan, orang tua baru setelah itu yang komorbid. Kedua kelompok rentan ini sama sekali TIDAK AKAN DIVAKSIN di Indonesia. Mereka diprioritaskan terakhir dengan mengandalkan perlindungan herd immunity yang entah kapan terbentuknya!
Tinggal di Indonesia, di mana masyarakatnya condong abai dengan protokol kesehatan, risiko efek samping menerima vaksin jauuuuuhhhh lebih kecil dibanding risiko tertular penyakit dan komplikasi hingga meninggal, kecuali kalau anda mau mendekam terus di rumah sampai wabah selesai (inilah jalan teraman di atas vaksin).
Tapi ya ingat, vaksin ini baru efektif mengatasi wabah jika cakupannya sekitar 70 -80% dari masyarakat Indonesia. Artinya kalau yang divaksin sedikit, hanya melindungi yang divaksin, orang tua, anak-anak, mereka yang punya komorbid akan selalu dalam posisi rentan.
Butuh memvaksin hampir 200 juta masyarakat Indonesia untuk cakupan 70 - 80%, kemungkinan terpenuhi jumlah itu butuh 1 tahunan lagi. Jadi kalau anda ga mau divaksin, wabah ga selesai-selesai. Harus siap mendekam di rumah minimal 1 tahun lagi, plus membuat kelompok rentan, orang tua, dan anak2 yang tidak divaksin terus mendekam di rumah juga.
Harapan realistisnya ya terbentuk herd immunity baru di pertengahan hingga akhir tahun jika vaksinasi masal berhasil dilakukan. Itupun kalau pro hoax-hoax club berhasil dibasmi untuk tidak menggagalkan program vaksinasi!
Life is a choice and the choice is yours !
Sumber : Status Facebook Mila Anasanti
Sunday, January 10, 2021 - 11:45
Kategori Rubrik: