Vaksin Halal

Oleh: Eko Kuntadhi
MUI itu LSM yang hobinya mensertifikasi halal segala sesuatu. Bukan soal makanan saja. Bahkan benda-benda seperti kulkas, wajan dan cat tembok disertifikasi.
Bukan hanya itu. Bahkan kabarnya sistem manajemen sebuah usaha juga kudu disertifikasi.
 
Kini mereka ngotot sertifikasi halal vaksin Covid19.
Sesuai adatnya yang suka mensertifikasi segala sesuatu. Apakah kemasan vaksin kudu disertifikasi juga?
Apakah alat injeksinya nanti harus disertifikasi juga?
Apakah kemasan alat injeksi juga kudu disettifikasi?
Pabrik pembuat alat injeksinya kudu dipastikan kehalalannya?
Apakah petugas yang lakukan injeksi harus yang dipastikan kehalalannya. Atau minimal seiman?
Jika seiman, apakah proses injeksi harus dilakukan oleh muhrim? Pasien cowok diinjeksi cowok. Pasien cewek diinjeksi cewek.
Harus dipastikan juga orientasi seksual baik pasien maupun petugasnya. Biar tetap muhrim beneran.
Lalu, apakah RS-nya harus khusus RS bernuansa Islam? RS seperti St Carolus, RS PGI Cikini, RS Borromeeus, RS Santo Joseph, gak halal memberikan vaksin?
Lanjut...
Apakah saat divaksin, pakaian pasien harus sudah bersertifikat halal?
Jika pasien perempuan gak pake jilbab, apakah tetap halal saat divaksin?
Jika petugas injeksi perempuan gak berjilbab apakah tetap halal?
Apakah jilbab pasien dan petugas medisnya kudu standarr syariah?
Walhasil. Di negeri yang ribet ini, semuanya ikut jadi gendheng berjamaah.
Vaksinnya saja masih dalam ujicoba, orang sudah berdebat soal halal haram. Wong, ditemukan aja belum.
Mungkin itulah fungsi LSM kayak MUI ini. Membuat ribet segala sesuatu. Agar kita gak bisa beranjak dari kesia-siaan.
"Mas, yang membuat sertifikasi halal. Apa sudah disertifikasi juga?"
Pertanyaan Abu Kumkum bikin gue semaput...
 
(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)
Sunday, September 20, 2020 - 21:00
Kategori Rubrik: