Vaksin Covid 19, Vaksin India

ilustrasi
Oleh :

, SpA -

Dalam waktu yang berdekatan India telah memberi ijin bagi 2 vaksin mereka, Covaxin dan Covashield. Covashield adalah vaksin Astra Zeneca/Oxford yang juga diuji klinik fase 3 di India. Hal ini penting sebagai persyaratan memperoleh ijin edar dan karena vaksin juga akan diproduksi di negara itu. Produksi di India akan dilakukan di Serum Institute, perusahaan vaksin terbesar di dunia. Skala produksi akan sangat besar dan dengan harga yang lebih memadai dibandingkan jika produksi dilakukan di pabrik Eropa.
Pihak AZ-O memang merencanakan memenuhi sebagian kebutuhan vaksin yang telah dipesan berbagai negara di dunia dari produksi Serum Institute tersebut. Saat ini order vaksin tersebut selalu berada dalam dua urutan teratas dihitung dari segi jumlah pesanan. Masalah baru muncul belakangan setelah ada larangan dari pemerintah India. Vaksin ini tidak boleh diekspor dan tidak boleh dijual di swasta. Pastilah pihak Serum Institute dan AZ-O jadi sibuk memikirkan solusi terbaik. Masih harus dinanti apa keputusan lanjutan yang akan mereka ambil.
Keputusan untuk “tidak mengambil untung berlebihan” diketahui dilakukan oleh banyak perusahaan. AZ-O, misalnya, menyetujui proposal Oxford yang sangat menuntut untuk soal harga murah ini sebelum mereka bekerja sama. Vaksin Baylor-E dari Texas, yang saat ini juga menjalani fase 3 di India, mungkin malah akan menjadi salah satu vaksin yang termurah di dunia. Negara yang bergabung dalam skema Covax juga sangat terikat dengan ketentuan “keadilan”. Tidak boleh ada negara yang ditinggal. Secara filosofis memang tidak layak mengambil banyak untuk saat semua orang dalam kesusahan.
Covaxin dibuat oleh Bharat, perusahaan vaksin terkemuka lain di India. Vaksin inactivated ini juga direncanakan diproduksi dalam skala sangat besar. Bisa dipahami, penduduk yang lebih dari 1 milyar tentu memerlukan vaksin dalam jumlah yang juga sangat besar.
Baik Covaxin maupun Covashield belum menyampaikan angka dari uji klinik fase 3 mereka sehingga para ahli vaksin tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka secara lebih saintifik. Hal serupa terjadi pula pada vaksin Sinopharm yang mendapat ijin di UAE dan Bahrain, sekalipun data hanya dicantumkan dalam dokumen pengajuan kepada badan otoritas di kedua negara.
Untuk Covaxin, sebenarnya ijin darurat India didasarkan atas hasil fase 2 pada sekitar 800 orang, ditambah hasil sementara fase 3 pada sekitar 22 ribu orang. Rencana fase 3 adalah 25 ribu orang. Analisis sementara menunjukkan vaksin ini aman dan efektif. Angka resmi yang bisa dianalisis oleh para ahli, sekali lagi, tidak dimunculkan. Pemerintah India sendiri menempatkan Covaxin sebagai back up Covashield.
Hasil fase 3 Covashield di India menunjukkan efikasi 70%. Mirip dengan hasil asli AZ-O dengan dosis penuh. Sekedar mengingatkan, hasil fase 3 vaksin AZ-O yang dipublikasi di jurnal menunjukkan bahwa ada beda antara dosis penuh dan dosis setengah dalam salah satu dari dua kali pemberian vaksin mereka. Secara mengejutkan, dengan mekanisme yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan saat ini, dosis setengah memberi hasil 90%.
Bandingkan dengan dosis penuh sesuai protokol yang hanya 60%. WHO senidir meminta efikasi minimal harus di atas 50%. Otoritas India menggunakan data fase 3 internasional dan data India sendiri untuk mengeluarkan ijin darurat bagi Covashield.
Sebenarnya India juga sedang melakukan uji klinik fase 3 untuk vaksin ketiga mereka, vaksin DNA Zydus Cadilla. Pelaksanaan dimulai 3 Januari 2021 dan direncanakan berlangsung hingga Maret. Vaksin DNA ini, seperti milik Inovio, tidak menggunakan injeksi. Vaksin ini dimasukkan melalui kulit melalui patch seperti plester.
Demikian kuliah lima menit pagi ini. Selamat beraktivitas.
Saturday, January 9, 2021 - 16:00
Kategori Rubrik: