Uyghur: Rakyat Tersesat, Pemerintah Tak Bertitah, AS Kena Karma

Oleh: Rudi S Kamri

 

Hari-hari terakhir soal muslim Uyghur di China menjadi bahasan sexy kaum pekok berjamaah di Indonesia. Mulai anggota DPR RI sampai rakyat jelata yang mungkin tidak tahu dimana Uyghur berada ramai-ramai mengunggah postingan #SaveUyghur di laman media sosial mereka. 

Dan seperti telah saya duga ujungnya adalah proyek Penggalangan Dana. Mereka buka rekening di bank syari'ah dan juga memobilisasi penggalangan dana di perempatan lampu merah dan di berbagai kegiatan pengajian. Strategi kuno yang sudah terduga dari awal.

 

√ Benarkah etnis Uyghur di China yang beragama Islam benar-benar didzolimi oleh pemerintah China ?

√ Akan sampaikah dana penggalangan dana dari rakyat Indonesia ke Uyghur ?

Di China terdapat 10 etnis yang beragama Islam antara lain Bao'an (Bonan), Tatar, Salar, uzbeks, kyrgiz, Dongxiang, Tajik, Uyghur, kazakh dan Hui. Sembilan etnis penduduk China yang beragama Islam tersebut semuanya hidup nyaman, aman, damai dan sejahtera di China, kecuali Uyghur. Mengapa?

Karena hanya suku Uyghur yang berideologi Pan-Turki yang berniat kuat melepaskan diri dari China. Dari data yang saya baca, Etnis Uyghur di China sudah berulang kali melakukan pemberontakan untuk berusaha memerdekakan diri dari China.Tentu saja China punya wewenang penuh untuk mengamankan situasi dan menjaga kesatuan wilayahnya. Artinya yang dilakukan oleh Pemerintah China selama ini adalah menjaga keutuhan wilayah untuk memerangi kaum separatis. Bukan memerangi agama dari etnis Uyghur.

Dari ideologi Uyghur yang keras, radikal dan tidak nasionalis ini tidak heran kalau pendukung gerakan separatisme Uyghur di Indonesia 99,99% adalah gerombolan pro khilafah, kaum manipulator agama dan kelompok desert lizart alias kadrun. Paham kan ?

Kelompok Islam moderat dan kelompok akal sehat lainnya di Indonesia yang biasanya terpelajar, intelektual dan punya daya literasi yang tinggi serta paham geopolitik global pasti tidak mau bereaksi dengan gejolak politik lokal di China. Karena kami sangat paham ini hanyalah permasalahan domestik di China yang sengaja diprovokasi oleh gerakan proxy global dimana Amerika Serikat terlibat di dalamnya. 

Kesimpulan pertama yang terjadi di Uyghur bukan pendzoliman agama tapi gejolak anak nakal yang sedang berusaha melepaskan diri dari induk semangnya yang diprovokasi proxy internasional.

Lalu mungkinkah dana yang dikumpulkan di Indonesia bisa sampai ke Uyghur. Bisa ya bisa tidak. Kalaupun bener disalurkan paling sekian persen dari total dana yang terkumpul. Dan itupun pasti tidak langsung ke Uyghur, karena pasti akan terdeteksi oleh Pemerintah China. Penyaluran bantuan pasti melalui gerakan Islam trans-nasional. Karena seperti halnya ISIS dan Ikhwanul Muslimin serta Hizbut Tahrir, etnis Muslim Uyghur berafiliasi ke kelompok radikal trans-nasional. Sisa dananya kemana ? Hmmm kayak gak tahu aje .......

Mungkinkah Amerika Serikat terlibat dalam proxy global tentang Uyghur ? Sangat mungkin. Seperti halnya dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam gejolak politik di Hongkong, bau-bau keterlibatan Amerika' sangat kuat di Uyghur. Karena Amerika punya agenda untuk menganggu fokus dan konsentrasi Pemerintah China. Hal ini terkait dengan terjadinya 'trade war' atau perang dagang antara Amerika Serikat vs China yang saat ini masih memanas. 

Tapi Gusti Allah mboten sare,
Karena nakalnya Donald Trump yang suka iseng mengganggu kedamaian rumah tangga negara lain, saat ini dia sedang tertimpa adzab karma: sedang dimakzulkan alias diimpeach oleh Kongres Amerika Serikat. Hmmm karma bagi orang jahat itu tidak perlu menunggu waktu lama ternyata. Kapok ko'en....

Dari keriuhan yang terus berulang tentang Uyghur ini, saya menyesalkan lambatnya Pemerintah memberikan respons. Seharusnya Pemerintah atau tokoh agama segera memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kondisi yang sebenarnya di Uyghur. Yang terjadi saat ini seolah negara tidak hadir untuk meluruskan persepsi sebagian rakyat yang keliru tentang Uyghur. Dalam kasus kesesatan informasi tentang Uyghur ini saya menilai Pemerintah telah abai karena membiarkan sebagian rakyatnya terjerumus ke dalam lumpur kepekokan.

So, kalau ada anak-anak Kadrun teriak- teriak #SaveUyghur di jalanan, bilang saja ke mereka: mainmu kurang jauh Tong. Makanya jangan hanya ke Monas mulu, sekali-kali ke Colosseum kek !!!

Salam SATU Indonesia

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Sunday, December 22, 2019 - 07:30
Kategori Rubrik: