Utang Soeharto vs Utang Jokowi

 

Oleh: Alifurrahman

Berita penipuan yang dilakukan oleh rimanews.com tentang utang luar negeri di era Soeharto dan Jokowi sepertinya perlu saya tanggapi dengan kepala sedikit hangat. Silakan perhatikan di gambar di atas, sangat jelas rimanews.com coba mengelabui publik. Data serampangan coba disajikan dengan penghitungan sangat tidak akurat, ada unsur mencoba memainkan nilai kurs agar seolah-olah utang Indonesia di era Jokowi menjadi lebih banyak dari yang sebenarnya. Karena itu, saya tidak akan menggunakan penghitungan dalam kurs rupiah ketika menganalisis data berdasarkan tabel utang Indonesia yang saya ambil dari laporan Bank Indonesia untuk Desember 2015.

Andaipun terpaksa dirupiahkan maka untuk memudahkan adalah memukul rata utang ke dalam hitungan kurs yang sama. Supaya memudahkan kita ambil 1 dollar = 10.000 rupiah.

Tercatat pada oktober 2014 posisi utang Indonesia adalah 296,181 miliar dollar atau kalau dirupiahkan menjadi 2.961.81 triliun. Sementara data terakhir dari Bank Indonesia saat ini posisi utang Indonesia adalah 304,118 miliar dollar atau 3,041,18 triliun rupiah. Ada peningkatan sebesar 7,93 miliar dollar atau hampir 80 triliun rupiah.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dari sejak 2010, pada 2015 ini merupakan tahun paling lambat laju pertumbuhan utang luar negeri Indonesia. Dari 2010 ke 2014 ada pertambahan utang sebagai berikut:

2011: +22,96 miliar dollar
2012: +26,98 miliar dollar
2013: +13,74 miliar dollar
Oct 2014: +30,07 miliar dollar

Meskipun dengan pertumbuhan utang hanya 7,93 miliar dollar di 2015, namun pembangunan infrastruktur benar-benar tak terhitung jumlahnya. Sangat jauh dibandingkan 10 tahun SBY memerintah dan sudah menambah utang 156,31 miliar dollar, tapi sedikit sekali pembangunan infrastruktur dan bahkan mangkrak.

Penipuan publik yang dilakukan oleh rimanews.com juga sangat kentara dengan membandingkan era Soeharto, di mana saat itu kurs rupiah masih di bawah 5.000 per dollar. Setahu saya, Soeharto mewariskan lebih dari 100 miliar dollar, tepatnya 145 miliar dollar. Yang kemudian berkurang di era Habibie 142 miliar dollar, Gus dur 133 miliar dollar dan bertambah menjadi 139 miliar dollar di era Megawati. Kalaupun benar Soeharto hanya mencatat utang 53,8 miliar dollar, bukan berarti Soeharto hanya meninggalkan 261,2 triliun rupiah. Jika dikurs ke 10.000 per dollar itu artinya Soeharto meninggalkan 538 triliun rupiah. Dengan catatan rasio utang terhadap PDB di atas 100%. Berbanding terbalik dengan sekarang yang rasionya hanya di bawah 30%. Inilah mengapa Soeharto sukses menghancurkan Indonesia ke dalam krisis ekonomi.

Jika memang mau membandingkan dalam nominal dollar, gunakan dollar. Jangan menggunakan nominal dollar di era Soeharto dengan kurs di bawah 5.000 rupiah lalu dibandingkan dengan era Jokowi yang kursnya sudah di atas 13.000 rupiah. Kalau dulu 100 perak kita masih bisa makan kenyang, sekarang 100 perak hanya cukup beli permen satu. Lalu kalian masih mau membandingkannya?

Gila aja!

 

Sumber: Seword.com

Monday, December 28, 2015 - 11:30
Kategori Rubrik: