Utang Pemerintah Nggak Karuan, Dengkulmu!

Oleh: Niken Satyawati

Saya punya kawan yang "super pinter". Kepintarannya terlihat sejak jagoannya kalah Pilpres 2014. Bukti kepintarannya adalah dia rajin membuat status panjang untuk mengulas berbagai isu, yang penting bisa menyudutkan pemerintah. Padahal sebelum Pilpres status medsosnya berisi barang dagangan. Begitu rupanya yang dilakukan untuk membalaskan sakit hati dan melampiaskan benci. Terus menggoreng isu demi merawat kebencian terhadap pemerintah yang sah. Saya paham lah dia sebenarnya kayak apa. Tapi soal dia mendadak pintar ini maklum saja kalau melihat timeline dia, rujukannya tak jauh-jauh dari Yang Mulia Raja Hoax sekaligus Sang Pangeran Kebencian dengan likers-nya 1,5 juta itu. 
 

Salah satu isu yang dia ulas berulang-ulang, kalau tidak soal PKI bangkit lagi adalah soal utang pemerintah. Dia bilang di status terbarunya, utang pemerintah nantinya akan membuat setiap warga negara harus membayar sekian belas juta. Emang sejak kapan setiap warga negara diminta ikut membayar utang pemerintah? Kalaupun ada, saya yakin dia gak akan keluarkan duitnya. Utangnya sendiri sama saya aja udah lama nggak dia bayar.

 

 

 

Semula saya beranggapan sakbahagianya dia ajalah. Malas saya debat saya orang yg gak level. Tapi lama kelamaan karena dia bolak balik “menyalak” soal itu-itu lagi, saya pikir saya perlu bikin status buat mengimbangi. Khususnya soal utang pemerintah, memang benar bahwa memiliki utang. Namun utang Indonesia itu merupakan utang yang produktif, dan jumlahnya tidak tergolong besar, bila dilihat debt to Gross Domestic Product (GDP), rasio Indonesia hanya 27%.

Rasio utang Indonesia saat ini bila dibagi 260 juta penduduk Indonesia, maka setiap orang memiliki tanggungan utang 997 dolar AS atau setara Rp 13 juta. Namun negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat beban utang setiap warganya jauh lebih tinggi. Di AS setiap kepala menanggung utang 62.000 dolar AS. Sedangkan kalau di Jepang sebesar 85.000 dolar AS per kepala. Kondisi utang Indonesia masih bisa terbantu dengan banyaknya jumlah penduduk usia produktif. Sementara di Jepang, rata-rata penduduknya berusia tua atau di atas 40 sampai 60 tahun. Sehingga, harapan melunasi utang Indonesia lebih tinggi ke depannya seiring digenjotnya ekonomi oleh pemerintah.

Ohh yaa...  pada masa pemerinthn Presiden Jokowi meningkat ratio-nya. Namun semua utang pada APBN 2017 merupakan utang yang sehat. Catat ya, utang itu produktif dan sehat. Kenapa? Karena untuk membiayai anggaran terbesar di tahun 2017 yaitu membangun infrastuktur. Pembangunan infrastruktur ini sangat penting dan vital, dan pembangunannya dilakukan di seluruh Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Pembangunan infrastruktur harus dilakukan karena selama ini lumayan diabaikan oleh pemerintah sebelum-sebelumnya. Pembangunan jalan raya, jembatan, pelabuhan, terminal, bandara itu untuk mempermudah akses antar daerah, dan juga menjangkau daerah-daerah yang tadinya nyaris tak terjangkau. Ingat juga bahwa tekanan dalam pembangunan yang dilakukan pemerintah Presiden Jokowi adalah pemerataan. Pembangunan di semua daerah, bukan hanya Jawa dan ibukota-ibukota Provinsi saja.

Tidak heran APBN untuk pembangunan infrastruktur menjadi yang terbesar dari tahun-tahun sebelumnya, karena Presiden Jokowi ingin semua daerah merasakan pembangunan. Warga negara Indonesia ada dari Sabang sampai Merauke. Banyak di antaranya belum pernah merasakan nikmatnya pembangunan, belum pernah merasakan nikmatnya jalan aspal, belum pernah merasakan terangnya lampu listrik, dan baru merasakan saat pemerintahan Presiden Jokowi!

Anda juga bisa melihat visualisasi di “The Snowball of Debt” di atas dan membaca beritanya di marketwatch.com. “The Snowball of Debt” menjelaskan bahwa semakin banyak hutang dari tiap masyarakat di sebuah negara, maka negara tersebut akan makin ke tengah. Negara terlihat makin besar jika hutang per kapita untuk membayar hutang negaranya semakin tinggi. Sekarang lihat di mana Indonesia. Ada di pinggir yang saya lingkari warna merah, terlihat kecil mungil dan berwarna hijau. Artinya apa? Artinya utang pemerintah sangat aman, dan bahkan jauh lebih aman dibanding utang negara-negara maju yang sering dibanggakan grup sebelah.

Soal utang ini teman saya menyebut utang pemerintah Jokowi nggak karuan. Dan komen saya singkat saja: nggak karuan dengkulmu ambyar!

Well... Setelah melihat apa gunanya pemerintah berutang dan setelah dibandingkan dengan utang negara lain, saya nggak yakin juga teman saya akan berhenti menyalak. Jangankan soal utang. Soal kancing jas Presiden dan kaus kaki aja bisa bikin dia berstatus heboh seperti terjadi gempa bumi.

 

Asudahlah...

 (Sumber: Facebook Niken Satyawati)

Thursday, July 20, 2017 - 12:15
Kategori Rubrik: