Usung Ahmad Dhani, PKB Salah Strategi

Oleh : Ricky Vinando

Satu persatu partai politik akhirnya mulai melakukan penjaringan terhadap bakal calon Gubernur DKI Jakarta. Setelah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang telah membuka proses penjaringan, kini Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pun resmi menyusul membuka proses penjaringan bakal calon Gubernur DKI Jakarta untuk bersiap-siap menghadapi Pilgub DKI pada 2017 mendatang. Partai Kebangkitan Bangsa secara mengejutkan mengusung Ahmad Dhani, musisi populer tanah air yang sempat heboh akan aksi kontroversinya saat Pilpres lalu. PKB hakulyakin Ahmad Dhani akan menang jika dipasangkan dengan siapapun juga.

Namun jika dicermati kembali rupanya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sedang mencoba meniru dan memainkan gaya yang pernah dilakukan oleh Partai Amanat Nasional yakni dengan mencalonkan Vokalis Ungu, Pasha ‘’Ungu’’ yang berhasil memenangkan Pilkada Palu sebagai Wakil Walikota Palu serta selebriti Zumi Zula yang berhasil memenangkan pertarungan pada Pilkada Provinsi Jambi, yakni sebagai Gubernur Jambi. Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh PKB dengan mencalonkannya sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta hanya akan menjadi sebuah ajang penghiburan semata. Meskipun Ahmad Dhani memiliki segudang prestasi dalam dunia industri musik serta memiliki lagu-lagu yang sangat populer, juga memiliki popularitas yang cukup tinggi, hal itu saja tidaklah cukup untuk membuatnya dapat mulus memimpin ibukota. Ada 5 alasan mengapa Ahmad Dhani akan berjalan tidak mulus pada Pilgub DKI mendatang.

Pertama. Partai Amanat Nasional yang mencalonkan Zumi Zola yang lalu kemudian menang bukan semata karena popularitas yang dimiliki oleh Zumi Zola yang terpilih sebagai Gubernur Jambi. Salah satu faktor yang membuat Zumi Zola dengan mudah memimpin Jambi tak lain adalah disebabkan oleh faktor ayahnya yang pernah menjadi Gubernur Jambi selama dua periode berturut-turut. Hal lain yang membuatnya mulus melanjutkan suksesi kepemimpinan di Provinsi Jambi juga tak lain disebabkan oleh bukan hanya prestasi yang dihasilkannya di dunia perfilman tanah air melainkan juga Zumi berbeda dengan Ahmad Dhani yang sering membuat kontroversi, dan hal ini tak berbanding lurus dengan pengalamannya dalm mengelola birokrat pemerintahan. Dan meskipun Pasha ‘’Ungu’’ sukses terpilih sebagai Wakil Walikota Palu, hal ini sesungguhnya bukan karena faktor popularitas semata, melainkan juga Pasha ‘’Ungu’’ yang sudah belajar banyak tentang cara memimpin dari sesepuh PAN, sebut saja Hatta Radjasa, terlebih lagi Pasha juga memiliki kedekatan emosional dengan Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN. Meskipun Ahmad Dhani memiliki juga kedekatan emosional dengan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, hal ini saja tak cukup karena selama ini lebih banyak kontroversi yang dibuat Dhani ketimbang mendalami ilmu pemerintahan dan politik, Sebagaimana yang dilakukan oleh Pasha ‘’Ungu’’ selama ini.

 Kedua. Kemenangan Zumi Zola yang meraup suara diatas 55% bukanlah ujug-ujug demikian. Zumi Zoula yang memiliki ayah yang pernah memimpin Jambi selama dua periode pun diyakini sudah belajar banyak dari ayahnya bagaimana mengelola dan menghadapi birokrat pemerintahan, karena jika Zumi tak banyak belajar dari ayahnya yang juga mantan Gubernur Jambi dua periode kemenangan hingga diatas 55% adalah sulit tercapai karena yang dibutuhkan masyarakat Provinsi Jambi bukan hanya sekedar popularitas tetapi juga kemampaun dalam mengelola dan menjalankan roda pemerintahan yang bersih , transparan dan proporsionalitas.

Ketiga. Hingga saat ini yang terlihat jelas Ahmad Dhani hanya mengandalkan tingkat popularitas semata. Tingkat popularitas yang ia miliki perlu juga diingat bahwa itu popularitas dibidang industri musik bukan di dunia birokrat maupun di dunia politik. Meskipun Zumi Zola tergolong baru masuk partai politik, namun salah satu faktor utama yang membuatnya menang telak tak lain adalah disebabkan faktor ayahnya yang pernah memimpin provinsi Jambi selama dua periode. Dan jika Ahmad Dhani hanya mengandalkan popularitas semata, maka benar pencalonannya ini hanya sekedar hiburan semata. Karena masyarakat DKI Jakarta tentunya tak akan asal pilih Gubernur, karena ini akan menjadi pertaruhan kedepannya bagi masyarakat DKI Jakarta, terutama soal pembangunan dan anggaran yang selalu bocor jika tak serius menjaga anggaran sebagaimana Ahok yang kini jadi penjaga anggaran DKI Jakarta. Namun Ahmad Dhani jangan senang dulu, karena PKB pun membuka peluang untuk mengusung Sandiaga Uno bahkan hingga Ahok yang memiliki peluang lebih besar dari pentolan grup musik Dewa 19 tersebut.

Keempat. Secara finansial, Ahmad Dhani memiliki kelebihan dan hal ini saja tidaklah cukup untuk membuatnya dapat meraih kursi DKI-1 karena yang dibutuhkan oleh masyarakat DKI Jakarta ditengah krisisnya pemimpin berkelas adalah memilih pemimpin yang sudah terbukti dalam kepemimpinannya. Hal ini menjadi alasan utama yang akan dipertimbangkan oleh masyarakat DKI Jakarta. Masyarakat tidak mau jika seorang bakal calon Gubernur apalagi bakal calon Gubernur DKI hanya mengandalkan tingkat popularitas emata dan finansial semata, karena ini sesungguhnya akan menjadi petaka besar bagi masyatakat DKI Jakarta. Menjadi petaka karena tak akan ada jaminan bahwa proses pembangunan dan pengelolaan ibukota negara ini bisa menjunjung tinggi keterbukaan, proporsionalitas dan integritas, serta kapasitas. Menjadi seorang pemimpin apalagi Jakarta yang menjadi barometer pembangunan di seantero nusantara ini tentulah menjadi harga mati bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang telah terbukti akan kinerjanya dan berpihak kepada rakyat.

Kelima. Meskipun Ahmad Dhani akan berdagang visi-misi yang selangit seperti program pembangunan infrastruktur, termasuk pula program kesejahteraan rakyat. Hal itu tetap saja sulit untuk membuatnya memenangi pertarungan memperebutkan kursi DKI-1. Karena tentunya akan menjadi bumerang bagi masyarakat DKI Jakarta jika salah pilih pemimpinnya. Masyarakat DKI akan lebih cenderung memilih pemimpin yang sudah terbukti akan kinerjanya bukan calon yang hanya mengandalkan popularitas semata. Jika Ahmad Dhani berpandangan bahwa ia akan menang mudah pada Pilgub DKI mendatang, hal tersebut adalah salah besar karena masyarakat DKI tak akan memilih pemimpin yang kontroversi. Meskipun Ahok juga sosok kontroversi hal ini berbanding hingga 360 derajat, karena dalam beberapa tahuh kepemimpinan Ahok, Ahok sudah dapat menjalankan program-program yang merakyat, salah satunya cara mengatasi banjir yakni memindahkan mansyarakat yang tinggal di pinggir sungai atau kali ke Rusunawa, cara ini sangat manusiawi dan bahkan sudah menjalankan perintah atau amanah UUD 1945 mengenai kewajiban negara menyediakan tempat hidup yang layak bagi warga negaranya. Atas dasar 5 alasan utama diatas tentunya masyatakat DKI Jakarta akan kembali berhitung sebelum memilih pemimpinnya. Terlebih lagi saat ini banyak sekali nama-nama yang siap bertarung dalam Pilgub DKI walaupun belum mendeklarasikan diri untuk berebut kursi DKI-1. Kata kunci yang harus diingat bersama adalah bukti kepemimpinan yang telah terbukti bukan akan membuktikan kepemimpinan.

 

Sumber : Kompasiana

Thursday, February 11, 2016 - 17:30
Kategori Rubrik: