Ustadz yang Tersesat

ilustrasi

Oleh : MUhammad Jawy

Mengapa orang berpendidikan tinggi juga termasuk yang ikut menyebarkan hoaks? Mengapa seorang ustadz yang fasih mengutip hadits shahih juga ada yang ikut menyebarkan hoaks?

Padahal seorang dengan jenjang akademik yang tinggi, ia tahu persis bahwa sebuah pernyataan yang dibuat harus dilandasi referensi yang sangat kuat. Tidak mungkin ia bisa lolos thesis atau disertasi kalau membuat klaim tanpa menggunakan referensi yang kuat.

Padahal seorang yang fasih dengan ilmu musthalah hadits, paham betul, bahwa sebuah kabar yang diterima itu syaratnya sangat ketat, diantaranya sumbernya jelas, dan jalur periwayatan yang kuat.

Nah jawabannya ternyata tidak sederhana, namun paling tidak dari observasi saya beberapa waktu terakhir ada beberapa hal:

1. Kebencian yang akut. Kebencian menyuburkan hoaks, dan hoaks mempertebal kebencian. Ini adalah lingkaran setan yang bisa menjerat siapapun. Sekali kita terbujuk untuk membenci seseorang, sesuatu, maka informasi apapun yang bisa menjatuhkan orang itu, akan cenderung mudah kita terima dan kita sebarkan. Repotnya kalau sudah kecanduan, susah sekali mengobatinya.

Obatnya: memupuk sifat kemanusiaan dan welas asih pada diri kita, sehingga ketika melihat kesalahan atau kekurangan orang lain, sikap kita adalah ingin memperbaiki atas dasar kasih sayang, bukan karena kebencian.

2. Dunning Kruger Effect. Ada doktor yang ikut menyebarkan teori konspirasi. Ia gagal menyadari bahwa topik dalam teori konspirasi itu sama sekali bukan keahliannya. Namun ia terlalu bodoh untuk memahami bahwa ia sebenarnya bodoh dalam hal itu, dan ia menganggapnya gelar doktornya tidak mungkin membuat ia sebodoh itu. Ini adalah bias kognitif yang sering terjadi.

Obatnya: memperbanyak wawasan, selalu berpikir kritis, dan berpikir terbuka, menyadari kemungkinan salah dalam pendapatnya. Tidak kalah penting adalah mengetahui dalam sebuah topik keilmuan, siapa dan dimana informasi kredibel itu bisa diambil.

3. Mob Mentality. Media sosial, group percakapan, cenderung mendorong kita masuk dalam kelompok yang semakin homogen. Teknologi ini membuat manusia yang secara alamiah tidak menyukai perbedaan, masuk ke dalam ruang gema dengan isi yang mencocoki keyakinannya. Semakin lama dan dalam berkutat dalam ruang gema homogen ini, semakin tidak mendengar ia pendapat orang lain yang berada di luar kelompoknya. Toleransi semakin menipis, orang mudah menjadi bigot. Mob mentality ini membentuk suasana psikologis dimana orang mudah sekali menerima informasi dari orang dalam ruang gema itu, entah benar atau tidak.

Obatnya: memperluas pergaulan, jangan hanya berteman dengan orang yang satu pendapat. Biasakan mendengar orang yang berbeda pendapat. Putuskan hubungan, unfriend hanya kepada mereka yang toksik, yang pendapat ngawurnya hanya akan membuat kita sakit jiwa.

Wallahua'lam.

Sumber : Muhammad Jawy

Tuesday, June 30, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: