Ustadz Politik

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Ke depan nanti saya mau usul bagaimana kalau profesi guru ngaji, guru agama dan ustadz itu dibikin kayak polisi atau tentara saja. Bekerja sepenuhnya untuk kepentingan bangsa, pada masing-masing agamanya. Tapi tidak punya hak pilih. Tidak perlu kampanye atau dukung-dukung calon pejabat dan penguasa.

Sebab kalau kayak sekarang ini, para ustadz mengganti kurikulum pengajian dan silabus jadi ajang kampanye murahan, bawa-bawa ayat untuk dukung sana hajar sini, oengajian jadi runyam.

Bukannya berbagi ilmu tapi malah mengerahkan jamaahnya untuk pilih tertentu. Untung kalau jamaahnya sejalan. Gimana kalau jamaahnya majemuk, multi pilihan politik. Maka ribut doang isi pengajiannya.

Ustadz itu seharusnya adalah pihak yang berdiri di tengah, kayak polisi atau tentara itu. Bayangkan kalau polisi kok malah ikut kampanye, runyam jadinya.

Misalnya polisi boleh kampanye dukung salah satu paslon, maka kalau lagi ditilang, tinggal pakai kaos bergambar paslon tertentu sesuai pilihan polisi, lalu bebas melanggar semua aturan lalu lintas.

Maling yang nyolong di malam hari, cukup pakai kaos paslon yang didukung polisi, aman dan lolos dari kantor polisi. Silahkan nyolong kapan saja dimana saja. Toh sudah ada dekinganya.

Kalau ustadz ikut kampanye, jelas para pelaku dosa jadi senang. Asalkan pilihan politiknya sama dengan pak Ustadz, semua yang haram bisa jadi halal semua. Sudah terbukti di lapangan. Lihat bagaimana mencaci maki jadi halal. Dusta dan hoaks jadi halal. Ngebuli jadi halal. Yang penting punya pilihan yang sama dengan pak Ustadz.

Payah . . .

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc. MA dengan judul asli Ustadz Kampanye

Saturday, March 16, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: