Ustadz Masih Hobi Bahas Politik

ilustrasi
Oleh : Widhi Wedhaswara
 
Perlakukan seorang ustadz sesuai kapasitasnya. Kalau tadinya artis, ya tanya-tanya gosip seputar artis saja. Minimal dihargai endors-endorsnya itu. Dibeli lah  biar dia senang. Apa kek, jilbab, koko, obat jenggot, minyak wangi atau kurma, jintan hitam, madu, kadal mesir atau apa lah. Menyenangkan orang kan dapat pahala. Apalagi ini usahanya ustadz lho. Dapat berkah tuh.
 
Kalau dia tadinya muallaf, ya tanya seputar pengalaman jadi muallaf. Jangan tanya konsep hukum jinayat apalagi negara Islam, soalnya kita malah jadi ngerjain si ustadz. Dia akan sibuk buka literatur, mana gak bisa bahasa Arab. 
Kalau dia latar belakang partai politik, wajar ceramah seputar keburukan lawan politiknya. Kan memang itu peran utamanya. Oh iya, mohon pengertiannya juga. Jangan lupa setiap dia ambil nafas dalam orasinya, mohon dihargai, minimal disambut dengan pekik berjamaah : Allahu akbar. Mohon dihargai sedikit. Masak diam saja, nanti penampilannya gak kaya politikus dong.
 
Kalau tadinya motivator?  
 
Kalau dia aslinya motivator, ya mudah sekali. Ikuti saja koor dan yel-yelnya : Apa kabar hari ini? Jawab yang kompak : Subhanallah, luar biasa, Allahu Akbar. Tepuk tangan  plok plok plok . . .
 
Sumber : Status Facebook Widhi Wedhaswara
Thursday, June 6, 2019 - 17:30
Kategori Rubrik: