Ustadz Bisnin VS Bisnis Ustadz

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Kalau ada ustadz berbisnis, wajar dan silahkan-silahkan saja. Bisnis hasil bumi, pertanian, perikanan, pertambangan, dan lainnya. Jangan hanya mengandalkan hidup dari honor. Berbisnislah sewajarnya.

Yang jadi masalah itu adalah : Bisnis Ustadz. Maksudnya jadi ustadz tapi dibisniskan. Contohnya diundang tapi pasang tarif, bahkan untuk bisa didatangkan ustadznya mensyaratkan harus paket lengkap.

Ustadznya hanya mau diundang ceramah, tapi pengundang dibebani biaya tetek bengek. Misalnya harus ada juga sekian banyak crew, termasuk pengawal 10 orang, harus include paket dengan bisnis-bisnis titipan si ustadz.

Managemen si ustadz lantas mau buka stand, mau dagang, macam-macam produknya. Tentu semua terkait si ustadz. Kemana si ustadz ceramah, team bisnisnya ikut mengekor.

Pengajian yang seharusnya majelis ilmu, ternyata berubah jadi showbiz project, bisnis pertunjukan, layaknya artis dan celebrity.

Boleh?

Ya boleh-boleh saja sih. Tapi . . .

Saya merasanya dalam hati kok agak kurang sreg ya. Nggak tahu kalau orang lain.

Apalagi kalau saya bandingkan dengan saya kuliah dulu, belajar ilmu agama kepada para masyaikh. Style mereka kok jauh dari gegap gempita bisnis dan show.

Apalagi dibandingkan dengan talaqqi di Azhar, Mesir. Disana tiap hari kita belajar kepada para ulama betulan yabg memang diakui ilmunya, jelas kudu pakai kitab, ngajarnya pakai sanad, penuh ilmu, penuh berkah. Tidak ada embel-embel bisnis ustadz macam disini.

Kalau disini ustadznya yah tahu sendiri. Tapi kan tidak boleh cerita yang jelek. Harus husnuzzhan.

Tapi kalau melihat jamaahnya yang ramai datang berbondong berkerumun, ternyata satu pun tidak ada yang bawa kitab. Yang dibawa hp, buat nanti selfi sama ustadznya.

Kalau ditanya, ngaji kitab apa, ngaji ilmu apa? Semua menggeleng menjawab mantab : Gak tau. Pokoke semangat dakwah lah...

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Wednesday, September 18, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: