Usia Favoritan

ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Saya mengira protes Bapak/Ibu sekalian soal tolok ukur usia disebabkan karena ananda tercinta tidak dapat masuk sekolah di dekat rumah. Terlepas dari ananda tercinta nilainya bagus, jelek atau biasa-biasa saja.

Ternyata orang tua yang protes karena anaknya tidak masuk ke sekolah favorit dekat rumah mereka. Atau diluar zonasi.

Bagi saya sikap ini memprihatinkan.

Para orang tua memaksakan ananda tercinta ke sekolah yang dipandang favorit.

Dan itu dilakukan dengan berbagai cara.

Saya dipahamkan bahwa untuk mensiasati kebijakan Pemda DKI yang memakai sistem ranking nilai dalam zonasi, banyak orang tua yang sampai-sampai menitipkan nama anaknya ke Kartu Keluarga orang lain. Yang rumahnya dekat dengan sekolah favorit.

Entah itu KK tantenya, omnya, pakde, budhe eyangnya atau kenalan orang tua.

Cara ini efektif ketika.Pemda DKI menerapkan sistem nillai dalam zonasi. Yang sebenarnya bertentangan dengan aturan zonasi Kemendikbud.

Namun segenap upaya itu ambyar ketika tolok ukur nilai tidak ada lagi. Dan usia yang sekarang jadi andalan.

Saya sangat menyayangkan jika alasan anak pintar tidak dapat masuk sekolah favorit dekat rumah, menjadi alasan memprotes tolok ukur usia.

Harusnya yang diprotes adalah faktor kedekatan rumah dengan sekolah. Bukan yang lain.

Saya tidak sepakat jika ada orang tua yang mengeluh anaknya yang pintar masuk ke sekolah yang tidak favorit. Mereka mengatakan motivasi belajar anak akan turun kalau masuk sekolah bukan favorit.

Harusnya tidak boleh demikian.

Justru harusnya malahan bersyukur, putra/putri tercinta menjadi juara kelas di sekolah yang mungkin dikenal sebagai sekolah elit atau ekonomi sulit.

Sekolah elit sebagian besar muridnya lambat menerima pelajaran. Kebanyakan siswanya adalah penerima KJP,.Kartu Jakarta Pinttar dan sejenisnya.

Ananda tercinta yang pintar pasti gemilang di kelasnya karena berhadapan dengan para siswa yang kurang menangkap capaian akademisnya.

Dan ajarkan mereka untuk tidak sombong.

Ajarkan ananda untuk berbagi kepintaran dengan mengundang para teman mereka yang kurang pintar atau orang tuanya tidak punya untuk belajar bersama di rumah Anda.

Kebiasaan semacam itu tidak hanya membuat ananda bintang kelas tetapi juga terasah empati kepada sesama dengan makin tebalnya rasa welas asihnya.

Sungguhlah ini merupakan amalan kebaikan yang akan membentuk kepribadian ananda tercinta menjadi manusia yang mumpuni ketika dewasa nanti.

Saatnya kita membangun mimpi bagi anak-anak kita dan menularkan kepada teman-temannya, bagaimana bermimpi sekaligus cara mewujudkannya.

Agar sukses bersama dan teman-teman buah hati tercinta sekelas dan satu sekolah tidak menjadi penjaga toko, buruh pabrik, kasir mini market atau pengojek online..

Melainkan menjadi insan yang bisa mengulurkan tangan ketimbang mengadahkan tangan.

Yang hidup sukses memanfaatkan daya kreatif dan hasil pikir hingga terhindar hidup sebagai orang yang fakir.

Jadi sekali lagi, protes tolok ukur usia tidak bisa dijadikan tameng agar anak masuk sekolah favorit.

Yang harus diprotes adalah kenapa tidak bisa masuk ke sekolah dekat rumah.

Mau favorit atau tidak.

Mau anak anda pintar atau tidak.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Saturday, June 27, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: