Use Your Superpower and Get Well Soon Indonesia

ilustrasi

Oleh : Raihan Lubis

Saat ini negara dalam keadaan darurat wabah Covid19 sampai 29 Mei 2020. Saya bersyukur memiliki dua pengalaman di wilayah dalam keadaan darurat. Pertama, ketika pemerintah memutuskan Aceh berstatus darurat militer pada Mei 2003, dan kedua ketika tsunami meluluhlantakkan Aceh, Desember 2004. Dari dua pengalaman itu ada hal yang ingin saya sampaikan; sesungguhnya bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa dalam banyak bencana dan keadaan darurat- yaitu semangat saling bantu dan saling dukung juga rasa solidaritas yang tinggi.

Hari-hari belakangan ini dapat kita lihat begitu banyaknya orang yang mau menyumbang tenaga, uang bahkan sampai nyawa mereka demi penanganan wabah Covid19 ini. Begitulah sejatinya orang Indonesia, saling tolong, gotong royong, punya empati yang tinggi, ada rasa solidaritas yang luar biasa. Modal sosial ini hendaknya kita jaga bersama. Mari saling mengingatkan dan saling dukung. Saatnya kita kembali menyatukan langkah, berjalan bersama untuk menghalau Covid19 ini agar Indonesia segera pulih.

Walau banyak yang coba memancing di air keruh, mengambil keuntungan di masa sulit ini sampai menyebar hoaks yang menyesatkan. Tapi yakinlah jika lebih banyak orang baik di luar sana.

Kadang-kadang kita memang nyaris putus asa, marah pada pemerintah dan juga pada orang-orang yang tidak punya sense of crisis.Tapi apa mau dikata. Kita (kata teman saya sih; elo kali Re) orang yang jauh dengan pusat-pusat kekuasaan sehingga hanya bisa ngedumel dan marah pada pemerintah yang rada lelet dalam mengantisipasi wabah ini.

Jadi lupakanlah kejengkelan pada pemerintah. Ada jutaan rakyat Indonesia yang lebih punya kekuatan untuk bergerak bersama dalam menghadapi wabah ini. Semua dari kita terdampak. Bukan hanya para Pedagang Kaki Lima, tapi juga para pemilik bisnis besar pun mulai goyang. (Mungkin para ASN saja yang tidak pusing kepala).

Jatah Hidup Kaum Duafa

Tukang sayur gerobak dekat rumah saya mulai melakukan pesan antar buat orang-orang yang memilih berdiam di rumah. Mungkin ini hal sepele, tapi buat saya pribadi apa yang dilakukan si tukang sayur ini sungguh luar biasa. Dia mencari cara untuk survive di tengah wabah ini sembari juga membuat orang lain survive. Abang tukang tahu langganan saya juga mengaku jalan ke tempat-tempat yang lebih jauh dari yang selama ini dilakukannya. Pertama tentu saja agar dagangannya habis tapi lebih dari itu dia khawatir jika ada orang yang tidak bisa membeli makanan dengan keluar rumah. “Jadi saya mendatangi mereka. Mudah-mudahan saya tidak tertular virus,” katanya penuh semangat. (Semoga Bang, kata saya dalam hati. Doa terbaik buat si abang).

Beberapa toko ritel seperti di Bogor juga sudah menyediakan layanan antar dengan bebas ongkos untuk jumlah minimum tertentu. Bagi yang punya uang mungkin tak masalah. Sementara bagi yang tidak punya uang dan tabungan, harapannya ada gerakan ‘food bank’ untuk mereka (ini sudah diinisiasi oleh kitabisa.com). Tapi tak ada salahnya juga berharap agar pemerintah dapat mulai mendata orang-orang dengan penghasilan rendah (golongan fakir dan duafa) agar diberi jadup (jatah hidup) seperti yang dilakukan di daerah pascabencana- dimana setiap orang yang terdampak dengan catatan tidak punya penghasilan tetap dapat diberi uang tunai. Cuma tantangan dalam penyaluran dana di negeri ini adalah transparansi di bawah bayang-bayang korupsi. (Halah, maafkan syakwa sangka saya)

Semoga gerakan-gerakan yang sudah digagas saat ini dapat terus dilanjutkan dan semoga pemerintah segera mengambil langkah-langkah strategis dan taktis. Mari galang solidaritas kita untuk memulihkan negeri ini dari virus Covid19. Yakinlah kita bisa!

Sumber : Status Facebook Raihan Lubis

Saturday, April 4, 2020 - 07:45
Kategori Rubrik: