Usai Di Pecat Fahri Meratapi Kursi Atau Rakyat?

Oleh : Zulfikar Akbar

Ada kegelisahan kuat yang saya simak dari isi Twitter Fahri Hamzah beberapa hari ini. Ada gelagat tidak beres, begitu firasat saya pribadi. Hanya dalam hitungan hari, gelagat itu menguat dan Fahri dipecat.

Awalnya, saya nyaris terkecoh anggapan beberapa pengguna Twitter, jangan-jangan ini hanya bagian dari "April Mop" yang sedang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Tapi mengingat "wajah" serius orang-orang partai tersebut, rasanya tak mungkin jika ini sekadar sebuah guyonan dari partai yang pernah memiliki pengaruh sangat besar itu.

Fahri benar-benar dipecat. Dan, isi Twitter politisi itu pun saya simak kian bernuansa kegelisahan kuat. Seperti ada ketakutan akan adanya sesuatu yang penting yang selama ini sangat dipertahankannya, akan hilang.

Ya, dia saat ini adalah salah satu dari anggota dewan yang konon terhormat. Di sana pun ia menjadi salah satu tokoh, mengisi kursi wakil ketua, sebuah kursi yang bisa dipastikan takkan bisa membuat siapa pun penat. Meninggalkan itu, jelas berat.

Masuk akal jika kemudian ia meronta ketika dirinya merasa dipaksa untuk mengangkat pantat. Kursi tersebut selama ini telah membawanya ke dalam sensasi nikmat, bagaimana bisa partainya semena-mena berharap pantatnya terangkat. Tak mungkin.

 Maka itu, Fahri pun meronta dan berontak.

Ia menunjukkan keberaniannya. Para pesohor di partai yang telah memuluskan jalannya ke kursi wakil rakyat pun didebat, bahkan didamprat. Keberaniannya benar-benar bikin tercekat.

Sulit memahami alasan pemecatan dari partai yang terjadi secara tiba-tiba. Hingga muncul kalimat, "Apakah kesalahan mahabesar yang sudah saya lakukan," teriaknya, terperanjat.

 Ya, PKS tentu saja memiliki alasan kuat saat mengambil sebuah keputusan. Hal itu juga mereka beberkan kepada insan media, dan dibaca oleh sebagian rakyat, dan juga kader-kader mereka sendiri.

Fahri meradang. Ia merasa dipermalukan setelah sekian lama ia ekstase di posisi sebagai wakil rakyat. Alhasil, ia pun melakukan berbagai macam cara untuk melawan. Dari mengungkit apa saja jasa-jasanya yang dirasakan olehnya telah dikubur, ia bangkitkan dari liang lahat.

Tak hanya itu, pertanyaan besar pun ia coba lemparkan, apakah sepadan antara alasan dia dipecat dengan tingkat kesalahan yang telah ia perbuat?

Ada semacam rintihan di sini. Mirip dengan ratapan seorang istri yang merasa ditelantarkan begitu saja setelah keperawanan hingga sebagian hidupnya diberikan kepada pasangan hidupnya, tapi ditalak dengan kesalahan yang justru tidak ia pahami.

 Di sinilah, saya pribadi tergerak menimpali rintihan Fahri di Twitter, "Kesalahan terberat justru ketika seseorang yang salah tak merasa dirinya salah." Mudah-mudahan saja, kata-kata saya sebagai salah satu rakyat jangan sampai membuatnya tersengat. Cukuplah sekadar membuatnya ingat, semua di dunia ini memang sesaat.

Tak mungkinlah, kalaupun tempo dulu ada istilah "presiden seumur hidup" lantas kini ia berharap jadi "wakil rakyat seumur hidup"? Soekarno saja, dengan nama besarnya dulu, tak lama setelah dinobatkan sebagai presiden seumur hidup justru dipecat. Soekarno tak berjasa besar kepada PKS, melainkan kepada Indonesia, tapi ketika garis takdir tak mengizinkannya mati di kursi kekuasaan, tak ada yang bisa dilakukannya.

Ini hanya sekadar wakil rakyat. Terpilih untuk bisa berada di Senayan itu, toh tak selalu karena benar-benar dipercayakan rakyat, dan justru tak sedikit karena keberhasilan mengecoh rakyat saja sehingga membuat seseorang bisa terpilih sebagai wakil rakyat.

Maksud saya begini. Jika selama ini merasa terhormat karena menjabat sebagai wakil rakyat, di tempat yang terkesan di atas rakyat, seharusnya Fahri tak perlu merasa tidak terhormat ketika tak lagi menjabat. Terkadang, berdiri bersama rakyat, di samping rakyat, bisa saja jauh lebih terhormat daripada merasa berada di atas rakyat.

Nah, sekarang adalah kesempatan bagi sosok Fahri untuk bisa menjadi lebih bermanfaat. Sebab, boleh jadi, terus menerus dimanjakan partai, justru hanya membuat ia dikutuk rakyat hingga ke liang lahat. Maka itu, bagi pengagum Fahri pun, alih-alih merisaukan pemecatan, seharusnya memberikan ucapan selamat.

Toh, jabatan itu adalah amanat, dan dipertanggungjawabkan hingga akhirat. Kenapa harus risau dihakimi oleh orang-orang saleh--jika ia meyakini partainya sebagai tempat orang-orang saleh--sebab kelak akan ada penghakiman yang lebih besar dan final, tak bisa lagi diancam-ancam akan digugat lewat jalur hukum.

Di sini, ucapan Tifatul Sembiring yang pernah sangat berkuasa di partai yang telah membuat Fahri dipecat, layak yang diangkat. "Saya pernah jadi presiden partai, jadi menteri, dan kembali jadi kader biasa, tak menjadi masalah." Jika ini tak membuat Fahri legowo, kasihan partai yang bisa saja dikira gagal mendidik kader karena lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan kesempatan mengabdi kepada rakyat.

Lagi, setelah dipecat, Fahri lebih terbuka peluang untuk melihat, selama ia menjabat lebih sering bergerak untuk kursi ataukah untuk rakyat. Selama menjabat, lebih sering memikirkan jabatan ataukah rakyat. Jangan-jangan, kesalahan terbesarnya selama ini adalah menjabat sekadar membawa nama rakyat. Tapi, ini juga belum telat untuk membayarnya, meski nanti tak lagi menjabat, berpikir sajalah untuk hidup lebih bermanfaat tanpa perlu menjual nama rakyat.**(ak)

Sumber tulisan : kompasiana.com

Sumber foto :

Tuesday, April 5, 2016 - 14:30
Kategori Rubrik: