Urf

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
المسلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ : المَاءِ وَالكَلَإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ
Umat Islam itu bersekutu dalam tiga hal : air, rumput dan api. Dan harganya (memperjual-belikannya) haram (HR. Ahmad)
Hadits ini sangat unik karena menceritakan bagaimana URF yang dikenal di masa kenabian. Saat itu, air, rumput dan api masih dianggap milik publik, tersedia begitu saja di alam liar.
Maka tidak boleh dikuasai sendirian, sehingga juga tidak boleh diperjual-belikan. Maka dikatakan bahwa memperjual-belikannya termasuk haram.
Selain itu pengertian hadits ini bisa didekati dengan pendekatan lain. Misalnya secara URF, rumput yang tumbuh sendiri di atas tanah milik seseorang juga jadi milik bersama. Tidak menjadi harta kekayaan di pemilik tanah. Paling tidak, itulah URF yang berlaku saat itu.
Jadi misalnya kambing kita sempat makan rumput tetangga, tidak jadi masalah karena secara URF dianggap bukan mengambil hak orang lain.
Sumur dan sumber mata air pun demikian juga. Boleh lah kalau kehausan, kita numpang minum di sumur orang. Secara URF kayak gitu jamak saja, tidak dianggap nyolong air.
Jakarta tahun 70-an pun masih ada gentong berisi air di depan setiap rumah. Secara URF siapa pun orang lewat boleh minum dari gentong itu. Centongnya terbuat dari batok kelapa.
Hari ini di beberapa masjid, disediakan air putih kemasan gelas di kulkas bertuliskan : silahkan ambil, gratis. Secara URF ini baik sekali.
Namun para ulama memandang gratisnya hal-hal seperti kembali kepada URF yang berlaku.
Buktinya saya pernah naik pesawat murah JKT SNG. Pas terbang semua dibagikan Snack, isinya kacang. Free.
Ternyata kacang free tidak disertai air minum. Air minumnya kena 3 dolar per botol. So, ternyata URF nya beda lagi. Yang gratis kacang, air kudu beli.
Dasar . . .
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat
Wednesday, January 20, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: