Untung Menteri Agama Bukan dari NU

Oleh: Saefudin Achmad

 

Jend (Pur) Fachrul Razi yang notebene bukan berasal dari kalangan 'ulama' serta ormas besar (NU dan Muhammadiyah), ternyata bisa bersikap cukup berani, melebihi menteri-menteri agama sebelumnya yang berasal dari NU. Justru karena tidak berasal dari ormas besar, beliau merasa tak ada beban untuk bersikap keras kepada kelompok-kelompok yang disinyalir radikal, ekslusif, dan tidak menyukai keberagaman.

Tak lama setelah dilantik, beliau langsung menggebrak dengan pernyataan-pernyataan yang cukup berani dan menantang. Beliau mengatakan bukan menteri agama Islam, tapi menteri semua agama yang ada di Indonesia. Beliau pernah membentak pegawai BUMN yang tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya. Beliau juga menyerukan khatib dan penceramah agar berdoa menggunakan bahasa Indonesia alasannya agar jama'ah mengerti dengan isi doa.

 

Terhadap khilafah, beliau sangat keras menolak. Beliau meminta siapapun yang masih mendukung khilafah agar keluar dari Indonesia. Bagi para PNS hendaknya segera keluar dari PNS jika masih mendukung khilafah. Soal celana cingkrang dan cadar, beliau juga cukup tegas. Beliau mewacanakan untuk melarang penggunaan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintahan.

Dari berapa sikap yang cukup berani, saya kira beliau benar-benar ingin membuktikan bahwa beliau adalah menteri agama seluruh agama yang ada di Indonesia. Jika sebelumnya menteri agama yang berasal dari NU hanya mengkampanyekan nilai-nilai Islam Nusantara (NU) seperti tawasuth, tawazun, tasamuh, ta'adul, serta slogan 'hubbul wathon minal iman', beliau lebih kompleks dari itu. Menteri agama sebelumnya sepertinya belum ada yang menyerukan agar doa menggunakan bahasa Indonesia, serta mewacanakan larangan cadar dan celana cingkrang dalam instansi pemerintah.

Sikap frontal beliau tentu tidak berjalan biasa-biasa saja. Kecaman mulai berdatangan. Ada yang meremehkan Menag kurang kerjaan sehingga mengurusi masalah privat. Hanafi Rais bahkan menyindir sikap frontal beliau sebagai alibi untuk menutupi kapasitas diri yang tidak cukup kompeten menjadi Menag. PKS pun mengecam Menag agar tidak mengurusi ranah privat. Tak lama kemudian mungkin akan ada orang yang menganggap Menag sekarang anti Islam.

Untung saja beliau bukan berasal dari NU. Jika beliau dari NU, sudah pasti nyinyiran dan hujatan ke NU akan datang bertubi-tubi. Selama ini, ormas yang terang-terangkan cukup kurang respek dengan cadar dan celana cingkrang hanya NU. Bagi ormas di luar NU, menyerang Menag yang tak mewakili NU juga seperti tak ada gunanya. Tak akan bisa mendiskreditkan NU. Nampaknya untuk sejenak NU bisa bernafas lega. Meskipun Menag bukan dari NU, tapi gerakannya bahkan lebih kompleks dan jauh dibanding menteri yang berasal dari NU.

Saat ini situasi juga cukup aneh. Protes kepada Menag dan Pemerintah nampaknya tidak akan sederas sebelumnya. Pasalnya, orang yang selama ini telah bekerja dan memback-up kelompok yang menuding pemerintah anti Islam justru saat ini berada di pemerintahan. Orang yang dulu mungkin pro khilafah, cadar, dan celana cingkrang, sekarang justru berada satu barisan dengan Menag. Dia bahkan dijadikan lelucon oleh Fahri Hamzah dengan mengatakan sebagai seseorang yang sedang membangun kepercayaan yang penuh trauma kepada jenggot, cadar, celana cingkrang, dan yang lain.

Saya akui, gebrakkan Bapak Menag yang baru penuh dengan resiko. Meskipun resiko biasanya sebanding dengan manfaat, saya kira beliau perlu hati-hati dan sedikit mengerem aksinya. Tak perlu buru-buru untuk membasmi radikalisme dan mewujudkan keberagaman di Indonesia. Masih ada waktu yang cukup panjang. Kerjakan satu-satu secara bertahap. Tak harus semua hal langsung digarap. Khawatirnya malah akhirnya tidak ada satupun yang goal karena terlalu banyak target yang muluk.

Selain itu, beliau juga harus mempersiapkan mental dan berkoordinasi dengan ulama, ormas besar, dan menteri yang lain. Sebagai orang militer, soal mental memang tidak diragukan. Namun beliau butuh kawan yang bisa memback-up. Beliau tidak bisa melakukannya sendiri.

Soal pendidikan Islam, ibadah haji, dan hal lain yang menjadi tanggung jawab kementerian agama sebenarnya sudah berjalan baik. Lukman Hakim Saifuddin (Menag) sudah mengelola hal itu dengan baik. Masalah yang mungkin belum bisa diselesaikan diantaranya soal radikalisme, fanatisme, ekstrimisme, eksklusivisme, dan intoleransi beberapa kelompok yang memicu perpecahan dan konflik.

Sebelum Pilkada DKI 2017, kelompok seperti ini belum terlalu terlihat. Pilkada DKI 2017 seolah-olah menjadi momen yang sangat penting bagi kelompok ini untuk menunjukkan eksistensinya. Ahok seolah-olah menjadi alasan mengapa kelompok ini perlu untuk menonjolkan diri.
.
Bagiku soal wacana pelarangan cadar dan celana cingkrag tak perlu diributkan. Seharusnya bagi yang menganggap Menag mengurusi hal-hal remeh dan tidak urgen, tentu tidak keberatan untuk tidak memakai cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah. Mengapa harus cadar dan celana cingkrang? Barangkali menurut Menag orang yang memakai cadar dan celana cingkrang bisa menumbuhkan sikap eksklusivisme. Padahal, rakyat Indonesia harus inklusif.

Gebrakkan Menag baru ini sebenarnya belum ada apa-apanya dibanding Pemerintah Arab Saudi. Menurut Menteri Luar Negeri Arab Saudi, 
Adel Al-Jubeir, Arab Saudi telah memecat ribuan Imam berpaham radikal karena menyebarkan ekstrimisme. Pemerintah Malaysia juga melarang Zakir Naik ceramah di sana. Artinya, langkah Menag sebenarnya masih sangat soft. Dan soal radikalisme dan ekstrimisme, tidak hanya menjadi masalah di Indonesia, tapi juga di Arab Saudi yang notabene negara Islam. Bahkan di negara-negara lain radikalisme dan ekstrimisme mungkin saja menjadi masalah serius.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Saturday, November 9, 2019 - 14:45
Kategori Rubrik: