Untung Ada Kartu Pra Kerja

Oleh: Eko Kuntadhi
Temen gue, korban PHK. Karena Covid19, perusahaan tempat dia bekerja mengurangi jumlah pekerjanya. Dia termasuk dalam daftar.
Dunianya seolah ambrol. Padahal dia baru menikah setahun lalu. Istrinya juga sedang hamil.
Untung saja pemerintah mengeluarkan program bantuan buat korban PHK. Ia mengikuti program kartu prakerja. Lumayan, setiap bulan ia mendapat uang saku. Meski kecil, tapi sangat berarti.
Bukan hanya itu. Ia juga mengikuti beberapa pelatihan via online. Iya sih, kemarin ada isu soal pelaksana pelatihan itu yang katanya ada konflik kepentingan. Tapi ia gak terlalu peduli dengan isu itu. Baginya, saat kayak begini, apa yang bisa dilakukan untuk melanjutkan hidup. Apa yang bisa dimanfaatkan dari kemudahan yang diberikan.
 
Ia memgambil pendidikan IT, khususnya marketing via internet. Beruntung ia sedikit banyak bisa bahasa Inggris. Jadi pengetahuan barunya di dunia marketing digital dimanfaatkan maksimal. Ia juga berusaha meraih pasar di luar negeri.
Ia iseng, memfoto boneka-boneka kecil buatan istrinya. Juga pernik-pernik hiasan rumah. Ia mulai serius mengola instagramnya. Dan alhamdulillah, sedikit demi sedikit ada pemasukan dari sana. Satu dua order datang dari Malaysia dan Singapura. Lumayan.
Dari laporan Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, 90% yang dapat bantuan program ini adalah orang yang nganggur. Dari jumlah itu, 60%-nya nganggur karena terdampak Covid19. Seperti teman tadi.
Mereka yang dinyatakan ikut program ini ternyata 93% adalah lulusan SMU dan sederajat. Menariknya, dari semua orang yang ikut program ini sebanyak 36% kini telah kembali bekerja atau membuka usaha sendiri. Sedikit banyaknya atas topangan dari program ini.
Bahkan 10% dari seluruh peserta program memantapkan diri untuk jadi pengusaha. Artinya mereka sudah yakin dengan pilihannya kini.
Memang sih, jika ditelusuri banyak tenaga kerja kita yang skill-nya pas-pasan. Mereka ini sangat rentan terkena layoff jika perusahaannya bermasalah. Ini tergambar bahwa 62% peserta program prakerja ternyata belum pernah sama sekali mendapat pelatihan sebelumnya.
Di tengah suasana pandemi seperti ini pemerintah memang gencar menurunkan paket bantuan. Tujuannya untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Ujungnya diharapkan konsumsi meningkat.
Makanya sekitar 96% dari bantuan prakerja digunakan buat konsumsi makanan, 75% buat bayar listrik, 69% buat beli bahan bakar kendaraannya, dan 68% buat membeli pulsa internet. Tentu saja dari jumlah total orang bisa menggunakan untuk beberapa kebutuhan sekaligus.
Selain menopang daya beli, program pelatihannya juga mampu menjentikan semangat kewirausahaan. Minimal usaha kelas mikro kayak teman saya itu.
Perlu dicatat, struktur ekonomi Indonesia memang masih didominasi konsumsi lokal. Peran UMKM sangat penting menopang ekomomi nasional. Di Indonesia, terkena PHK bukan berarti kiamat. Orang masih mudah buka usaha kecil.
Tinggal masak, keluarin meja kecil di depan rumah, sudah bisa jualan nasi uduk.
Coba bandingkan dengan di negara maju. Mau buka toko, perlu lisensi. Mau buka warung makan, perlu lisensi. Mau jadi tukang ledeng, perlu lisensi. Semuanya butuh lisensi yang gak gampang juga memperolehnya. Akibatnya terkena PHK disana rasanya kayak kiamat. Susah untuk mendapatkan income alternatif.
Sayangnya emang, program kartu prakerja dilaksanakan saat pandemi begini. Sehingga orang hanya bisa ikut pelatihan online. Mereka mungkin mendapat tambahan pengetahuan dan skill. Tapi, kekurangannya, gak bisa berinteraksi langsung dengan peserta lain untuk menambah jaringan mereka.
Meakipun harus diakui, data menunjukan program ini banyak manfaatnya. Setidaknya mampu menjadi oase di tengah sengatan Covid19 yang belum juga reda.
 
(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)
Tuesday, September 15, 2020 - 23:00
Kategori Rubrik: