Untuk yang Sedikit-Sedikit Nyebut Nama Tuhan

Ilustrasi

Oleh : Suhunan Situmorang

Kita tak perlu harus tahu semua hal, tetapi jangan pula sok tahu karena selain menjengkelkan orang lain, tujuan utama kita bersekolah dulu, sebetulnya untuk membuka jendela pikiran agar tidak terkurung di kegelapan.

Dan, bila semua persoalan atau pertanyaan cukup dijawab "Ikutlah ajaran dan perintah Tuhan," tak perlu lagi sekolah dan tak berguna pula Iptek & sains. Cukup diam dan memuja Tuhan 24 jam.

Tetapi, handphone di tangan kita ini pun jangan pernah dibayangkan bisa dihasilkan karena itu pun hasil pikiran manusia melalui ilmu pengetahuan dan penemuan (invent). Bukan dari pelajaran agama.

Sebagai orang yg percaya Tuhan, yakini saja bahwa otak manusia itu merupakan karunia yg sungguh besar dari Tuhan dan selayaknyalah dimanfaatkan untuk memudahkan serta membahagiakan manusia.

Pemanfaatan otak itulah yg melahirkan Iptek & sains, kebudayaan dan seni, yg memberikan banyak sekali yg berguna bagi manusia--seperti handphone di tangan kita ini.

Kerja otak itu pula yg menghasilkan ilmu kesehatan dan kejiwaan, yg amat diperlukan manusia untuk mengobati penyakit fisik dan juga psikis.

Tuhan bekerja melalui otak manusia itu, namun manusialah yg mengaktifkan melalui proses belajar, mengamati, meneliti, menemukan, yg terikat dng kaedah-kaedah dan syarat-syarat keilmuan yg disebut 'ilmiah' agar bisa diulang lakukan atau dibuktikan oleh yg lain. Bukan khayalan atau omong kosong belaka.

Karena itulah Iptek dan sains menuntut rasionalisme, logika, common sense, empirisme; tak boleh "katanya," atau "pokoknya," atau "cukup percaya saja." Sekali lagi, tidak boleh. Harus ada nalar dan argumen yg bisa dipertanggungjawabkan. Ilmiah. Bukan asbun.

Bertuhanlah dng khusyuk, indah, membuat diri lebih bijak dan menyadari keterbatasan kodrati. Namun, jangan sia-siakan otak yg diberikan (bagi yg percaya Tuhan) karena itu sayang sekali..

Sumber : Status Facebook Suhunan Situmorang

Friday, January 17, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: