Untuk Sebuah Nama yang Paling Viral di 2020

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Corona nama populer virus itu. Nama medisnya di WHO Covid-19, adik kandung dari Covid-18 dan kakak langsung dari Covid-20. Keluarga (kelu/mili) besarnya adalah Virus Flu, masih keponakan dengan SARS, bapak ade dengan MERS, mama tua dengan H5N1 Flu Burung, ipar dengan ketelo ayam, sepupu dengan Flu Babi, dan saudara jauh dengan influenza, batuk filek, batuk rejang berefek hernia atau biji jatuh.

Dia bukan siapa-siapa. Juga bukan apa-apa. Dia biasa-biasa saja seperti virus atau bakteri lain. Dia makhkuk Tuhan juga sama seperti kita. Hanya dia tidak punya akal, kita yang punya akal. Kepadanya tak diutus nabi dan tak diturunkan kitab suci seperti pada kita.

Jika hari ini manusia dunia takut kematian karenanya, coba jawab pertanyaan ini : adakah hidup dunia ini yang tanpa mati. Kematian oleh virus, tabrakan mampus atau karena kesehatan kurang terurus sama saja. Yang penting jaga kesehatan, sekali-kali saja jaga pesbuk. Jangan kebalik tiap hari jaga pesbuk lupa segalanya dapur bisa berteriak.

Bung Cebong : Fenomena Corona ini sebenarnya apa. Siapa dibalik permainan viral ini ?

Wan Bodrex : Ini tidak akan jauh dari perang biologis, proxy media framing, Barat yang mulai bangkrut, dan sisa antek-anteknya di negara kita. Sekarang makin nampak mulai benderang. Kita tetap waspada. Ada penyusup dalam bangsa kita.

Bung Cebong : Dalam data medis, bukankah masih banyak penyakit pembunuh yang jauh lebih gawat diatas Corona seperti Tubercolosis misalnya.

Dimana letak nilai bahayanya dari penyakit yang ada kecuali Corona disebar media menstrim dan metsos secara masif. Didukung oleh jumlah banyak manusia kurang beriman penakut mati. Hakikatnya adalah sebaran fitnah, sejauh mana ketahanan sebuah negara melawan ketakutan panik rakyatnya. Lockdown artinya ketakutan menang dan bangsa-bangsa tetap dalam genggaman tangan untuk dikendalikan. Ini cerdaskan ? Penjajah otak selalu lebih licik dan jahat. Dulu waktu domba masih banyak pake cara adu domba. Geser ke adu agama. Kurang puas dengan adu agama sekarang adu virus.

Santri Kalong : Tapi siapa yang memberi nama virus itu Corona. Pasti dia bapaknya. Karena bapak biasa yang memberi nama anaknya. Adagium kedokteran setiap penyakit ada obatnya. Setiap virus pasti sepasang dengan anti-virusnya. Begitulah pemahaman yang ditanamkan selama ini. Kenapa vaksin dari virus Corona tidak dijual bebas. Supaya apotek Abejaya juga bisa jual. Siapa yang abunawas baku tipu rame. Mungkinkah kehidupan sosial dihentikan dengan Lockdown. Sampai kapan bisa dihentikan ? Ketika rasa takut dan rasa lapar bertanding dalam diri kita seperti dua kesebelasan di lapangan Mandala. Siapa yang akan menang ?
Kalian suporter untuk rasa mana ?

Pace Yaklep : Saya suporter untuk rasa lapar. Rasa takut memang kadang ada, tapi lewat sebentar saja. Seperti perempuan takut hamil, tapi anaknya bisa sampai sepuluh itu ada terjadi, karena kolorna jatuh terus. Kita digiring untuk takut Corona, tapi Corona itu sendiri apa dan bagaimana, kita tidak tahu. Saya tanya Kades yang umumkan himbauan Corona dia juga kurang tahu. Dokter umum atau dokter ahli apa yang berhak menvonis Sakit Corona. Harus pakai alat atau teknologi medis apa untuk pastikan Corona? Kenapa harus RS seperti Sulianti Suroso, Kenapa RS Abepura bahkan Dokdu pun tidak bisa urus dan pastikan Corona harus bawa dulu Jakarta di RS Suroso itu.

Dul Kampret : Pokoknya kita harus Lockdown.

Mang Kardun : Jiganamah kitu. Kudu lokdon. Pan Amerika oge lokdon. Geuning teu milu Amerika atuh. Kumaha sih Jokowi ?

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Thursday, March 19, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: