Untuk Pak Anies Tentang CFD

ilustrasi

Oleh : Jonminofri Nazir

Pak Anies yang terhormat

Hari Minggu pagi sangat menyenangkan buat saya. Saya memulai hari minggu dengan gowes dari Ciputat ke Pasar Mayestik, tak jauh dari lokasi CFD

. Di sana saya menyantap ketupat sayur si Ajo. Coba ciciplah sesekali ketupat ini. Enak. Karena enak, si Ajo banyak penggemar. Dia memasak sayur ketupat di atas kuali yang paling besar yang pernah saya lihat. Di samping kuali masih ada terjerang sayur cadangan di dalam beriuk yang volumenya sebesar kuali besar tadi. Di lantai di bawah kompor masih satu ember besar sayur yang sama menunggu naik periuk, lalu dipindahkan ke kuali besar.

Sekitar pukul 10:00 pagi, ketupat itu habis atau hampir habis.

Kebayangkan betapa lezat dan digemari ketupat si Ajo ini. Bagi saya, makan ketupat si Ajo menyenangkan. Bagian dari kegiatan saya bersenang-senagn sepekan sekali.

Setelah menghabiskan ketupat sepiring (harga Rp14.000 sudah pakai telur dan tahu), saya lanjut gowes ke CFD dengan sepeda Muddy Fox butut saya.

Mestinya ini sebuah perjalanan yang menyenangkan juga. Sebab, gowes di CFD akan mengeluarkan hormon endorfin, hormon yang sama yang muncul ketika orang bersenggama.

Tapi, kesenangan itu tak muncul-muncul ketika bersepeda di CFD. Penyebabnya sederhana, laju sepeda –juga laju orang berjalan cepat atau berlari—terhenti di tengah CFD, ketika baru sampai senayan.

Mulai dari Duku Atas arah HI, semakin banyak hambatan di jalan. Pedagang kaki lima sudah melimpah di sini. Mereka jualan kompor, barang elektornik, baju gamis, baju sepeda, kaus kaki, dan segala macam mata dagangan.

Mereka bisa memenuhi dua sampai 3 lajur jalan Sudriman. Mereka diam di tempat. Di lajur tersisa, seliweran melawan arus ondel-ondel, penyanyi keliling (ada yang buta, ada yang melek, ada yang sendirian, berdua atau rombonga sampai 7 orang. Meriah.

Pedagang, ondel-ondel, dan penyanyi keliling ini sungguh mengganggu orang lain yang ingin cari keringat di sana.

Tapi, apakah mereka tidak punya hak berniaga dan bernyanyi di sana? Tentu saja berhak. Namanya juga warga kota, dan orang berusaha.

Jadi, agar semua orang yang ke CFD mendapatkan haknya, saya usul begini Pak Anies, agar semua senang. Ini pilihannya:

PERTAMA, melokalisir para pedagang kaki lima di beberapa titik sepanjang jalan Sudirman-Thamrin. Dengan begitu, para pedagang itu tidak seperti menghalangi orang lain untuk berolahraga.

KEDUA, jika sukar melokalisir di beberapa titik, batasi saja wilayah untuk pedagang kaki lima. Misalnya hanya boleh sepanjang jalan thamrin. Jalan Sudirman khusus untuk orang berolahraga.

KETIGA, jika sukar mengumpulkan pedagang kaki lima hanya di jalan Thamrin, ya, terpaksa membiarkan mereka berjualan di mana saja di Suriman-Thamrin; tetapi hanya di satu sisi jalan saja. Misalnya, mereka boleh berdagang di jalan Sudirman-Thamrin, di sisi dari Senayan arah ke kota.

Sedangkan arah seballiknya (Arah Merdeka Barat ke arah Blok M) khusus untuk para pesepeda, orang berlari, dan berjalan cepat. Jadi satu sisi jalan ini dibuat bolak-balik. Menjadi sempit memang untuk orang berolahraga, tetapi apa boleh buat.

Begitu, Pak Anies. Pak Anies harus melakukan sesuatu di arena CFD ini, menertibkan dan menata pedagang kaki lima agar mereka bahagia seperti Pak Anies. Juga agar saya dan orang lain yang berolahraga di sana juga bahagia.

Jangan sampai kebahagiaan saya pada setiap hari minggu hanya sampai makan ketupat sayur di Mayestik doang, Pak Anies.

Ayolah, Pak Anies. Pak Anies kan orang pintar.

#CEDAKIKAS Cerita dari kiri-kanan saya

Sumber : Status Facebook Jonminofri Nazir

Saturday, September 21, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: