Untuk Pak Amien Rais: Apakah Anda Normal?

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Yth, Bp. Amin Rais di Lapangan.

Assalamuaalaikum ww..
Semoga Bapak sehat ya Pak, dan lahir batin. Kalau tdk salah sy sudah berkirim surat kpd bapak 3 kali (sebenarnya sdh malas juga ). Kali ini sy menulis lagi krn terusik prilaku bapak yg terus ngawur akhir2 ini. Sadar atau tdk sebenarnya prilaku menunjukkan kesehatan batin apakah normal atau sdh ada gangguan moral.

Jujur sy makin prihatin kok bapak jadi lepas kontrol akhir2 ini, sbg mantan ketua ormas islam no 2 terbesar stlh NU, bapak harusnya menjaga ketawadu'an krn Muhammadiyah itu bukan kelas FPI, yg suka kencing dipinggir jalan. Muhammdiyah adalah besutan Alm. KH. Achmad Dahlan yg kharismatik dan seorang negarawan, almarhum bukan kelas ayam kampung, yg selalu jd oportunis aji mumpung, beliau kelas ulama yg tdk mencium tangan umara. Muhammadiyah itu wadahnya islam modern, bukan puritan dan kelas kacangan. Sama2 masih hidup kenapa bapak tidak malu kpd Buya Syafii Maarif, kenapa bapak seperti bumi dan langit.

 

 

Pak Amin statement bapak selalu cenderung aneh dan fiktif, PKI katanya mau bangkit, sertifikat tanah katanya pengibulan, skrg bapak mengkotomi partai setan dan partai Allah. Seolah PAN,PKS, GERINDRA dan sejenisnya pembela islam, yg lain memusuhi islam. Bapak kena rabun senja kali ya, bagaimana bisa membela islam wong kelakuannya belingsatan gak karu2an, Bapak saja sebagai pendiri PAN prilakunya minus delapan.

Bapak pernah jadi King Maker zaman Soeharto dijatuhkan, walau menurut Adian Napitupulu Bapak pahlawan kesiangan karena nyusup belakangan, isu yg santer malah Bapak punya andil mendongkel Gusdur untuk mundur. Pak Amin, kalau hal2 itu bapak anggap sebagai prestasi, tapi itu sudah basi, 20 tahun yll tidak bisa bapak jadikan alasan bahwa bapak masih dibutuhkan. Nazar bapak jalan kaki dari Solo ke Jakarta bila Jokowi jd presiden, menjadi preseden buruk seorang mantan ulama, sekarang malah bapak masuk kelas mantan profesor karena sikap bapak sudah masuk katagori agresor.

Indonesia sedang ditata, setelah sekian lama nyaris tak bermakna buat rakyatnya karena dijadikan lahan bancaan kaum durjana, apa bapak lupa, atau bapak ikut andil ada disana. Jokowi ada, ini fakta, yang fiksi itu kalau otak kaum kiri mau mengganti. Kalau kita masih percaya kegaiban dan ada Tuhan serta beriman, maka kita harus setuju bahwa segala sesuatu karena adaNya sebagai yg Maha penyebab, bukan ada tiba2 karena cuma usaha manusia, kecuali bapak sudah tak percaya bahwa Allah itu ada. Dikotomi partai setan dan partai Tuhan yg bapak sampaikan telah menodai tatanan kemanusiaan dan spirituaL, bagaimana seorang yg mengaku beriman selalu mendahulukan pikirannya dgn pongah mengangkangi Tuhan, orang lain divonis menistakan, diri sendiri melecehkan kehadiran Tuhan, agama jadi alat jualan penghasutan dan selalu ingin membuat perpecahan.

Sekarang bapak dan kelompok yg kami anggap radikal tak bermoral telah mendukung Prabowo utk nyapres lagi, tidak masalah. Hanya saja jangan lagi dipakai strategi yang pernah sukses di DKI, ,masjid, mayat, shalat jumat dijadikan alat menghujat, menghalalkan semua cara untuk memuaskan nafsu sesaat, Sukses menggusur Ahok sekaligus berhasil menghancurkan tatanan Jakarta yang sudah dibangun sedemikian rupa utk kebaikan bersama, apakah itu prestasi atau celaka.

Sekarang ada statement seolah Jokowi adalah musuh islam, memarjinalkan agamanya, otak kita ada dimana, Jokowi itu emang islam apa, kita yg mulutnya seperti pengeras suara berteriak punya dan pembela agama tapi kelakuannya justru menghancurkan agama, sayang bapak ada disana dan tidak terasa sekarang bapak tidak bisa lagi dianggap ada untuk Indonesia, karena bapak ikut berencana menghancurkannya dgn dalih membela agama tapi bapak menabrak rencana perbaikan Indonesia dan membenturkan rakyat hanya krn pilihannya berbeda. Bapak menutup mata, telinga, dan bahkan rasa. Ribuan kilometer jalan di Papua kini ada, pemerataan harga BBM, jalan tol Jawa dan Sumatera. Bendungan dimana2, irigasi mendukung ketahanan pangan, kita sdh bs export jagung, dsb. Ada bendungan yg sedang dibangun di Gadog puncak Jabar agar air bisa dikendalikan tdk merendam Jakarta, Jokowi tdk perduli gubernurnya siapa, pikirannya menyelamatkan Jakarta, Ibu kota Indonesia. Bukan membiarkan kerusakan yg sdg sengaja dijalankan. Apa ini fiksi, apa bapak tak mengerti atau tak peduli, karena nafsu birahi bapak yang ingin selalu dianggap, tapi sekarang sudah megap2. Bapak bilang pamor Jokowi sudah merosot, faktanya moral kalian yg melorot.

Zaman berganti, kesempatanpun tak lagi bisa dimonopoli. Prabowo sebagai capres abadi adalah contoh gagalnya sebuah misi, karena dari sana kelihatan gagal kaderisasi. Pak, Indonesia sekarang butuh yang muda utk menjadi digdaya, bukan orang tua telanjang dada diatas kuda.

Sekarang zamannya Indonesia dipimpin yg muda, ganti gaya naik chooper, yang tua sudah pakai pempers.

Sekian, terima kasih, wassalam..salam waras.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, April 15, 2018 - 22:45
Kategori Rubrik: