Untuk Mas Wishnu dan Mbak Angela

Oleh: Sahat Siagian

 

Saya gembira Anda berdua sudah bikin klarifikasi bahwa kementrian yang Anda pimpin tidak punya maksud untuk mengutamakan wisata tertentu. Itu keputusan bijak dengan menimbang sebegitu besarnya potensi pariwisata Indonesia (saya heran: kenapa pariwisata? kenapa bukan parawisata, wisata jauh).

Kue bisnis pariwiata dunia menurut data tahun 2015 adalah sebesar 1.32 Trilyun dollar Amerika Serikat. Indonesia cuma kebagian 11.3 milyar dollar pada tahun 2016, tertinggal dari Malaysia yang meraup 18.1 milyar. Jangan tanya kue Thailand: 49.9 milyar.

 

Saya membandingkan data 2016 dengan data dunia di 2015. Kue Indonesia sangat kecil. Padahal potensinya segudang: 17ribu pulau, 800 bahasa, sekian ribu jenis soto, sekian ribu jenis bubur, sekian ribu jenis sop, sekian ribu jenis sate. sekian ribu jenis tenun, sekian ribu wisata gunung, dan lain-lain, yang bikin kita megap-megap membayangkannya. Thailand cuma seencrit di hadapan Indonesia.

Dari 17ribu pulau tersebut terdapat sekian ratus pulau, yang perempuannya bertelanjang dada. Situs dan suku-suku di Papua adalah salah sekiannya. Itu tak elok buat agama-agama tertentu. Tapi itu yang bikin wisatawn dunia tertarik datang. Buat melihat tetek, tentu bukan. Mereka mau menyaksikan dan mengalami sendiri keragaman kultural.

Jangan sekali-kali Anda bikin mereka beradab dengan berpakaian. Enyahlah kalian kalau itu yang dilakukan. Percayalah, Tuhan juga menyukai kedatangan umatnya yang bertelanjang dada.

Sekian ratus situs menyajikan daging babi sebagai penganan. Itu tak elok buat orang Yahudi dan Muslim. Tapi itu kekayaan Indonesia. Tak ada misionaris yang mengajari orang Toraja makan babi, juga Manado, juga Batak di Tapanuli Utara, juga Papua. Kuliner babi sudah ada di sana sebelum para misionaris datang. Orang Kristen terpaksa mengganti lema "domba" dalam Alkitab menjadi babi karena ternak itu yang jadi kesayangan orang Papua.

Agama itu barang impor Mas, Mbak. Alkitab jelas kitab impor. Kalau mau berhasil, Alkitab harus mengubah dirinya bagi orang Papua. Parafrasa "Yesus Anak Domba Allah" gak laku di Papua. Itu harus diganti jadi "Yesus Anak Babi Allah" agar orang Papua menangkap dengan jernih posisi Yesus sebagai kesayangan Bapa sebagaimana orang Papua mengasihi para babi mereka.

Sudah bukan waktunya lagi menaruh adat-istiadat Indonesia di bawah cengkeraman agama. Lagipula, posisi Indonesia sebagai peraih tertinggi wisatawan halal sedunia sebetulnya kurang menguntungkan. 

Kita gembira, tentu saja, dengan posisi tersebut. Tapi kalau itu yang Anda berdua kemukakan sebagai tagline, Anda bakal gagal menjual Papua, atau Toba, atau Bali, ke angka-angka yang Anda inginkan. Gak mungkin Anda menjual wisata Babi di Toba atau Toraja atau Papua jika pekan lalu, misalnya, Anda mengagung-agungkan Indonesia sebagai destinasi utama wisata syariah.

Kue wisata syariah di planet bumi ini cuma 185milyar dollar, Mas, Mbak. Indonesia memang nomor satu. Tapi menjual keunggulan di sisi itu kita cuma bakal dapat pemasukan maksimal 185milyar, jauh banget dari 1,32triyun dollar sebagai angka pasar dunia. Pendapatan total pariwisata Indonesia (termasuk wisata syariah) saja masih 1/4 pendapatan Thailand. Pendapatan pariwisata Thailand 1/4 dari pendapatan wisata syariah seluruh dunia. Lha kok itu yang dikejar dan dielus-elus? 

Jadi, kalau mau menyalib Thailand, kita harus menjual Indonesia secara total, jangan segmented. Wisata syariah menjadi salah satunya tanpa harus diperlakukan secara khusus. Pengkhususan malah mengacaukan image KEMAHARAGAMAN Indonesia di pasar dunia. Padahal di situ letak kue terbesar.

Kita harus menghormati payudara perempuan Papua yang gundal-gandul dengan cara yang sama kita memuliakan wisata syariah di Aceh. Kita perlu menghargai sate babi Manado dan sangsang Batak dalam kekaguman yang sama dengan rendang Padang. Tak satu lebih kudus atau lebih najis daripada yang lain.

Yang halal dan banal ada di Indonesia. Kalau Anda berdua berupaya memastikan resto Padang hadir di Toraja, pastikan juga lapo Batak bertengger di Padang.

Ini bukan soal keadilan, ini tentang maksimasi kesempatan. Orang Cina harus merasa nyaman datang ke Aceh sebagaimana orang Arab merasa damai datang ke Bali.

Gitu ya, Mas, Mbak.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Monday, November 18, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: