Untuk Bunda yang Anaknya Tak Diterima di Sekolah Favorit

Oleh: Suci Handayani
 

Bunda yang baik,
Saya tahu persis gundah gulananya hati bunda-bunda terutama yang sedang harap-harap cemas mencarikan sekolah buat putra/putri tercinta di hari terakhir PPDB ini. Paling tidak dalam tiga hari terakhir ini, tidur tak nyenyak, makan buka dan sahur (bagi yang muslim) tak enak, gobrol dengan teman tak nyaman, semua serba tidak nyaman. Tidak ada yang menyita perhatian selain memelototi jurnal PPDB online dan menetapkan hati untuk memutuskan memilih sekolah yang kira-kira bisa mengakomodir nilai anak-anak kita.

Tidak sedikit yang marah, kecewa, sedih luar biasa manakala anak-anak sudah berjuang tanpa lelah dan mempunyai nilai UN yang tidak mengecewakan tetapi untuk melanjutkan ke jenjang sekolah lanjutan terkendala sejumlah peraturan. Kegeraman semakin tidak terkira manakala bunda kebetulan ‘dirugikan’ dari peraturan yang mempersulit anak-anak bunda bersaing di sekolah yang favorit. Terkait aturan kuota, rayonisasi/zonaisasi, aturan KK dalam kota /luar kota, warga miskin yang punya Kartu Indonesia Pintar (KIP), warga miskin yang tidak mendapatkan KIP, dll. 
Saya tahu itu sungguh menyesakkan hati. Anak-anak kita sudah meraih nilai memuaskan tetapi karena warga luar kota tidak bisa mendaftar di sekolah jaraknya dekat dengan tempat tinggal tetapi terletak di kota yang berbeda .

 

 

Bunda, saya tahu persis betapa sedih dan geramnya hati bunda. Karena saya juga mengalami sendiri. Tahun lalu, kebijakan terakhir di Kota Solo, kuota untuk anak luar kota yang biasanya 20% berubah menjadi 5%. Dan kebetulan anak saya ‘terkena’ kebijakan tersebut. Nilai UN 37,7 tidak bisa masuk ke SMA favorit di Solo karena terganjal kuota 5% untuk warga luar kota, sementara teman-temannya yang nilai UN 36 saja karena KK Solo bisa masuk ke SMA favorit di Solo. Saya sedih? Marah? Geram? Benar, itu saya akui. Karena harapan saya besar sekali agar anak saya masuk sekolah favorit yang selama ini selalu mendapatkan kuota besar dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau Jalur Undangan. Kerja keras anak saya terbayar manakala nilai Ujian Sekolah dan UN mendapatkan hasil yang tidak mengecewakan. Tetapi ada daya manakala , ada peraturan baru yang membuat anak saya tidak mungkin meraih keinginannya. Peluang besar bisa masuk ke SMA favorit di kabupaten Sukoharjo, tetapi secara geografis jauh dan tidak cukup terjangkau. Sehingga setelah mendiskusikan dengan anak saya, kami memutuskan untuk masuk sekolah SMA N di Solo yang tidak favorit.

Teman-teman yb, pada dasarnya sekolah di manapun asalkan anak kita senang, nyaman dan mudah berinteraksi dengan teman yang lainnya, itu tidak masalah. Meskipun bukan sekolah favorit, meskipun bukan sekolah yang diidamkan, tetapi biarkan dan dorong anak kita untuk menikmati proses belajar, bersosialisasi di tempat yang baru. (Pun, istilah sekolah favorit itu kan karena dilabelkan oleh masyarakat juga kan? )

Meskipun besuk saat pengumuman anak kita tidak diterima di sekolah favorit, jangan berkecil hati, jangan terus menerus menyalahkan peraturan yang membuat anak kita ‘terpental’ dari sekolah idaman. Kalau memang kita tidak setuju dengan peraturan yang ada, silahkan salurkan melalui jalur yang tepat. Tetapi saat ini sudahi berkeluh kesah sehingga bisa jadi membuat anak kita juga ikut gundah gulana dan merasa sedih karena tidak berhasil masuk sekolah favorit. Tahanlah kegeraman dan kekecewaan hati teman-teman, jangan perlihatkan di depan anak-anak. Ayolah kalian harus ‘move on’ . Justru yang paling penting besarkan hati anak-anak untuk bersiap sekolah di manapun juga. Dorong anak-anak untuk tidak lagi ‘mendewakan’ sekolah favorit. Bantu anak-anak agar ‘move on’ dan siap menjalani hari-hari yang mengembirakan bersama guru , teman dan lingkungan baru.

Tidak masuk sekolah favorit bukan akhir dari segalanya, bukan hambatan untuk terus meraih cita-cita kedepan. Bunda lihat sendiri bagaimana kehebatan seorang Ibu Susi Pudjiastuti, yang meskipun tidak tamat SMA tetapi sangat sukses dan kompeten di bidangnya, membawa kemajuan Indonesaia di bidang Kelautan dan Perikanan hingga di segani-dihormati oleh orang dalam dan luar negeri. Bu Susi hanya salah satu contoh pendidikan formal bukan segalanya.

Untuk itu Bun, tersenyumlah, usap dan dekaplah ananda, pompa semangat mereka untuk tegak meraih cita-cita dimanapun nanti. Bisikkan bahwa bunda sayang mereka dan kasih sayang bunda tidak ada pernah berkurang meskipun ananda tidak diterima di sekolah yang diidamkan. Jalan masih panjang terbentang, ribuan cahaya berpendar menari-nari di depan, tinggal kita mengarahkan untuk menuju cahaya terang tersebut. **

Solo, 14 Juni 2017

 

(Sumber: Facebook Suci Handayani)

Saturday, June 17, 2017 - 00:30
Kategori Rubrik: