Untuk Apa Menjadi Murid?

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Pertanyaan di atas dapat dikembangkan: untuk apa murid belajar? Apakah murid ingin menjadi pandai? Tujuan pendidikan ialah menolong anak menjadi pribadi dewasa-mandiri sehingga ia tahu keunggulan dan kelemahannya. Sekolah menolong orangtua dalam hal yang tidak dapat dikerjakan oleh mereka dengan membantu murid mendapatkan aras kepandaian menurut kemampuan intelektualnya.

Pendidikan membentuk anak menjadi dewasa, bukan dewasa kecil menjadi dewasa besar. Yang dibentuk adalah manusia merdeka, bukan manusia rekaan orangtua. Persoalan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia ialah pada umumnya orangtua tidak menerima takrif di atas.

Orangtua menuntut agar anak-anak sejak dini harus bersekolah di sekolah favorit. Mereka menuntut sejak dari TK diajarkan membaca dan berhitung, di SD diajarkan bahasa Inggris, sedang bahasa Indonesia yang digunakan sebagai media alih-pengetahuan dari pengajar kepada murid justru dilalaikan. Sejak SD anak-anak dipaksa ikut les musik atau tari, meski tak berbakat. Bukan itu saja orangtua memaksa anak ikut les bahasa Inggris dan matematika di luar jam sekolah. Lebih mengenaskan lagi kepala sekolah yang didukung oleh banyak guru melayani tuntutan orangtua.

Dari uraian singkat di atas kita bisa menguak jawaban untuk apa menjadi murid tidak lain dan tidak bukan adalah demi ambisi orangtua. Murid dipaksa menjadi manusia rekaan orangtua dan guru. Anak menjadi objek pameran orangtua. Orangtua kemudian mendapat banjir pujian dari teman-teman dan handai-taulan. Anak menjadi murid bukan untuk menjadi pribadi dewasa-mandiri, melainkan untuk gengsi orangtua.

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Saturday, June 27, 2020 - 20:15
Kategori Rubrik: