Uninstall Bukalapak Dan Prabowo

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Bukan. Saya bukan mau menaruh Ahmad Zaky ke barisan Prabowo karena cuitannya. Sabodo teuing dengan preferensi politik CEO Bukalapak ini. Saya juga tak sedang mengungkit jasa Jokowi kepada Bukalapak. Seorang Presiden berkewajiban mengendorse produk Indonesia tanpa berharap endorsement balik bagi kiprah politiknya.

Begini:

Hari Sabtu saya turunkan tulisan berjudul “SEMOGA PRESIDEN BUKALAPAK BISA NAIKIN”. Di sana saya jejer komposisi dari kontribusi 3 pihak: pemerintah, kampus, dan swasta, bagi dana keseluruhan R&D di 4 negara: USA, Korea Selatan, Israel, dan Indonesia (urutan sesuai besaran total dana R&D).

Dari jejeran data tersebut diperoleh 2 pemeringkatan sbb:

Peringkat 4 negara ditilik dari persentase kontribusi Swasta terhadap total dana R&D:

Israel, 83.52%
Korea Selatan, 78.2%
USA, 71.6%
Indonesia, 25.66%

Peringkat 4 negara ditilik dari persentase kontribusi Pemerintah terhadap total dana R&D:

Indonesia, 39.37%
Korea Selatan, 11.3%
USA, 11%
Israel 7.29%

Lalu Ferdinand Tobing secara acak-adul menduga bahwa dengan pemeringkatan seperti itu saya seolah mendorong pemerintah Korea Selatan, USA, dan Israel, untuk menaikkan kontribusi mereka agar melampaui Indonesia.

Dia mengabaikan kemungkinan lain: saya justru mendorong pemerintah Indonesia agar MENURUNKAN level kontribusinya.

Tebakan Ferdinand saya anggap wajar karena dia tak paham filosofi di balik kegiatan Research and Development. Sayangnya, seperti Ahmad Zaky, dia nyeletuk asal bunyi.

Pihak paling terkait kegiatan R&D adalah entitas yang bertujuan meraih laba sebanyak-banyaknya dan menjaga posisinya di tengah lautan kompetisi: korporasi. Mereka tidak boleh tertinggal setapak pun. Tumpuan utama untuk memutakhirkan perusahaan adalah departemen Litbang. Mereka lakukan penelitian serba-cakup tentang teknologi dan sistem manajemen yang digunakan perusahaan, memutakhirkannya, dan bahkan menemukan sendiri solusi yang bisa diajukan. Semakin besar concern perusahaan terhadap level of competition, semakin besar dana litbang mereka keluarkan. Itu hukum alam sekaligus hukum rimba. Driving factor-nya adalah laba dan revenue, dua alasan kuat yang mewajibkan mereka berhitung secara matang selain hidup-atau-mati.

Pihak kedua terkait langsung kegiatan litbang adalah kampus. Di satu sisi, kegiatan penelitian dilakukan untuk mengimplementasikan teori. Di sisi lain, kegiatan penelitian juga dimaksudkan untuk memutakhirkan teori atau bahkan melahirkan teori baru. Penelitian adalah panggilan suci dunia pendidikan. Kadang untuk kebutuhan besar, dunia pendidikan datang ke meja korporasi berharap donasi atau sponsorship. Ini membuktikan bahwa korporasi memang seharusnya berada di baris depan.

Pihak terakhir terkait kegiatan litbang adalah Pemerintah. Sebetulnya, seboleh-bolehnya, pemerintah tak perlu keluar duit. Tak ada driving factor di sektor ini. Temuan dari penelitian tidak menghasilkan laba. Anda sudah lihat ratusan temuan dan paten ngendon belasan hingga puluhan tahun di Kementerian Ristek? Untuk menjual hasil penelitian tersebut pemerintah harus membentuk BUMN yang mengurusnya. Lagi-lagi akhirnya semua berujung di korporasi.

Jadi, gila betul kalau Ahmad Zaky menuntut pemerintah menaikkan dana riset. Dia tolol atau provokator? Juga begok banget para netizen gagap memuji-muji kritisisme Zaky dan lalu mendorong pemerintah menaikkan dana riset karena cuitan tersebut.

Ukuran dana riset nasional bergantung kepada size of economy sebuah negara. Size Indonesia memang lumayan besar. Tapi pendapatan negara masih bertumpu kepada domestic spending, yang darinya pajak dipungut. Kalau pun bermimpi menaikkan pendapatan dari sisi ekspor, elemen ristek tak terlalu dibutuhkan. Kita masih mengandalkan ekspor bahan mentah—belum bergairah membubuhkan added value ke produk-produk tersebut sebagaimana selalu dirangsang BJ Habibie melalui pidato-pidatonya.
~

Jokowi menjadikan panggung debat II Pilpres 2019 mengarah ke suasana seperti yang terdapati dalam pilpres di Amerika Serikat. Dengan tenang dia beber kepemilikan lahan Prabowo di Kalimantan dan Aceh: 220ribu HA dan 120ribu HA. Itu bukti paling jahat tentang betapa bertolakbelakang Prabowo dengan Jokowi. Ketika Prabowo bercuap-cuap comel soal pasal 33 UUD 1945, Jokowi menyodor data tersebut. Satu Indonesia tersihir. Tentu itu harus di-recover.

Di pernyataan pamungkas, Prabowo menggunakan 37 detik tersisa untuk menjelaskan kepemilikan 340ribu HA lahan. “Itu HGU, itu punya pemerintah. Kalau untuk negara, saya rela mengembalikan itu semua.”

Meski cacat nalar, act of recovery tersebut bagus. Dorongannya ada pada penggal “saya rela mengembalikan itu semua.” Tapi sayangnya, atau begonya, atau aslinya, Prabowo memberikan kalimat penutup sesat: "tapi, daripada jatuh ke orang asing, lebih baik saya yang kelola karena saya nasionalis dan patriot."

Angka 340ribu HA seolah-olah mengesankan bahwa Prabowo adalah satu-satunya nasionalis dan patriot di negeri ini sehingga hanya kepada dia pemerintah layak menganugerahkan penguasaan lahan segede bagong. Dia menafikan kemungkinan lain: pendistribusian lahan tersebut ke 170ribu keluarga. Dengan demikian Prabowo merasa dirinya lebih layak, lebih berarti, lebih pantas, lebih suci, daripada ratusan ribu orang.

Kalian gak merasa tersinggung, gak merasa terhina, gak merasa dilecehkan, gak merasa direndahkan ke titik nadir?

Prabowo dan Ahmad Zaky punya kemiripan: doyan memuntir nalar publik dengan argumen sesatnya. Apakah itu sebuah kejahatan? Saya tak tahu. Tapi yang jelas, sebagai CEO sebuah unicorn, Ahmad Zaky wajib memiliki pengetahuan serba-cakup; Sebagai capres, Prabowo pun harusnya demikian.

Jadi apa reaksi kita terhadap 2 orang ini?

Zaky tak layak menjadi CEO Bukalapak. Kalau bertahan, sungguh wajar jika publik meninggalkan Bukalapak. Siapa mau membeli layanan yang dipimpin seorang dunguwan?

Prabowo tak layak menjadi capres. Siapa memangnya mau dipimpin seorang Presiden yang merasa dirinya jauh lebih terhormat dan harus lebih dilayani daripada ratusan ribu orang?

Uninstall Bukalapak dari gadgetmu hingga Zaky diganti. 
Uninstall Prabowo dari hatimu hingga pilpres 2019 berakhir.
~

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, February 19, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: