Uniform dan Game Online

ilustrasi

Oleh : Raihan Lubis

Kemarin sehabis mandi sore, si sulung memakai seragam basket sekolahnya. "Mau main basket?" tanyaku. "Enggak, Ma. Hanya pengen mengingat kejayaan aja," katanya. Aku tertegun.

Seragam sekolah anak-anak bagiku tidak hanya baju yang harus mereka pakai sesuai jadwal; senin memakai seragam putih-putih, selasa putih biru, rabu olahraga, kamis batik, jumat pramuka. Bagiku, baju seragam mereka adalah pengganti nama-nama hari. Sejak akhir tahun lalu, aku lebih banyak bekerja dari rumah sehingga kadang-kala aku (suka) lupa hari. Kini sejak mereka libur sekolah, aku kehilangan petunjuk untuk mengingat hari ini hari apa.

Usai magrib, si sulung ikut menyiapkan makan malam. Kutanya lagi; "Kangen ya sama sekolah dan kawan-kawan?" Dia mengangguk. Dalam hati, aku sedih. Pastinya berat buat dia dan juga mungkin kawan-kawannya yang diliburkan mendadak karena wabah korona di pertengahan Maret lalu.

Kemudian libur diperpanjang sampai pertengahan April ini. Tugas-tugas sekolah menumpuk, mencari bahan ini itu, ikut kuis online ini itu, dan seterusnya. Untunglah, ketika duduk di kelas satu sampai tiga SD, dia menjalani homeschooling sehingga tidak sulit baginya beradaptasi untuk belajar secara mandiri.

Di sela-sela belajarnya, dia akan menghibur diri dengan bermain game online- dan di saat inilah kulihat dia berinteraksi dengan kawan-kawannya. Kadang-kadang aku merasa aneh jika mengingat keterhubunganku dengn kawan-kawan di masa kecil . Dulu kami bermain dan berinteraksi di saat main bola kaki di kebun belakang rumahku, atau main masak-masakan di teras rumah. Kami juga suka berkumpul jika tengah musim buah, karena di rumah banyak sekali pohon buah-buahan seperti rambutan, duku, buni, rukam, namnam, jambu klutuk, juga kuini. Masa ini, teknologi telah mengubah arti ruang dan makna bermain bagi anak-anak.

Sumber : Status Facebook Raihan Lubis

Monday, April 6, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: