Umat Frustrasi

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 
Tanpa disadari, umat Islam itu sebetulnya banyak yang frustasi sehingga cendurung ngomong sekenanya dan berperilaku seenaknya (ngumpat sana-sini, nyerocos sana-sini, demo sana-sini, ngamuk sana-sini) seperti orang sedang mendem Cong Yang atau kesurupan "demit monas", tanpa mereka cerna, pahami dan dalami terlebih dahulu apa sebetulnya makna dan substansi yang mereka katakan dan lakukan itu.
 
Tentu saja tidak semua umat Islam seperti ini. Banyak sekali umat Islam yang masih waras, tidak larut dalam gelombang "kaum odong-odong jelmaan kadal gurun". Tetapi dalam konteks Indonesia, saya perhatikan, orang-orang Islam model begini semakin menjamur, khususnya di kota-kota.
 

Kenapa saya katakan pernyataan dan perilaku aneh-aneh dan unyu-unyu itu sebagai dampak dari frustasi? Karena sejatinya, dalam konteks global-internasional, umat Islam itu nyaris telah kehilangan semuanya sehingga menjadi kaum fakir-miskin.
Coba saja Anda simak dengan seksama:
Dalam hal kepolitikan dan percaturan hubungan internasional, umat Islam tak berkutik sama sekali; dalam hal perekonomian dan perbisnisan, umat Islam sama sekali tak memegang posisi dan kendali alias nyungsep; dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam keok karena prestasinya jeblok-blok; dalam bidang ideologi politik-ekonomi, umat Islam hancur-lebur dimamah oleh ideologi-ideologi raksasa semacam kapitalisme atau sosialisme; di bidang peradaban dan kebudayaan, umat Islam juga tenggelam ke dasar jurang; di bidang Internet apalagi, prestasi umat Islam nol-njendol, dlsb.
Jadi, hampir semua ranah kehidupan, umat Islam nyaris kehilangan dan tidak punya apa-apa dibabat habis oleh kaum non-Muslim, baik umat yang beragama (Kristen, Yahudi, Buddha, Sinto, Konghucu, dlsb) maupun yang tidak beragama (kelompok ateis, agnostik atau freethinker).
Karena keok bertarung di semua ranah kehidupan, akhirnya yang bisa umat Islam lakukan adalah:
(1) Mengkambinghitamkan non-Muslim sebagai "biang kerok" kehancuran Islam dan mengkopar-kapirkan produk-produk kebudayaan mereka;
(2) Mendompleng dan menempeli label "Syariat" di produk-produk sekuler made in non-Muslim (bank syariat, Perda Syariat, Negara Syariat, hotel syariat, kondom syariat, dlsb);
(3) Teriak-teriak memboikot produk-produk non-Muslim, meskipun sebetulnya aksi boikot mereka itu hanya pesesan kosong dan gombal-gombalan saja. Teriak boikot produk kapir sambil "mbadog" (makan) di KFC.
(4) Menghibur diri dengan cara mengklaim sebagai golongan satu-satunya yang akan masuk "surga" kelak setelah mati, sementara umat non-Muslim divonis masuk "neraka". Seolah-olah mereka mau bilang: "Di dunia ini kalah nggak apa-apa, yang penting kita kelak di 'dunia lain' heppiii masuk surga. Biarkan si kapir bahagia di dunia, kelak di akhirat mereka akan nyemplung ke neraka".
(5) Pamer kejayaan Islam masa lalu tetapi mereka sendiri nggak berbuat apa-apa untuk membuat Islam kembali berjaya. "Boleh saja kalian non-Muslim sekarang hebat tapi kami dulu zaman bahoela, nenek-moyang kami pernah hebat".
(6) Bangga dengan jumlah umat Islam yang milyaran meskipun miskin prestasi.
(7) Meneror non-Muslim dan menghancurkan produk-produk mereka: dari merusak sampai yang paling ekstrim: mengebom properti. Karena membuat nggak bisa, akhirnya frustasi, marah, ngamuk dan mengobrak-abrik produk-produk non-Muslim itu.
Saya mengajak kaum Muslim di Indonesia khususnya jika kalian ingin maju maka mulailah berpikir realistis-rasional-ilmiah, menyadari kelemahan dan kekurangan, hindari kebiasaan mengkhayal ke masa lampau, belajar dengan tekun untuk menggapai ilmu pengetahuan, bekerja keras memaksimalkan potensi otak dan akal-pikiran, mengapresiasi karya umat lain, gigih membangun ekonomi & teknologi, dlsb.
Juga tak kalah penting: makan-minum yang sehat dan bergizi serta hindari kebiasaan pipis sembarangan nanti demit-demit pada marah dan protes karena bau pesing-ambring. Sudah dikencingi onta, dikencingi manusia lagi.
Jabal Dhahran, Jazirah Arabia
(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

 

Friday, January 12, 2018 - 21:30
Kategori Rubrik: