Ulama

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Ulama itu bentuk jama' dari 'alim. Secara umum memang bisa saja dimaknai sebagai ahli ilmu, namun dalam istilah yang lebih khas digunakan, maksud ulama itu adalah pakar di bidang suatu disiplin ilmu agama.

Baik dia sebagai pelopor atau yang menyempurnakannya kemudian.

Sebenarnya Nabi SAW dan para shahabat juga bisa disebut ulama, namun penggunaannya kurang lazim.

Mengapa?

Karena Rasulullah SAW itu posisinya bukan penemu namun justru di atasnya, yaitu sebagai sumber dari ilmu-ilmu keislaman.

Begitu juga para shahabat, termasuk juga sumber ilmu pengetahuan agama. Dan tentu saja sumber paling utama adalah Al-Quran itu sendiri.

Lalu kenapa mereka tidak disebut 'ulama'?

Karena lazimnya ilmu dikenal sebagai bentuk karya ilmiyah, menjadi sebuah disiplin keilmuan yang dikembangkan secara baku, dari yang tadinya masuh berserakan dan belum tersusun rapi.

Sebagai contoh, Nabi SAW dan para shahabat itu sumber bahasa Arab. Mereka mempraktekkan bahasa Arab dalam kesehariannya.

Namun ketika bahasa Arab mulai dituliskan rumusnya, dipetakan anatominya, dibuatkan grammatikanya, disusun teori dan kaidahnya, sehingga lahir menjadi sebuah cabang ilmu bahasa Arab tersendiri, seperti Ilmu Nahwu, Sharaf dan lainnya, barulah lazim kita sebut sebagai : ilmu bahasa Arab.

Sibawaih misalnya, kita sebut sebagai salah satu ulama ahli Nahwu, atas peranan dan jasanya dalam merumuskan kaidah-kaidah dasar ilmu grammatika bahasa Arab.

Ketika teknik menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran, Hadits dan sumber lainnya mulai dirumuskan aturan dan kaidahnya oleh As-Syafi'i, maka kita menyebut bahwa Beliau itu salah satu dari para ulama Ilmu Fiqih dan Ilmu Ushul Fiqih.

Khususnya ketika Beliau menyusun kitab Al-Umm, Al-Hujjah, dsn juga Ar-Risalah.

Di dalam dunia sains, ulama itu kira-kira sebanding dengan para penemu yang kita hafalkan namanya sejak SD dulu.

Misalnya penemu mesin uap itu James Watt, penemu listrik itu Edison, penemu pesawat terbang itu Wright bersaudara, penemu di bidang fisika itu Newton, Einstain dan lainnya.

Dan ketika hari ini sains itu dikembang di pusat sains di suatu perguruan tinggi oleh para ahlinya, maka para ahlinya itu kita sebut pakar sains.

Begitu juga dengan ilmu keislaman, ketika masing-masing disiplin ilmu itu terus dikembangkan hingga hari ini di pusat-pusat pendidikan dan perguruan tinggi keislaman, maka para profesornya itu layak kita sebut ulama.

Di masa lalu mereka itu digelari sebagai al-'alim bahkan al-allamah. Di masa sekarang gelarnya berubah jadi doktor dan profesor. Kalau diarabkan, profesor itu disebut al-ustadz.

Mereka memang layak mendapatkan gelar semacam itu karena keilmuan mereka 100% absah dan diakui khalayak secara mutlak.

Bahkan bukan hanya sebatas gelar, tapi juga atribut dan pakaian mereka pun khas.

Bukan buat pamer tapi tujuannya biar khalayak bisa mengenali mereka. Ibarat polisi dan tentara harus pakai seragam, biar khalayak mudah mengenali mereka.

oOo

Sayangnya tradisi baik ini kemudian mengalami pergeseran seiring perubahan zaman. Gelar ustadz misalnya, sampai di negeri kita lantas berubah maknanya jauh sekali.

Sekedar mampu mengajar alif ba ta, sering dinamakan ustadz. Malah yang bikin sedih, di dunia praktek perdukunan pun tidak mau kalah, mereka juga menyebut diri sebagai ustadz.

Sebutan ulama pun mengalami nasib yang sama, terdegradasi dan nilainya anjlog jatuh total. Sekedar tokoh masyarakat atau pembesar suatu ormas, banyak yang suka menyebut dirinya ulama.

Padahal tidak ada satu pun cabang atau disiplin ilmu agama yang diwakilinya. Jangankan mewakili, pernah belajar pun tidak.

Pergeseran demi pergeseran makna ini pada akhirnya menimbulkan tanda tanya besar di tengah khalayak. Dan mereka pun jadi linglung dan bingung.

Padahal kriteria ulama itu amat jelas ukurannya, amat tegas jenjangnya, amat pasti posisinya. Sayangnya khalayak tidak bisa bedakan ulama dan bukan ulama.

Mirip anak kecil yang tidak bisa bedakan antara satpam, hansip, polisi, tentara dan pramuka. Semuanya memang pakai seragam dan suka baris berbaris.

Tapi yang pasti, pramuka tidak sama dengan marinir. Marinir itu kelasnya sudah tinggi, latihannya berat, syaratnya ketat dan disiplinnya sangat mengikat.

Jangan coba-coba pakai seragam marinir sembarangan, bisa kena masalah besar.

Sedangkan pramuka itu ya pramuka. Seragam pramuka dijual bebas di pasar. Semua anak SD pasti punya seragam pramuka, walaupun tidak jelas apakah dia Siaga, Penggalang, Penegak, Pendega atau Pembina.

Salam pramuka . . .

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, September 17, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: