Ulama-Ulama di Luar Negeri dan Indonesia

Oleh: Jumrana Sukisman
Di Malaysia ada lembaga yang bernama Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) atau Jabatan Agama Islam Negeri (JAIN) yang mengawasi peraturan dan SOP bagi penceramah. Setiap penceramah perlu mematuhi panduan tertentu dlm berdakwah, memiliki lisensi atau memohon permit ceramah, dikendalikan badan bukan kerajaan (NGO) yang terdaftar (artinya penceramah memiliki lembaga yg terdaftar pada negara) dan tidak menyentuh isu keharmonian kaum dan agama.
Di Mesir, Kementerian Agama Mesir berhak mengeluarkan dan mencabut lisensi dakwah dari seorang ustadz bila ia diyakini menyebarkan paham radikalisme atau terindikasi memiliki afiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Penceramah yang tidak berlisensi diawasi oleh pemerintah.
 
Di Turki kebijakan sertifikasi ulama juga diberlakukan. bahkan isi ceramahnya juga dikontrol. Ini berlaku sejak masa pemerintahan Kemal Attaturk, dan sampai sekarang masih diterapkan oleh Erdogan.
Di Arab Saudi, ulama diawasi dan digaji Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Tuntutan Agama Arab Saudi. Dalam upaya untuk mengurangi ekstremisme dan penerbitan fatwa 'absurd', Raja Abdullah bin Abdul Aziz pada 2010 menerbitkan dekrit bahwa hanya anggota Dewan Ulama Senior dan mereka yang mendapat izin raja dapat mengeluarkan fatwa. Dan dekrit ini masih berlaku sampai sekarang. Sejak 2003 Arab Saudi telah memecat 3.500 ulama.
Nah melihat perkembangan di Indonesia, dimana banyak penceramah absurd bermunculan tanpa sanad keilmuan yg jelas. Maka pemerintah melalui Kementrian Agama sebaiknya mempertimbangkan utk mencontoh kebijakan negara-negara Islam di atas. Mendata dan mengeluarkan sertifikat bagi penceramah dengan syarat yang ketat. Alasannya jelas, demi menjaga ajaran agama agar tidak dinista oleh penceramah gadungan, menghindari paham radikalisme, dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Cukup politik yang gaduh, hubungan antar agama tak perlu ikut ricuh. Apalagi kita tdk membutuhkan penceramah yg melempar bensin dlm isu-isu politik identitas dan berbicara sesuatu yg bukan bidang yg dipahaminya sehingga berubah peran menjadi penghasut.

(Sumber: Facebook Jumrana S)

Thursday, July 9, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: