Ulama Tanpa Sertifikasi Harusnya Malu Dengan Anak SD yang Punya Ijasah

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Tentu saja mereka tidak setuju adanya rencana sertifikasi penceramah, karena penceramah kelas mereka adalah yang tidak bisa ngaji dan gak pernah mondok seperti Sugik. Penceramah yang tidak bisa berdakwah dan bisanya provokasi. Penceramah yang selalu menghujat dan berkata kasar, bukannya mendoakan yang baik-baik.

Penceramah yang ngurusi politik kekuasaan, bukannya ngurusi soal ibadah dan keimanan. Penceramah yang mengadu domba bukannya mendamaikan dan menyatukan. Sertifikasi sendiri adalah sebuah pengakuan biasanya dari organisasi profesional bahwa orang tersebut telah memenuhi kompetensi yang dimaksud dan dapat menjalankan pekerjaan khusus.

Contoh, sertifikasi guru adalah suatu usaha pemerintah untuk dapat meningkatkan mutu atau juga uji kompetensi tenaga pendidik di dalam mekanisme teknis. Hal ini sudah diatur oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah bekerja sama dengan instansi pendidikan tinggi yang mempunyai kompeten.

Pada akhirnya akan diberikan sertifikat pendidik kepada guru yang sudah dinyatakan standar keprofesionalannya. Di banyak bidang profesi juga tersedia sertifikasi sebagai standar kompetensi profesi, seperti: dokter, pengacara, pelayar, penerbang, penjahit, dan sebagainya. Jadi mengapa penceramah takut disertifikasi?

Bukankah sekarang ini kita juga wajar menjadi khawatir banyak orang yang mengaku-ngaku ulama, ustadz dan penceramah meski tidak berbekal ilmu agama? Bahkan ada yang dengan bangga mengaku bekas preman dan bajingan serta mengatakan "emang gua pikirin" gak pernah mondok, gak mengenal kitab kuning, kitab ijo atau apapun, tapi diakui sebagai ustadz.

Tentu hal ini patut dicermati agar jangan sampai banyak orang yang tidak berbekal ilmu agama apapun tapi menjadi penceramah di pengajian-pengajian. Apa yang akan diajarkan ustadz sekelas itu? Dan ketahuilah ukuran keulamaan menjadi sangat rendah. Ulama kini cukup dilihat menggunakan sorban, bicara kearab-araban, namun mulutnya sungguh kotor berisi ujaran kebencian, cacian dan fitnahan keji kepada sesamanya.

Golongan seperti itulah yang dibenci Nabi Muhammad SAW. Golongan pertama adalah pembual atau pendusta yang banyak cakap dan lagunya, serta pandai pula bersilat lidah. Kadang disertai argumentasi logis dan yuridis, namun mengandung kebohongan dan tipuan. Kalau bicara seenaknya, kurang menjaga adab dan menyela pembicaraan.

Nabi SAW berpesan, “Katakanlah yang baik atau diam.” (HR Bukhari). Banyak kata tapi sedikit makna dan tidak sesuai fakta. Mereka itulah orang-orang munafik yang apabila berkata ia dusta, bila berjanji diingkari dan bila dipercaya dikhianati (HR. Bukhari). Jangan percaya kepada orang yang banyak cakap, tapi minim amal atau tidak sesuai dengan lakunya (QS [61]:2-3).

Kedua, al-mutasyaddiquun (Orang yang suka bicara berlebihan kepada orang lain). Golongan kedua yang dibenci Nabi SAW adalah orang berlagak fasih dengan tata bahasa yang menakjubkan. Jika bicara, bumbunya berlebihan hingga tak sesuai kenyataan. Lihai dalam bertutur kata, tapi hanya ingin dapat pujian.

Tidak jarang pula, bahasanya indah namun berbisa (menghinakan). Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah. Dalam diri manusia ada hati (wadah), akal (pengendali) dan hawa nafsu (keinginan). Jika hati kotor maka yang keluar dari lisan pun kotor. Jika baik maka yang keluar dari ucapan juga baik (QS [91]:8-10).

Alquran menyindir manusia yang perkataannya menarik, tetapi palsu belaka (QS [2]:204, [22]:30). Ketiga, al-mutafaihiquun (Orang yang suka membesarkan diri). Golongan ketiga yang sangat dibenci Nabi SAW yakni orang sombong atau angkuh. Kesombongan pertama adalah ketika Iblis menolak sujud kepada Nabi Adam AS, lalu ia pun dikeluarkan dari surga (QS [5]:29-35).

Tentang etika dakwah, Islam pun mengajarkan bahwa tugas seorang mubaligh sebatas menyampaikan, bukan mengislamkan apalagi menjanjikan kenikmatan surgawi. Vonis terhadap orang ini-itu sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, sangat tidak dianjurkan karena melangkahi Rabb, penguasa seluruh ciptaan.

Islam menekankan umatnya muhasabah atau koreksi diri sendiri daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Tuhan. Allahu a’lam bish-shawab. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Sunday, September 13, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: