Ulama Su', Yang tak Bisa Diteladani

Oleh: Sunardian Wiodhono

 

Kata ulama adalah bentuk jama’ dari ‘alim yang artinya ahli ilmu atau ilmuwan. Sementara kata su’ adalah masdar dari sa’a-yasu’u-saw’an yang artinya jelek, buruk dan jahat. Secara bahasa arti ulama su’ adalah ahli ilmu atau ilmuwan yang buruk dan jahat.

Rasulullah ﷺ bersabda,”Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama”. (HR Ad Darimi). Artinya, kalau ada ulama (apalagi ngaku-aku ulama) yang buruk atau jahat, itulah seburuk-buruk atau sejahat-jahatnya manusia. 

 

Ulama hakekatnya berhubungan dengan ilmu dan kebaikan. Harta dan tahta adalah godaan bagi ulama yang bisa menjerumuskan ke dalam kehinaan. 

Sayyidina Anas ra meriwayatkan: “Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik terhadap dunia, maka mereka telah mengkhianati para Rasul, karena itu jauhilah mereka.” (HR al Hakim)

Dari Abu Dzar berkata, ”Dahulu saya pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Sungguh bukan dajjal yang aku takutkan atas umatku.”. Beliau mengatakan tiga kali, maka saya bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah selain dajjal yang paling Engkau takutkan atas umatmu?”. Beliau menjawab, para tokoh yang menyesatkan”. (Musnad Ahmad, 35/222)

Dalam sebuah Hadits Rasulullah mengatakan: “Apabila seseorang di antara kamu bertasyahud, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 hal seraya mengucapkan; “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa Neraka Jahanam, Siksa Kubur, Cobaan Hidup dan Mati, dari perlindungan dari Fitnah Dajjal” (Riwayat Bukhari dan Muslim). 

Dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al Ghazali menuliskan sebagai berikut: "... Ia (ulama su') menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dengan kedudukan, dan membanggakan diri dengan banyaknya pengikut. Ia masuk terperosok ke banyak lubang tipu daya karena ilmunya itu dengan harapan hajat duniawinya terpenuhi. 

Ia di tengah kehinaan itu merasa dalam batinnya memiliki tempat mulia di sisi Allah karena ia bergaya dengan gaya ulama dan berpenampilan soal pakaian dan ucapan sebagaimana penampilan ulama di saat ia secara lahir dan batin menerkam dunia semata. 

Orang ini termasuk mereka yang celaka dan mereka yang dungu lagi terpedaya. Tiada harapan untuk pertobatannya karena ia sendiri merasa sebagai orang baik atau muhsinin (Lihat Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, Indonesia: Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah, tanpa catatan tahun, halaman 7-8).

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodhono)

Thursday, May 2, 2019 - 12:45
Kategori Rubrik: