Ulama Politik

ilustrasi

Oleh : Jody Ananda

Ustadz Abdul Shomad (UAS) sah-sah saja memberikan aspirasi politiknya kepada kubu 02. Demokrasi menjamin hal itu, termasuk mendasari pilihannya pada pengalaman spiritual. Hanya saja, yang perlu kita dan UAS pahami, pengalaman spiritual tiap orang tidak sama, termasuk kehalusan "jiwa" dalam memahami dan memberikan tafsir otentik dan shohih terhadap suatu fenomena.

Satu tafsir yang diyakini seseorang, boleh jadi bertolakbelakang dan berbeda dengan orang lain.

***

Tahun 2014, seorang teman sesama pejalan ruhani, begitu meyakini 100% bahwa Prabowo akan menang. Dia pun mendalilkan pengalaman spritualnya sebagai argumen, lalu menyimpulkan, "Sudah tertulis, Prabowo akan jadi presiden, bro!".

Saya terdiam, kemudian mengatakan, "Tidak demikian. Pilpres ini urusan duniawi, bukan urusan spiritual atau iman. Yang harus dipakai adalah rasionalitas kita sebagai manusia. Rasionalitas yang saya hitung, baca dan yakini, Jokowi yang akan menang."

Lalu saya bertanya padanya, "Bukankah guru-guru kita, kerap kali mengingatkan, urusan duniawi selesaikan dengan cara dunia (baca : kemanusiaan dan akap sehat)?? Zikir, ibadah dll bukan solusi atas permasalahan duniawi. Ia berperan dalam meletakkan kerangka pikir dalam mencari solusi, namun bukan bagian dari solusi itu sendiri"

Kerap kali kita sebagai manusia berpikir terbalik, menempatkan rasionalitas/kemanusiaan dalam kerangka takdir dan "memisahkannya", atau sebaliknya. Menghasilkan output delusi (igauan) yang kemudian diberikan argumen religius agar tampak benar.

Takdir dan rasionalitas tak pernah berpisah. Ia menyatu sebagaimana Tuhan dengan Hamba. Tak pernah berpisah.

Rasionalitas maujud pada kemanusiaan, dan kemanusiaan, jika pandai bertafakkur melihat ke dalam DIRI, adalah maujudnya Tuhan yang hakiki pada diri hambanya.

Salam.

Sumber : Status Facebook Jody Ananda

Monday, April 15, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: