Ulama Pasca Kebenaran

Oleh: Amin Mudzakir

 

Sekarang masalahnya bukan lagi apakah ulama boleh berpolitik atau tidak, tetapi siapakah ulama itu. Pertanyaan terakhir ini sangat krusial. Di era pasca-kebenaran, pengertian mengenai ulama dijungkirbalikan.

Dalam pengertian klasik, Ma'ruf Amin adalah seorang ulama. Mau setuju atau tidak dengan pemikiran dan langkah politiknya, dia adalah ulama. Jabatannya sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI adalah bukti formal untuk itu.

 

 

Namun belakangan muncul pengertian pasca-kebenaran mengenai ulama. Sandiaga Uno yang sepanjang hidupnya tidak pernah belajar di pesantren, bahkan mungkin pesantren kilat sekalipun, diberi atribut keulamaan. Digambarkan sedemikian rupa bahwa dia mempunyai laku religius sebagaimana layaknya ulama.

Jika ulama dirasa agak ketinggian, maka dia diberi label santri, santri pasca-Islamisme. Bahkan tersiar gambar yang menunjukkan dia adalah mantan aktivis HMI. Pokoknya, setidaknya, ada warna Islam yang melekat pada dirinya.

Tentu saja sebagai bagian dari strategi kampanye, hal tersebut sah-sah saja. Namun semua ada dampaknya. Ulama beneran direndahkan, sedangkan ulama jadi-jadian ditinggikan. Inilah masalah ulama di era pasca-kebenaran.

Istilah pasca-kebenaran adalah ciptaan orang Barat. Orang Jawa menyebutnya zaman edan.

 

(Sumber: Facebook Amin Mudzakir)

Monday, August 13, 2018 - 09:15
Kategori Rubrik: