Ulama Palu Gada

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Singkatan apa lu mau gue ada, itulah jawaban seorang teman saat saya tanya bisnis apa. Maksudnya bisnisnya apa saja, apa saja yang kita butuh, dia akan bisa menyediakannya.

Salah satu profesor yang mengajar saya pernah cerita, bahwa dulu Beliau diajak oleh seniornya mendirikan semacam lembaga fatwa. Uniknya mau fatwa macam apa saja, bisa dicarikan rujukannya.

Mau pakai mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i atau Hambali, ada semua sumber rujukannya. Mau yang rada nyeleneh juga ada. Seperti yang sedikit-sedikit jamak qashar sedikit sedikit jamak qashar model Ibnu Hazm yang zhahiri juga ada.

Pokoknya palu gada, apa lu mau gue ada. Sekilas kok oportunis sekali ya. Kayak memain-mainkan hukum gitu.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya tidak selalu jadi negatif juga. Kadang malah positif sebenarnya. Banyaknya pilihan fatwa bagi seorang mufti, kiyai, ustadz dan penceramah justru menjadi koleksi khazanah intelektual yang amat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai macam segmentasi umat.

Biar dia tidak salah pilih fatwa karena tidak punya stok koleksi. Di tengah umat yang rajin maulidan, kok malah bawa fatwa dari kalangan yang anti maulidan. Ya nggak nyambung. Mau pulang lewat mana berani-berani haramkan maulid?

Di tengah kalangan anti rokok, kok berfatwa halalnya rokok? Di tengah kalangan artis dan penyanyi kok haramkan lagu dan musik? Di tengah aktifis pro dakwah politik kok haramkan politik. Mau pulang lewat mana biar aman?

Maka jalan tengahnya kejujuran, kuncinya buka semua kotak, terus terang saja, kalau ada ikhtilaf para ulama. Mau bilang apa kalau kenyataannya memang khilafiyah?

Ketika pasukan muslimin dari Kufah siap serbu pasukan muslimin dari Damaskus gara-gara beda qiroah, maka Khalifah Utsman menengahi. Caranya masing-masing dibuatkan mushaf khusus yang disesuaikan dengan qiroatnya.

Untuk masyarakat kufah, mushaf Utsmani yang dibuatkan disesuaikan dengan qiroat jalur guru mereka, Ibnu Mas'ud. Dan untuk masyarakat Damaskus, juga dibuatkan mushaf Utsmani khusus, yang disesuaikan dengan qiroat jalur guru mereka, Ubay bin Ka'ab.

Maka mereka pun damai, tidak ada yang salah dan tidak ada yang dipersalahkan. Tidak ada yang merasa dituduh sesat, haram, bid'ah dan masuk neraka.

Maka sejak awal saya diajari guru-guru saya kalau ditanya suatu masalah, alangkah baiknya diawali dgn kalimat pembuka :

لقد اختلف العلماء في هذه المسألة على عدة أقوال

Para ulama dalam hal ini telah berbeda menjadi beberapa pendapat.

Dan begitulah model soal fiqih saat kuliah S1 dulu. Sebutkan perbedaan pendapat empat mazhab dalam qunut shubuh dilengkapi dengan dalil masing-masing serta analisa kenapa mereka berbeda pendapat.

Jawabannya butuh 5 halaman kertas jawaban. Lumayan panjang sih. Tapi ya memang itu yang jadi muqoror tiap hari dihafalin siang malam.

Habis menjawab dengan pendapat 4 mazhab rasanya lega. Amanat sudah disampaikan secara apa adanya. Tidak perlu ada yang tersinggung. Yang qunut tetap qunut dan yang tidak qunut tetap tidak qunut.

Pulang shubuhan tetap makan bubur ayam bersama. Meski mazhabnya tetap beda, satu diaduk dan satunya tidak diaduk. Tapi tetap akur, tetap nraktir dan tidak bayar sendiri-sendiri.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Tuesday, December 3, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: