Ulama Nan Cendekia

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Anak Kardinal Bertemu 'Pertamini' )

Alhamdulillah . . .
Minggu kemaren saya berhasil himpun karya 3 dari ribuan 'Ulama' Indonesia. Berupa 'tafsir' Al Qur'an. Tafsir lho ! Bukan 'terjemahan' . . .

Pertama Tafsir Al-Azhar yang terdiri atas 16 kitab. Karya Almarhum Buya Hamka. Saya beli tahun 2000, nyicil sebulan satu atau dua buku. Tuntas setahun kemudian.

Tafsir Al-Misbach karya Abah Quraish Shihab, seorang 'Habib' namun ndak mau disebut Habib, yang saya koleksi tahun 2007. Saat itu saya sudah cukup 'merasa' kaya, karena ke-15 buku itu langsung saya beli jrèng !

Minggu kemaren dapat lagi. Awalnya saya belum tahu kalau 'Beliau' yang satu ini susun Tafsir Qur'an juga. Maklum saya bukan 'Anak Pondokan'. Ada yang kirim informasi tentang kitab itu, lalu ada juga yang berkenan ngirim.

Ya sudah. Dalam perpustakaan sekarang ada Tafsir Al-Ibriz, yang nyusun KH. Bisri Mustofa. Berbahasa Jawa tapi berhuruf Arab. Meski datang dan masuk belakangan ke ruang pustaka saya, namun kitab tafsir ini ternyata lebih 'tua'. Karena dibuat tahun 1957 -1960. Beliau ini bapak Gus Mus, KH Mustofa Bisri.

Meski 'cuma' terdiri dari 3 kitab, dan 2 kitab 'pengantar'. Uraian di dalamnya ndak kalah ciamik. Malah, bagi Wong Jowo terasa lebih 'nyês', karena pakai bahasa mereka . . .

Yang ingin saya sampaikan disini, bukan tentang koleksi kitab2 saya itu. Tapi, nurut saya, salah satu ciri seorang 'Ulama' yang 'bener' itu adalah ber-karya . . .

Dalam hal ini selalu ada yang ditinggalkan dari buah pikir mereka. Hasil dari 'pengembaraan' di padang ilmu dan spiritual. Yakni buku atau kitab.

Ini sekaligus tanda dan pertanda, bahwa potensi anugrah Tuhan, digunakan semua dengan selayaknya. Otak Kiri, Kiri Otak Kanan, Otak Tengah, Hati, dan Nurani . . .

Bisa saja langsung ditulis sendiri, atau ditulis oleh orang lain. Gus Dur banyak juga untuk jenis yang terakhir ini. Buah pemikirannya di 'tafsir' dan ditulis oleh satu atau beberapa orang. Pemikiran itu bukan biografi.

Ulama yang 'terkesan' modern, karena isi tulisan-nya membahas masalah2 ke-kini-an. Bukan hanya dalil2 fiqih atau yang sejenis. Di barisan ini ada, Buya Syafii Maarif, Nurcholis Madjid, Gus Nader, Kang Jalalludin Rahmat . . .

Gus Nader malah aktif diseluruh 'sektor' media. Ragam tulis seperti buku atau jurnal2 ber-gengsi, merambah juga Facebook, danTwitter.

Tahun 90-an saya pernah omong dengan teman saya, simpatisan sebuah partai. Saya 'ejek' dia. Mosok 'bos' partai Islam kok cuma bisa bikin buku yang berjudul 'Panduan Zakat'.

Itu bukan buah pikir, tapi 'seni' kompilasi, kliping koran, ejek saya. Anak jaman sekarang, yang masih SD pun bisa bikin. Tinggal tanya mBah google, hasil masukkan ber-jenis2 kata kunci 'search' . . .

Ndak mutu . . .

Ternyata 'ejekan' saya meski bener tapi ndak betul, hasilnya. Memang mengherankan sekaligus menggelikan.

'Ngulama' yang sekelas begitu, ternyata yang sekarang laris. Banyak 'job', sekaligus banyak penggemar.

Bahkan yang asal teriak kencang pakai kata 'kopar-kapir', dholim, PKI, ngaku 'turunan' Kardinal, laris manis juga . . .

Makin kenceng teriakanya, makin 'aneh' yang disampaikan, makin nyohor . . .

Apakah para penggemar mereka kumpulan orang2 bodo ? Ndak juga. Ada banyak diantara mereka yang berpendidikan tinggi. Bahkan punya jabatan bergengsi. Harta pun lebih dari cukup.

Gus Mus, saat bahas Surat Al-Fatihah dari kitab tafsir Al-Ibriz karya Bapaknya ngêndika, bicarakan satu hal. Tentang 'jenis' manusia berkaitan dengan daya dan buah pikir ke-agama-an ini.

Ada yang ndak punya 'dalil'. Jadi ada yang 'ndalil' ini, langsung ikut. Ada yang 'ndalil' itu, langsung turut. Kesana kemari . . .

Ada yang cuma punya satu dalil. Jalan lurus saja ikuti dalil itu. Ndak lihat kanan-kiri. Yang lain salah, dianggap jahanam, kata Gus Mus . . .

Nurut saya mungkin itu salah satu sebabnya. Awalnya mereka 'haus', ndak punya dalil sama sekali. Ngalor ngidul ikuti suara apa saja.

Lalu ketemu ngustat 'satu dalil'. Semisal main gitar cuma bisa dua kunci F dan G. Kayak 'grip' lagu Koes Plus tapi versi yang 'fales'. Namun tampilan narik ati. Sebagian juga karena berani sebut yang lain jahanam.

Ya sudah. Kelompok yang haus tadi pun akhirnya punya 'dalil'. Meski cuma satu. Pikir mereka pula, diluar kumpulan 'satu dalil', diluar kumpulan irama kunci F dan G, semua adalah Jahanam . . .

Makanya, tambah Gus Mus, lebih baik kalau tahu banyak 'dalil'. Biar pikiran terbuka.

Dan dalam ruang pustaka saya pun, Kitab-kitab tafsir tadi bisa saja saya sandingkan dengan berbagai macam kitab. Kumpulan hadits atau apapun. Ikuti dawuh Gus Mus. Biar punya dan ngerti banyak 'dalil'.

Saya sanding juga dengan kitab yang bahas Akutansi, ada juga yang bicara Fengshui. Ada kitab Engineering, ada pula kitab primbon Betal-jemur Adamakna. Ada kitab Psikologi, ada pula buku Arsitektur.

Jangan lupa. Disitu ada pula kitab Api Di bukit Menoreh, Nogososro Sabukinten, Musashi, sampai komik Avatar, Spongebob, Sandhora, dan Jampang Jago Betawi . . .

Ngaji memang bisa dari mana saja sumbernya.

Iqro ! Iqro ! Iqro !
Agar kalau ketemu ngustat anak 'cardinal' ndak serta merta berubah jadi kumpulan orang pintar dan kaya, namun sekelas ilmuwan 'Pertamini' . . .

Apa itu ? Lihat di gambar saja

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Wednesday, July 8, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: