Ujian Muslim Sebagai Umat Mayoritas

Ilustrasi

Oleh : Eyang Judiarso

Muslim masih mayoritas di NKRI, sdgkan non muslim minoritas. Kalau yg mayoritas itu senang berbuat semena2 thd yg minoritas, konsekuensinya bisa buruk dan bermacam2, antara lain :

(1). Islam akan menjadi kabur makna rohmatan lil alaminnya baik dalam pandangan muslim maupun dlm pandangan non muslim.

(2). Sekalipun NKRI sdh lama dinyatakan merdeka, yg minoritas akan tetap merasa masih terjajah, smtr yg mayoritas sdh lama merasa merdeka. Logis2 saja jika bisa timbul upaya yang semakin menguat dari pihak minoritas untuk memerdekakan diri, baik secara terang2an maupun secara sembunyi2, baik berupaya sendiri maupun minta bantuan negara2 asing, baik pake cara sederhana maupun canggih. Apalagi umat islam di NKRI banyak yg lemah ekonomi, sementara yang kaya kurang kemampuan dan kesadaran dalam hal empati terhadap kaumnya sendiri, bahkan banyak sekali yg doyan korupsi. Semakin mudah kaum muslim kita diadu domba, baik oleh non muslim maupun oknum dari golongan muslim sendiri.

(3). Konflik antar umat beragama (muslim dengan non muslim) bahkan juga antar umat seagama (muslim dgn muslim) itu analoginya seperti bara dalam sekam yg sewaktu2 bisa menghancurkan lumbung padi. Usaha mengumpulkan padi oleh sejumlah orang di lumbung jadi tidak ada artinya kalau musnah terbakar. Cuma orang bodoh yg sibuk mengumpulkan padi cuma untuk dibiarkan terbakar percuma. Allah tidak mengajarkan islam supaya kaum muslim jadi umat yang bodoh tapi umat yang smart dan bijak. Sudah banyak ajaran2 ttg akhlakul karimah, akan jadi percuma jika kesombongan sebagai mayoritas tidak dilawan dengan akal dan nurani yang sehat.

(4). Allah swt akan smkn tidak ridha terhadap sikap arogan muslim ketika dibiarkan mayoritas, yang lama2 akan jauh dari rahmat Allah. Jika Allah sudah tidak mau lagi memberi rahmat kepada kaum muslim, maka azablah yang akan diterima kaum muslim sebagai pengganti rahmat yang sudah2 tapi tidak mau disyukuri. AzabNya bisa saja turun secara bertahap. Mula2 umat islam kita tetap mayoritas tapi mudah terpecah belah. Lama2 bisa saja jadi minoritas karena kelangkaan tokoh panutan yang bijak dan mampu meneduhkan hingga islam dianggap menjemukan dan bukan agama yg damai dan solutif dalam menjalani masalah kehidupan sosial shg banyak yg pindah agama.

Stop arogansi mayoritas. Sifat sesungguhnya umat muslim sejati itu seharusnya kalau banyak mengayomi, kalau sedikit tetap teguh jaga iman di hati. Tidak ada orang makin beriman makin gampang maki2, makin gampang menghujat atau memfitnah tanpa merasa perlu tabayun, makin gampang teriak kofar-kafir, makin gampang naik darah, makin jauh dari sifat tawadhu', makin rasis, atau makin kehilangan sifat adil. Sifat2 smcm itu bukan sifat2 yang diridhai Allah melainkan diridhai setan.

Muslim seharusnya hati2 dan bijak dalam berpikir, berbicara dan berbuat kepada umat lain karena nama baik umat islam ada di tangan umat islam itu sendiri. Apalagi iman dan taqwa itu yg berhak menilai dan maha tahu adalah Allah, bukan diri sendiri. Tidakkah celaka nantinya jika seorang muslim merasa dekat kepada Allah swt smtr dia tidak sadar bahwa Allah sebenarnya justru benci dan menjauhinya? Kalau masih belum jelas jika baik buruknya keimanan seorang muslim itu susah dipisahkan dari baik buruknya akhlak pribadinya terutama kepada manusia yang lain baik yg seagama maupun yg tidak seagama, sebaiknya jangan dulu merasa atau mengaku paham agama islam. Urusan akhlak itu ajaran yg sangat penting dan mendasar dalam islam. Rasulullah Muhammad saw saja pernah mengatakan, "innama buitstu li utamima makarimal akhlak", sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Jadi kalau belum paham tentang sesuatu, janganlah mengajarkan apa yang belum dipahami. Apalagi urusan keyakinan agama karena agama itu tdk tidak hanya menyangkut soal duniawi tapi juga soal akhirat. Kalau keliru mengajarkan tentu tdk hanya bisa menyesatkan dan mencelakakan diri sendiri tapi sekaligus juga orang lain. Menyesatkan satu orang saja sudah bisa menjauhkan diri dari Tuhan apalagi kalau menyesatkan banyak orang. Bukankah begitu, sodara..?

Sumber : Status Facebook Eyang Judiarso

Thursday, November 9, 2017 - 11:15
Kategori Rubrik: