Ujian Menghadapi Perbedaan

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Ketika bulan ramadhan saya tetap melakukan ritual puasa walaupun saya sedang melakukan business trip yang melelahkan. Sahabat saya yang non muslim yang melihat saya tanpa menyentuh makanan terhidang merasa sungkan menyuap makanan. Dengan halus saya katakan bahwa saya sedang berpuasa. Saya akan baik baik saja. Tidak akan merasa terganggu dengan dia makan.

Mengapa ? tanyanya. Karena puasa ini antara saya dengan Tuhan saya. Tidak ada hubungan dengan siapapun. Andaikan semua orang makan di hadapan saya, tetap tidak akan mempengaruhi sikap saya, dan tentu saya juga tidak akan peduli dengan aktifitas orang lain yang berbeda dengan saya. Yang salah, apabila kita melaksanakan ritual dan masih saja mempermasalahkan sikap orang lain yang berbeda.Itu artinya kita tidak ikhlas dengan perintah puasa dari Allah.

Mengapa ? tanyanya. Semua kita berbuat dengan keimanan kita. Semua kembali kepada diri kita sendiri soal keyakinan kita. Tidak perlu paksa orang menghormati. Karena ibadah itu yang menilai adalah Tuhan, bukan orang lain, dan keimanan itu tidak akan sempurna bila tidak di uji, termasuk melihat setiap jengkal ada restoran buka dan orang makan dengan lahap,sementara kita harus tetap dengan sikap kita tanpa harus protes...

Memang tidak mudah tapi itulah ujian bagi orang beriman di akhir zaman ini. Kualitas keimanan kita tidak di ukur dari banyak bercoleteh dan berseru minta di hormati tapi dari ujian menghadapi perbedaan namun tetap istiqamah.** (ak)

Sumber :Facebook  Erizeli Jely Bandaro

Thursday, June 2, 2016 - 06:00
Kategori Rubrik: