UIN Sunan Kalijaga Tak Lagi Kokoh?

Oleh: Ahmad Hafidh

 

UIN Sunan Kalijaga (SuKa) Jogjakarta sejauh yang saya tahu adalah promotor pemikiran2 kefilsafatan yang sangat kuat. Derasnya arus kajian hermeneutika hanyalah salah satu contoh betapa UIN SuKa memiliki keberpihakan terhadap tradisi intelektual yg terbuka, bebas, & independen sebagaimana prinsip kebebasan mimbar akademik dan meletakkan kampus sebagai academic & intellectual enterprise. 

Namun beberapa saat terakhir ini penilaian saya agak bergeser untuk tdk mengatakan berubah. Ada dua peristiwa yg membuat penilaian saya terhadap almamater sy sendiri itu bergeser.

 

Pertama, kasus pencabutan surat rektor Nomor: B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 tentang pembinaan kepada mahasiswi yg menggunakan cadar dalam kegiatan akademik di dalam kampus dan mahasiswa yg diduga tergabung dlm organisasi yg anti Pancasila. Dalam kasus itu pimpinan UIN SuKa akhirnya menunjukkan sikap melemah setelah mendapatkan respon keras dari berbagai pihak. Mundurnya sikap UIN dr surat pembinaan itu mengindikasikan dua hal: 1) jika merasa bahwa argumen kebijakan itu ternyata lemah baik secara nalar maupun formalitas yuridis, betapa gegabahnya UIN dalam menyusun kebijakan. Bukankah setiap kebijakan yg serius melalui permusyawaratan dan / atau penyusunan naskah akademik sebagai uji kelayakan? maka mundurnya UIN dari posisi surat pembinaan itu sama dengan lemahnya kemampuan penalaran di dalamnya. 2. Jika batalnya kebijakan itu karena tekanan, teor, maupun ragam ekspresi represif lainnya, alangkah naifnya lembaga ini. Bagaimana prinsip akademik bisa runtuh oleh tekanan fisik dan psikis semacam itu? Ini sungguh ancaman serius terhadap integritas civitas akademika. 

Kedua, peristiwa yg masih hangat dan masih viral di media sosial maupun portal berita, yaitu disertasi Dr. Abdul Azis soal Milk al Yamin dalam Pandangan Syahrur Sebagai Keabsahan hubungan Seksual Non Marital yang telah dipertahankan dalam seluruh proses uji penulisan semenjak komprehensi dan kelayakan, penyusunan proposal, pembimbingan promotor, ujian tertutup, maupun ujian terbuka/promosi disertasi. Penilaian saya tentang atmosfir akademik yg kental, integritas akademik yang kokoh, dan progressifitas nalar yg ampuh dan hebat di IAIN SuKa sekali lagi terusik dalam kasus ini. Bukan soal kualitas disertasinya, bukan soal pro kontra hukum yg dibahas di dalamnya, bukan pula soal dampak sosial tulisan disertasi itu. Akan tetapi semata soal cara bersikap institusi UIN terhadap kejadian dan respon eksternal. Dari dua kali konferensi media tampak inkonsistensi dalam bersikap. Dalam konferensi pertama yang dipimpin rektor, UIN SuKa masih berusaha untuk menutup polemik dengan fokus menjelaskan kedudukan pemikiran Syahrur, UIN, promotor, penguji bahkan msh ada indikasi pembelaan kpd promovendus. Akan tetapi dalam konferensi kedua yg melibatkan Dr. Abdul Azis, UIN Suka seakan menarik semua tanggungjawab itu dan menaruh seluruhnya dipundak Dr. Abdul Azis bahkan menambah nya dg beban intellectual bulliying melalui penandatanganan naskah permintaan maaf dan kesanggupan melakukan revisi prinsipil. Ini apa-apaan? Di mana muru'ah prosedur kalayakan dan ujian disertasi sehingga terjadi proses TKO terhadap Abdul Azis di luar ring? Indikasi itu kuat terbaca, di mana dalam konferensi media pertama Dr. Abdul Azis tdk dilibatkan, dan dalam konferensi pers kedua Dr. Abdul Azis "dipaksa" membuat pernyataan pengakuan dosa. Sekali lagi ini bukan soal isi disertasi, tapi soal prosedur.

Apakah UIN SuKa tdk sekokoh biasanya? Tidak seampuh biasanya? Tidak seindependen biasanya? Tidak seegaliter biasanya? Atau biar lebih heroik, tidak segagah biasanya? Atau UIN SuKa lg masuk angin sehingga sensor akademik nya tdk sanggup memindai konten akademik dan gagal membaca konten & implikasi hasil produksi intelektual? Faktor apa yg sdg bermain dlm keanehan ini? Apakah UIN SuKa mulai "menua" shg tdk lagi sanggup menanggung dampak kebijakan yg telah diambil shg harus set back bahkan beberapa langkah untuk cuci tangan? Ini bukan UIN SuKa!!! Pasti ini UIN SuKa KW!!! Ayolah UIN SuKa, kembalilah cerah, kokoh, ampuh, independen, kuat integritas, egaliter dan sanggup bersikap adil dalam persemaian pemikiran yg bahkan telah ditanam sendiri. 
Tp dalam bacaan saya, UIN SuKa masih kokoh, hanya sedang masuk angin. وما توفيقي الا بالله

 

(Sumber: facebook Ahmad Hafidh)

Wednesday, September 4, 2019 - 22:15
Kategori Rubrik: