UI Atau UGM

ilustrasi

Oleh : Liza Novijanti

UI menetapkan kendaraan bermotor R2/R4 masuk ke kawasan UI berbayar, walau hanya lewat. Berlaku juga untuk mahasiswa, dan mahasiswa masih harus bayar parkir. Dengan alasan untuk mengurangi polusi. Sedangkan sepeda kuning, yang dulu gratis, jadi bayar, kabarnya 15 ribu. Relevansinya apa kebijakan bayar sepeda dengan mengurangi polusi, Bambaaang?

Bus Trans Jakarta akan masuk gratis, tapi bis kuning akan ditiadakan. Anda bisa bayangkan bis kuning sering lewat, kalau bis Trans yang rutenya jauh, Lebak bulus/Manggarai-UI, jadi jarang lewat kan? Berarti mahasiswa terpaksa pinjam sepeda kalau butuh dan memburu waktu.

UI menuju menara gading yang tidak tersentuh wong cilik. Dulu pedagang kecil bisa berjualan di UI, kemudian dipersempit, dipusatkan di dekat masjid. Kemudian entah ke mana, itu pedagang lenyap tak berbekas. Semua kuliner dipusatkan di kantin. Padahal pernah saya tanya bagaimana bisa berjualan di kantin? Jawabnya, kebanyakan orang dalam sih Bu.. Hmmm

Bandingkan dengan UGM, yang mahasiswanya gratis parkir, lewat UGM ya gratis. Kita bisa melihat, mana yang berpihak dengan wong cilik, dan mana yang kapitalis, materialistis.

Ingat UI berada di Depok yang dikuasai partai PKS. Dimana PKS menjanjikan STNK gratis dan SIM seumur hidup kalau menang, demi meringankan wong cilik. Dan PKS menang di Depok, Saudara2... Janjinya belum direalisasikan, tapi kebijakan di kawasannya malah memberatkan warga..

Lewat UI kok bayar, itu kampus atau Bonbin? 
Materialisme dibungkus peduli lingkungan.. Padahal banyak pohon ditebang untuk kawasan komersial, diantaranya bisnis kuliner. Ada kabar baru dari temen, formulir pendaftaran SIMAK UI, 1 juta. Sabaarr

#LizaNovijanti

Sumber : Status Facebook Liza Novijanti

Thursday, July 18, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: