Ucapan Alfatekah, Jangan Menilai Keislaman Orang dari Semacam Itu

Oleh : Muhammad Jawy

Buat kebanyakan orang, itu dianggap sebagai ketidakmengertian akan ucapan Al Fatihah. Malah ada yang menganggap, itu bukti nyata bahwa ia berpura-pura jadi muslim. Hari ini ada beberapa orang japri saya terkait hal ini. Saya dalam hati hanya tertawa, memang kalau orang sudah hasad, masalah apapun akan dijadikan bahan untuk hasad. Tidak perlu emosi ketemu sama orang seperti itu, saya justru kasihan kepada mereka yang tak lelah mencari bahan olokan.

Saya cuma sampaikan, Al Fatekah itu panggilan sayang terhadap Surat paling awal di Quran oleh sebagian orang Jawa di kampung. Apalagi mereka yang lahir sebelum 1990an, banyak yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan baca Quran yang baik. Saya saja yang tinggal di daerah pesantren, baru bisa baca Quran kelas 5 SD, berbeda dengan jaman anak saya yang gedhe TK sudah bisa baca Quran dengan lancar.

Kakek saya, tinggal di Bantul, termasuk generasi orang Jawa yang "telat" belajar Islam. Baru usia 50an beliau diajari oleh anak-anaknya tentang sholat, sehingga sekarang pun mengaji masih terpatah-patah. Ya bagaimana, karena memang kalau sudah berumur, belajar makhraj dan tajwid memang tidak mudah. Saya juga pernah mengajari mualaf orang Jerman, usia 50an, memang sangat luar biasa sulit, kalau dibandingkan dengan murid TPA saya yang baru TK-SD.

Tetapi, meski makhraj tidak sempurna, tajwid tidak menguasai, kecintaan terhadap Islam dan kepada Yang Menurunkan Islam tetaplah berkobar. Kakek saya, sekarang 90 tahun, tidak lepas dari sholat jama'ah lima waktu, di masjid kampung yang kebetulan beliau mewakafkan tanahnya. Yang beliau kalau menyebut, sama persis, Al Fatekah. Sebagaimana sebagian masyarakat lain ketika mengajak orang membacanya dalam berbagai kesempatan.

Mualaf Jerman yang saya ajari ngaji itu, pergi menempuh 60km pp di akhir pekan hanya untuk ketemu saya belajar Iqra, dan juga masih sulit sekali melafalkan huruf dengan makhraj yang baik.

Jadi ya monggo lah, kalau mau menilai hati orang, ke-Islaman orang dari hal-hal semacam ini. Kalau saya sih, enggak lah. Justru malah kuatir, kesombongan kita menganggap diri jauh lebih Islami, malah justru mendekatkan kita dengan perilaku iblis.

Wallahua'lam

 

Sumber : facebook Muhammad Jawy

Tuesday, October 9, 2018 - 04:45
Kategori Rubrik: