UAS di UGM, Melihat dari Sisi Lain

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Persoalan ‘ditolaknya UAS oleh Rektorat UGM’, dan kemudian diterima di UII, justeru dengan pemberitaan yang beredar, memang menunjukkan ‘agenda setting’ atau pun framing yang mau dibangun.

Kasusnya persis seperti model gerilya yang dilakukan oleh Jaffar Umar Thalib dulu, ketika bisa berkutbah di Masjid Gede Kauman (milik Kraton Yogya), dan isinya justeru menantang Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X. Cara gerilya ini mirip cara Ahmad Dhani yang ijinnya pentas, tapi isinya kampanye. Mirip juga Sudirman Said yang ijinnya juga acara akademik, tapi isinya politik. Begitu kena cekal atau dilarang, ngamuk-ngamuk soal demokrasi yang dikebiri.

 

Kasusnya akan berbeda jika kita juga mendengar penjelasan Prof. Heddy Shri Ahimsa Putra (Staf Pengajar Antropologi FIB UGM), yang dalam acara UAS di Masjid Kampus UGM kemarin mestinya sepanggung dengan UAS. Saya kutipkan penjelasan Prof. Heddy (11/10/2019) yang sebenarnya telah menyebar ke beberapa WAG (dengan mengubah cara penulisannya)

“Saya sudah menjelaskan ke panitia kemarin, bahwa saya tidak bersedia tampil karena ternyata saya hanya diminta memberi prolog untuk kuliah Ust. Somad. Sebelumnya saya dihubungi oleh Pak Arqom, Dekan Fak. Filsafat, saya diminta satu panel dengan Ust Somad dan saya diminta memberi materi tentang Paradigma Profetik (itu memang bidang saya), karena Pak Arqom berhalangan. Beliau sebetulnya orang yang lebih tepat untuk hadir..

Oleh karena itu adalah permintaan untuk berada di satu panel, maka saya mengira itu seminar dan topiknya juga tentang Islam dan Ilmu Pengetahuan. Bukan tabligh akbar. Jadi menurut saya tidak apa-apa, kerena itu topik ilmiah akademik.

Tapi kemudian saya dihubungi panitia dari Masjid Kampus UGM, bahwa saya diminta memberi prolog untuk ceramah Ust Somad. Lha saya lantas bilang ke panitia, bahwa saya tidak bersedia kalau memberi prolog. Tapi undangan sudah dikirim. Saya bilang sebaiknya diralat supaya tidak dikira membohongi publik. Panitia akan meralat sebisanya, dan panitia bisa menerima pengunduran diri saya.

Saya juga sudah bilang ke Pak Arqom, bahwa saya batal beri materi bersama Ust Somad karena itu ternyata bukan seminar, tapi kuliah umum, dan saya hanya menjadi "band pembuka". Hahaha, saya tidak mau. Jadi Insya Allah saya tidak akan hadir tanggal 12 Oktober 2019 dalam kuliah umum dari Ust Somad itu.

Sementara itu, penolakan acara UAS di Masjid Kampus UGM juga datang dari Alumni UGM dan Forum Madani. Tindakan Retorat UGM dalam penolakan UAS, dalam pers conference didasari pada sikap kewaspadaan UGM atas berkembangnya anasir-anasir paham radikalisme di kampus UGM, dan beberapa perkembangan peristiwa politik mutakhir.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Monday, October 14, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: